Opini oleh YM. Sjahrir Tamsi
independennews.id — Perayaan Hari Jadi Kabupaten Polewali Mandar ke-66 pada 29 Desember 2025 bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan momentum kolektif untuk meneguhkan jati diri Polman sebagai “Miniatur Keberagaman Nusantara”, tempat berbagai etnis, budaya, adat, dan profesi hidup berdampingan dalam harmoni yang telah tumbuh sejak masa Kerajaan-kerajaan du Tanah Malaqbi Mandar.
Tahun ini, suasana perayaan kembali dihidupkan dengan semangat kebersamaan. “Penerangan Kota” di berbagai sudut Polewali memperindah malam-malam jelang hari jadi yang menandai geliat kebahagiaan masyarakat menyambut usia baru daerah yang terus melaju dalam pembangunan. Di lingkungan Pemerintah Kabupaten Polman, berbagai “Lomba Internal”, termasuk pembacaan Pembukaan UUD 1945 dan Panca Prasetya Korpri, menjadi simbol penguatan komitmen aparatur untuk tetap setia pada nilai-nilai kebangsaan dan integritas pelayanan publik.
Lebih dari itu, Hari Jadi ini menjadi ruang refleksi tentang keberhasilan dan tantangan pembangunan, mulai dari “Percepatan Akses Digital, Penguatan Ekosistem Pemerintahan yang Bersih”, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia Polman agar mampu berdaya saing di tengah perubahan zaman.
Undangan untuk Semua: Polman sebagai Rumah Keberagaman
Pada puncak perayaan, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar sejatinya mengundang seluruh Elemen Masyarakat, termasuk para perwakilan 7 Kerajaan di Hulu Sungai (Pitu Ulunna Salu) dan 7 Kerajaan di Muara Sungai (Pitu Ba’bana Binanga), yakni dua poros sejarah besar yang membentuk peradaban di Tanah Malaqbi Mandar. Termasuk perlu dihadirkan berbagai komunitas lintas etnis, suku, agama, budaya, profesi, tokoh pemuda, mahasiswa, dan seluruh masyarakat sebagai bukti bahwa Polman adalah “Rumah Bersama”, tempat identitas lokal tumbuh seiring Penghormatan terhadap Keragaman.
Keberagaman itu bukan hanya kekayaan sosial, tetapi juga fondasi masa depan Polman. Di dalamnya tersimpan kearifan para leluhur, semangat solidaritas antarwarga, serta energi kreatif dari generasi muda yang semakin berperan dalam transformasi daerah.
“Polman Rumah Kita”: Lagu yang Menyatukan Rasa
Dalam semangat itulah lahir lagu “Polman Rumah Kita”, sebuah karya yang menggambarkan kebanggaan warga Mandar terhadap tanah pusaka. Liriknya memotret kekuatan budaya, keelokan alam, dan nilai-nilai luhur yang menjadi identitas Polewali Mandar.
“Dari pesisir hingga pegunungan, Polman digambarkan sebagai negeri yang jaya. Sandeq, perahu legendaris yang melintasi samudra, melambangkan keberanian. Lipaq Saqbe, kain tenun tradisional, menjadi simbol keluhuran budaya. Indoranuang yang sejuk serta Golla Kambu yang manis mewakili kehangatan dan keramahan masyarakat Mandar.
Reff-nya menegaskan satu hal:
Polman adalah Rumah Kita.
Rumah yang mempersatukan.
Rumah yang memberi jati diri.
Rumah yang harus dijaga dan dimajukan oleh seluruh warganya”.
Lagu ini bukan sekadar karya seni, tetapi juga “Manifesto Kultural, yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan cita-cita masa depan Polman yang Lebih Baik dan Sulbar yang Maju, dan Sejahtera.
Polman 66 Tahun: Momentum Konsolidasi Masa Depan
Usia 66 tahun adalah tonggak penting. Polman telah menempuh perjalanan panjang sebagai daerah yang dikenal subur, religius, berbudaya kuat, dan kaya inovasi sosial.
Namun tantangan ke depan membutuhkan sinergi lebih besar:
- Memperkuat ekonomi lokal yang berbasis pada UMKM, pertanian, dan bahari.
- Mempercepat digitalisasi pelayanan publik dan sektor ekonomi.
- Menguatkan pendidikan, karakter, dan integritas generasi muda.
- Mengharmonikan adat dan modernitas untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.
Di tengah semua itu, Keberagaman tetap menjadi Modal Sosial Paling Utama. Keberagaman yang tidak dipertentangkan, tetapi dirawat sebagai sumber kekuatan.
Polman Rumah Kita Selamanya
Dengan semangat Kebersamaan, Perayaan Hari Jadi ke-66 ini menegaskan bahwa Polewali Mandar bukan hanya wilayah geografis, tetapi “Ruang Batin” yang menyatukan seluruh warganya, termasuk yang di pesisir, di pegunungan, di kampung-kampung adat, di kota-kota, maupun di rantau.
Seperti bait terakhir lagu Polman Rumah Kita:
“Polman Jaya… Polman Berjaya…” dan Polman Lebih Baik.
Ia bukan sekadar ucapan, melainkan Doa dan Tekad yang harus terus dihidupkan.
Karena Polman adalah Rumah Kita.
Dan rumah yang baik selalu dijaga bersama.
Salam Keberagaman Nusantara dan Hormat Penuh Takzim dari Penulis : YM. Sjahrir Tamsi (Putra Asli Polewali Mandar. Pemerhati Pendidikan, Kebudayaan, Adat dan Nusantara).
Editor : Usman Laica.
