independennews.id — Neil Postman, dalam bukunya The End of Education (diterjemahkan bebas di Indonesia menjadi Matinya Pendidikan : Redefinisi Nilai-Nilai Sekolah, Guru, dan Siswa), dengan Tajam Mengkritik Wajah Pendidikan Modern. Menurutnya, Sekolah telah Kehilangan Jiwanya. Alih-alih Menjadi Ruang yang Menumbuhkan Kebebasan Berpikir, Kreativitas, dan Kedewasaan. Sekolah Justru Berubah Menjadi Institusi Pemaksa yang Membelenggu Siswa dengan “Ancaman, Paksaan, dan Tekanan”.
Postman mengingatkan kita bahwa Pendidikan seharusnya Tidak Melahirkan Generasi yang Tertekan, Apatis, dan Kehilangan Gairah Belajar. Sekolah Tidak Boleh Dipersepsi sebagai “Penjara Intelektual,” Guru tidak boleh menjadi “Sipir yang Mencari Kesalahan,” dan Siswa Tidak Seharusnya Merasa Pergi ke Sekolah hanya untuk Memenuhi Mewajiban yang Penuh Beban.
Kritik tersebut bukan sekadar Wacana Akademis, melainkan Cermin bagi Realitas Pendidikan Kita Hari ini. Masih Banyak Sekolah yang Menilai Keberhasilan Siswa semata-mata dari “Angka-angka” di Rapor, sementara aspek “Kemanusiaan, Karakter, dan Kebahagiaan mereka Terabaikan”. Akibatnya, Siswa belajar Bukan Karena Cinta Pengetahuan, melainkan karena “Takut Gagal, Takut Dijatuhi Hukuman, atau Takut Mengecewakan”.
Menghidupkanw Kembali Pendidikan : Tiga Redefinisi
Untuk keluar dari kondisi yang disebut Postman sebagai “Matinya Pendidikan,” Kita Perlu Keberanian untuk Melakukan Redefinisi Mendasar :
- Redefinisi Nilai Sekolah
Sekolah harus hadir sebagai Rumah Kedua yang memberi Rasa Aman, Nyaman, dan Penuh Dukungan. Sekolah bukan lagi ruang yang hanya mengajarkan kalkulus, rumus, atau hafalan, tetapi tempat yang Mendewasakan Cara Berpikir, Mengasah Empati, dan Menumbuhkan Rasa Percaya Diri. Pendidikan harus menyeimbangkan antara Kecerdasan Intelektual, Emosional, Sosial, dan Spiritual. - Redefinisi Peran Guru
Guru Bukan lagi Satu-satunya Sumber Kebenaran yang harus Dihafal Muridnya. Di Era Digital, Peran Guru berubah menjadi Fasilitator, Mentor, sekaligus Inspirator. Guru Perlu Hadir sebagai Sosok yang Membimbing, Mengarahkan, dan Menyemangati Siswa untuk Mencintai Belajar, bukan menakuti mereka. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” - Redefinisi Peran Siswa
Siswa bukan sekadar “Penerima Pengetahuan” Pasif, melainkan Subjek Aktif dalam Proses Belajar. Mereka Perlu Dibebaskan dari Belenggu Ancaman dan Tekanan, agar Tumbuh Menjadi Pribadi yang Mandiri, Kritis, Kreatif, serta Mampu Menghadapi Tantangan Zaman.
Pendidikan yang Membebaskan, Bukan Membebani
Opini Postman ini sangat relevan dengan konteks Indonesia saat ini. Pemerintah telah menggulirkan berbagai Program seperti Merdeka Belajar, Digitalisasi Sekolah, Makan Bergizi Gratis, hingga Wajib Belajar 13 Tahun. Semua Program tersebut hanya akan efektif apabila dijiwai oleh “Semangat Memanusiakan Pendidikan”.
Artinya, Kebijakan tidak boleh berhenti pada Pembangunan Gedung atau Kurikulum semata, tetapi harus Memastikan bahwa Sekolah Benar-benar Menjadi Ruang yang Membahagiakan bagi Siswa, Guru, dan Orang tua. Pendidikan Tidak Boleh Mati; “Ia Harus Hidup, Bernapas, dan Memberi Makna bagi Kehidupan”.
Jika Pendidikan Kita terus diperlakukan Sekadar sebagai Mekanisme untuk Mengukur Angka, maka benarlah apa yang dikatakan Postman : “Sekolah akan Mati, Guru Kehilangan Wibawa, dan Siswa Kehilangan Jiwa”. Tetapi bila Kita Berani Melakukan Redefinisi Nilai-nilai Sekolah, Guru, dan Siswa, maka “Niscaya Pendidikan akan Kembali Menjadi Obor yang Menerangi Jalan Peradaban Bangsa”.
Karena pada akhirnya, “Pendidikan Sejati” bukanlah tentang Mencetak Generasi yang Pandai Menghafal, melainkan “Generasi yang Berani Berpikir, Peduli Sesama, dan Siap Memimpin Masa Depan dengan Penuh Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica
