Oleh : Sjahrir Tamsi
(Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan)

Polewali Mandar, independennews.id — Di tengah masyarakat yang makin individualistik dan kompetitif, nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong perlahan mulai kehilangan tempatnya. Namun, di tanah Mandar, Sulawesi Barat, masih teguh berdiri sebuah nilai Budaya Orang Mandar yang menjadi suluh kehidupan sosial : “Sibaliparriq”.
Konsep ini bukan sekadar simbol adat, tetapi merupakan praktik hidup yang mengajarkan kesetaraan, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat luas.

Secara etimologis, kata “Sibaliparriq” berasal dari tiga unsur dalam bahasa Mandar : si- yang berarti saling, bali yang berarti jawab atau lawan, dan parriq yang berarti kesusahan. Maka, Sibaliparriq berarti “saling membagi kesusahan” atau “saling menanggung beban hidup.” Inilah inti solidaritas dalam Budaya Orang Mandar. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, semangat ini terus hidup dan mengakar dalam perilaku sosial masyarakat.

Di lingkup rumah tangga, nilai “Sibaliparriq” tercermin dalam hubungan suami-istri yang saling bantu dan setara dalam peran. Perempuan Mandar dikenal tidak hanya sebagai penjaga rumah tangga, tetapi juga turut serta aktif dalam sektor ekonomi : menjual hasil kebun, memasarkan ikan tangkapan suami, bahkan menjadi tulang punggung ketika suami melaut berhari-hari. Di sini, perempuan bukan subordinat, melainkan mitra sejajar.

Dalam masyarakat nelayan atau petani, kita juga melihat praktik “Sibaliparriq” dalam bentuk gotong royong : membuka lahan bersama, membantu panen, atau saling jaga anak saat satu keluarga tertimpa musibah. Hal-hal inilah menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai luhur lokal tidak pernah mati, hanya sering kali luput dari narasi besar pembangunan bangsa.

Lebih menarik lagi, “Sibaliparriq” ternyata sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dalam Surat An-Nahl ayat 97, Allah berfirman:
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, maka Kami pasti akan berikan kehidupan yang baik dan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”
Ayat ini menegaskan bahwa kesetaraan gender adalah bagian dari keadilan Tuhan. Tidak ada yang lebih mulia hanya karena jenis kelamin, tetapi karena amal dan keimanannya.

Dalam konteks berbangsa, “Sibaliparriq” bisa menjadi inspirasi untuk memperkuat solidaritas nasional.
Indonesia menghadapi tantangan besar : kesenjangan sosial, krisis empati, dan ketimpangan gender. Di sinilah peran budaya lokal menjadi penting. Alih-alih tergerus globalisasi, nilai-nilai seperti “Sibaliparriq” justru harus diarusutamakan dalam pembangunan karakter bangsa.

Maka dari itu, Pemerintah Daerah, Lembaga Pendidikan, dan Komunitas Adat perlu bersinergi untuk menghidupkan kembali narasi “Sibaliparriq”. Nilai ini bukan hanya warisan Orang Mandar, tetapi aset budaya Indonesia yang memiliki kekuatan transformatif : membentuk masyarakat yang lebih Adil, Inklusif, dan penuh semangat Kebersamaan.

Indonesia yang beradab dan berdaulat bukan hanya dibangun dari pusat kekuasaan, tetapi juga dari akar budaya lokal yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Dan “Sibaliparriq” adalah salah satu akarnya.

Catatan :
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili kebijakan institusi mana pun.

Polewali Mandar, 21 Juli 2025

By admin