Novel, Karya : YM. Sjahrir Tamsi
Seri 1. Senandung di Balik Senja.
Mentari sore menepi perlahan di balik “Buttu Ciping,” melukis langit dengan rona jingga yang lembut.
Di halaman rumah panggung bergaya Mandar tua, nampak seorang lelaki tampan dengan tatapan jauh, indah gayanya sedap dipandang mata. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan gelombang kenangan. Dia adalah Yang Mulia (YM) Sjamsi, cucu dari garis keturunan Tomakaka Adaq Jambu, di wilayah Cappa Bate Dara’ dan merupakan bagian dari salah satu kerajaan terbesar di tanah Mandar yang kini mulai membahana di tengah zaman.
Di tangannya tergenggam sebuah surat lama, dengan tulisan tangan halus beraroma kayu cendana. Surat itu dari Yang Mulia (YM) Mirah, perempuan yang bukan hanya mengisi hatinya, tapi juga menenangkan jiwanya.

Seri 2. Pertemuan di Arena Festival.
Mereka pertama kali bertemu di arena Festival Seni Budaya yang diselenggarakan oleh UPTD Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Barat. Perayaan Adat dari 14 kerajaan yang beraliansi dalam Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’bana Binanga.
YM. Mirah tampil anggun dalam balutan busana adat berwarna burgundy, sementara YM. Sjamsi tampil elegan memakai jas berwarna merah, songkok passapu dan sarung bercorak khas daerah menyesuaikan dengan jabatannya sebagai Tomakaka Adaq Jambu dan Tokoh Pendidikan, Seni dan Budaya. ia datang memenuhi undangan dari penyelenggara kegiatan festival.
Tatapan pertama di antara mereka memunculkan getar yang dalam. Seiring percakapan demi percakapan, mereka menemukan bahwa cinta dapat tumbuh bahkan dari dua dunia yang berbeda.

Seri 3. Ujian di Tengah Waktu.
Perbedaan adat, tuntutan keluarga, dan peran politik membuat kisah mereka tak mudah.
YM. Mirah sempat dijodohkan dengan putra raja tetangga, sementara YM. Sjamsi diminta memimpin sebuah lembaga adat.
Namun mereka memilih cinta, bukan kuasa dan kekuasaan. Mereka memilih jalan sunyi tapi jujur : meninggalkan segalanya untuk membangun kehidupan mahligai rumah tangga yang sederhana yang dibina atas dasar cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan, sama seperti sebuah istana yang indah dan kokoh.

Seri 4. Hidup Terindah.
Di pinggir sungai Dara’, mereka membangun rumah panggung bergaya Mandar tua yang sederhana dan minimalis.
Setiap pagi, YM. Mirah menyeduhkan teh manis dan kue kering isi selai nanas (kue “nastar” namanya) buah tangannya, dia duduk di Sebuah kursi panjang tampak elegan, bahannya terbuat dari batang pohon kelapa yang sudah tua menjadi saksi bisu rutinitas pagi pasangan ini. YM. Sjamsi duduk santai, menikmati kesejukan udara pagi. Sementara itu, Permaisuri, YM. Mirah tampil sibuk menyiram tanaman bunga Mawar dan Kamboja atau Semboja adalah sekelompok tumbuhan dalam genus Plumeria. Bentuknya berupa pohon kecil dengan daun jarang namun tebal. Memiliki bunga yang harumnya sangat khas, dengan mahkota berwarna putih hingga merah keunguan, biasanya lima helai. Sementara jenis akarnya serabut dan tekstur bunganya tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus yang baru mekar di sudut taman.
“Harumnya semerbak bikin rileks ya, Sayang,” ujar YM. Mirah sambil tersenyum, menyapa suaminya dengan penuh kasih sayang.
YM. Sjamsi mengangguk sambil menghirup aroma bunga Mawar dan Kamboja yang menyegarkan. “Benar, Sayang.
Cinta mereka tak lagi bising, tapi dalam. Tak lagi bergelora, tapi tenang.
Mereka membuktikan : hidup terindah bukan tentang gelar, harta, atau pesta. Tapi tentang cinta yang saling menjaga.

