independennews.idMasyarakat Adat bukan sekadar pewaris tradisi masa lampau, melainkan Penyangga Peradaban dan Mitra Strategis bagi Negara dan atau Pemerintah dalam Membangun Masa Depan. Di tengah derasnya arus modernisasi, mereka hadir dengan Kearifan Lokal yang teruji lintas zaman. Inilah alasan mengapa Pemerintah Pusat maupun Daerah perlu terus membuka ruang dialog, melibatkan Masyarakat Adat, dan mengakui keberadaan mereka sebagai Pilar Pembangunan Indonesia.

Masyarakat Adat memegang pengetahuan mendalam tentang alam semesta di sekitar mereka. Hutan, Sungai, Laut, dan Tanah bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga ruang hidup yang sarat nilai spiritual. Pengetahuan Lokal ini adalah “Harta Karun” yang tak ternilai, terlebih di era krisis iklim dan degradasi lingkungan. Presiden RI ke-7, Joko Widodo pernah menegaskan : “Negara tidak boleh abai terhadap Masyarakat Adat, sebab mereka adalah Bagian Penting dari Sejarah dan Masa Depan Bangsa.”

Lebih dari itu, Masyarakat Adat adalah Penjaga Budaya dan Identitas Bangsa. Tradisi, Bahasa, dan Ritual mereka bukan hanya warisan, melainkan sumber inspirasi untuk Memperkaya Kebangsaan Indonesia. Dalam pusaran globalisasi yang kerap menyeragamkan, Masyarakat Adat berdiri teguh sebagai pengingat bahwa keberagaman adalah Kekuatan, bukan kelemahan. Seperti dikatakan Bung Karno : “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang tidak melupakan Sejarah dan Budayanya.” Kalimat ini menemukan makna sejatinya dalam kehidupan Masyarakat Adat yang menjaga Akar Peradaban di bumi Nusantara.

Mara’dia Balanipa ke-55, Arajang Binuang Mandar XVIII, Mara’dika Mamuju ke-17, dan Tomakaka Adaq Jambu Cappa Bate Dara’ ke-3

Keterlibatan Masyarakat Adat dalam pembangunan juga bermakna demokratisasi yang sejati. Mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, suara mereka harus dihargai. Tanpa itu, pembangunan rawan menjadi proyek elitis yang tercerabut dari akar kebutuhan rakyat. Sebaliknya, dengan melibatkan Masyarakat Adat, pembangunan akan lebih Inklusif, menghormati Hak-hak mereka, dan menjamin Keadilan Dosial sebagaimana Amanat Konstitusi.

Kita belajar dari beberapa contoh nyata. Di Papua, Pemerintah Melibatkan Tokoh Adat dalam menyusun program pembangunan yang berlandaskan Kearifan Lokal. Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) bekerja sama Mengintegrasikan Peta Wilayah Adat ke dalam sistem resmi, sebagai bentuk pengakuan negara atas ruang hidup Masyarakat Adat. Di Gorontalo, Lembaga Adat dipercaya menjadi Mitra Pemerintah dalam melestarikan tradisi dan menjaga Harmoni Sosial.

Sebagaimana Ketua Dewan Adat Tangnga Bate Arajang Binuang Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, YM. H. Hasan Dalle pernah berpesan : “Adat bukan sekadar aturan, tetapi Nafas Hidup. Bila Adat hilang, maka hilanglah jiwa masyarakat itu.” Selanjutnya terdapat Ungkapan dalam Bahasa Pattae : Siadaq, Siampe, Sitangnga’, Siakka’. Artinya Saling Menghargai, Beretika atau Berperilaku yang Baik (Sopan dan Santun), dan Saling Pengertian, Sepaham atau Sepakat. Hal ini dibuktikan dengan “Kerja Sama” yang Harmonis antara Masyarakat Adat atau Perangkat Adatnya yakni para YM. Tomakaka Adaq dengan para Kepala Desa/Lurah yang ada di wilayah Adat Tangnga Bate, Arajang Binuang Mandar, Provinsi Sulawesi Barat.

Kini, yang dibutuhkan adalah Penguatan, Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat. Bukan sekadar dalam dokumen hukum, tetapi diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak pada keberlanjutan hidup mereka. Negara tidak boleh memandang Masyarakat Adat sebagai kelompok pinggiran, melainkan sebagai Pusat Kebijakan Pembangunan yang Berkeadilan.

Masyarakat Adat adalah Cermin Keindonesiaan yang sesungguhnya. Mereka mengajarkan kita bahwa membangun bangsa bukan sekadar mendirikan Gedung dan Jalan, melainkan “Merawat Tanah, Menghormati Leluhur, dan Menjaga Warisan Budaya”.

Maka, mari kita teguhkan komitmen : Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan, Inklusif, dan Berkeadilan hanya akan terwujud jika Masyarakat Adat benar-benar menjadi bagian dari denyut nadi kebijakan. Tanpa mereka, pembangunan kehilangan akar. Bersama mereka, Indonesia akan Tumbuh lebih Kokoh, Berdaulat, dan Bermartabat.

Salam Budaya..!
Merdeka..!

Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin