Oleh. Safri Th., S.Pd.

Mamuju, independennews.id – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kembali menjadi momentum refleksi penting tentang peran pendidikan dalam membangun peradaban bangsa. Sosok Raden Ajeng Kartini dinilai tidak hanya sebagai tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga simbol keberanian intelektual dalam memperjuangkan hak belajar bagi seluruh manusia.

Hal tersebut disampaikan oleh Safri Th., S.Pd., yang menekankan bahwa perjuangan Kartini melampaui zamannya, terutama dalam menolak keterbatasan sosial yang menghambat akses pendidikan. Menurutnya, Kartini memandang pendidikan sebagai sarana pembebasan untuk memerdekakan pikiran sekaligus memuliakan martabat manusia.

Gagasan tersebut tercermin dalam karya terkenalnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, yang menegaskan pentingnya kecerdasan dan karakter sebagai fondasi kemajuan bangsa. Kartini, lanjutnya, tidak hanya berbicara tentang perempuan, tetapi juga tentang hak setiap individu untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Di era modern, semangat Kartini dinilai semakin relevan dalam konteks pemerataan akses pendidikan. Berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, hingga masyarakat, kini terlibat dalam upaya menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

“Semangat ‘habis gelap terbitlah terang’ hari ini bukan sekadar simbol, tetapi menjadi proses nyata dalam meningkatkan literasi, inovasi, dan penguatan karakter generasi bangsa,” ujarnya.

Namun demikian, ia juga menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pendidikan, seperti kesenjangan akses, kualitas pembelajaran, serta krisis nilai di tengah pesatnya perkembangan digital. Dalam situasi tersebut, pemikiran Kartini tentang pendidikan yang memanusiakan manusia dinilai tetap relevan.

Selain itu, Kartini juga menempatkan perempuan sebagai pilar utama dalam pendidikan keluarga. Ia meyakini bahwa ibu merupakan sekolah pertama bagi anak, sehingga perempuan berpendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang unggul dan berkarakter.

Peringatan Hari Kartini, menurut Safri, seharusnya tidak berhenti pada seremoni semata. Lebih dari itu, diperlukan langkah konkret dalam membuka akses pendidikan seluas-luasnya, menghapus hambatan sosial dan ekonomi, serta membangun budaya literasi di tengah masyarakat.

“Penghormatan terbaik kepada Kartini adalah dengan memastikan tidak ada lagi anak bangsa yang kehilangan kesempatan untuk belajar dan meraih cita-citanya,” tegasnya.

Ia menambahkan, semangat Kartini merupakan simbol keberanian untuk terus belajar dan berubah. Dengan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas, diharapkan cita-cita menuju Indonesia yang lebih adil, cerdas, dan beradab dapat terwujud.

Editor: YMT. Sjahrir Bintamsi

By admin