Seri 5. Kembali ke Kampung Halaman.
Suatu hari, utusan dari salah satu Kerajaan datang. Raja yang baru, meminta YM. Sjamsi pulang untuk menjadi penasehat adat. Awalnya, YM. Sjamsi menolak, namun YM. Mirah membujuknya menerima, demi mewariskan nilai luhur, melestarikan kearifan lokal dan adat istiadat kepada generasi baru masa depan penuh harapan yang cemerlang.
Mereka kembali ke kampung halamannya. Tapi kali ini, tidak sebagai bangsawan yang mencari kuasa dan kekuasaan, melainkan sebagai sepasang jiwa yang membawa harapan, teladan dan nilai kasih yang beradab, sopan dan santun. Membaktikan diri mereka, tenaga dan pikirannya untuk kemaslahatan umat yang dapat bermanfaat di tengah masyarakat.

SERI 6. Surat Cinta.
Tahun demi tahun berlalu. Saat usia keduanya menua dan memasuki masa purnabakti, Permaisuri, YM. Mirah dalam pelukan mesra sang Tomakaka Adaq Jambu, YM. Sjamsi, ia meraih “Ponselnya” menulis pada aplikasi Samsung Notes berisi Pesan, beberapa bait Pantun, Puisi dan dua buah Lagu tentang “Hidup Terindah” yang mereka jalani berdua selama hidup bahagia bersama dalam harmoni cinta yang tulus dan abadi :
“Kanda, YM. Sjamsi : hidup terindah adalah bersamamu… bukan karena dunia mengakuinya, tapi karena kita menjalaninya dengan penuh cinta yang tulus dan ikhlas…”
Pantun Harmonis bertema “Hidup Terindah” menggambarkan keindahan hidup yang penuh cinta, makna, dan kebersamaan :
1. Pagi cerah mentari berseri,
Burung bernyanyi di dahan tinggi.
Hidup terindah saat berbagi,
Bukan memiliki, tapi mengerti hati.
2. Bunga melati harum mewangi,
Tumbuh indah di taman asri.
Hidup terindah bukan sendiri,
Namun saat hati saling peduli.
3. Perahu kecil mengayuh tenang,
Menyusuri danau tanpa halang.
Hidup terindah bukan tentang menang,
Tapi tetap setia meski tak senang.
4. Langit senja memerah lembut,
Angin berbisik menyapa kalbu.
Hidup terindah saat bersambut,
Saling mengasihi, saling merindu.
5. Petik gitar di malam sepi,
Nada bergetar, menyentuh hati.
Hidup terindah bukan janji,
Tapi hadir di kala sunyi.
Sebuah Puisi merangkai makna kehidupan melalui sentuhan rasa, cinta dan kebersamaan :
“HIDUP TERINDAH”
Hidup terindah bukan saat kita dimiliki,
Namun saat hati memilih untuk saling mengerti.
Bukan dalam limpahan harta atau gemerlap pujian,
Melainkan pada ketulusan yang hadir tanpa alasan.
Bukan tentang siapa paling dulu memberi,
Tapi tentang siapa yang tetap tinggal saat badai menghampiri.
Di balik luka yang tak terlihat mata,
Ada cinta yang tak lelah menjaga.
Hidup bukan tentang sempurna yang semu,
Namun kesediaan menumbuhkan harapan baru.
Menemani langkah meski tertatih,
Menguatkan jiwa meski tak terlihat jelas di permukaan.
Hidup terindah ada dalam senyum sederhana,
Saat lelah diredakan oleh pelukan yang nyata.
Dalam doa-doa yang tak terdengar,
Namun dikirimkan dengan hati yang sabar.
Bukan karena dunia bersinar terang,
Tapi karena kita belajar menjadi pelita dalam kelam.
Bukan karena selalu bahagia,
Tapi karena memilih setia di antara luka.
Hidup terindah adalah ketika cinta tak harus diminta,
Namun tumbuh karena saling percaya.
Ketika dua hati berteduh dalam satu makna :
Menjadi rumah… satu untuk yang lain, selamanya…
Tercipta dua buah lagu :
Sebuah lirik lagu mengenang kebersamaan yang hakiki :
HIDUP TERINDAH
Bukan karena aku kau cintai
Bukan karena kau beri segalanya
Namun karena kita saling mengerti
Di tengah luka, tetap saling peluk jiwa
Tak perlu janji yang sempurna
Cukup hadir dalam susah dan bahagia
Bersamamu aku tahu arti
Bahwa cinta itu saling memberi
Tak selamanya langit cerah
Namun cintamu jadi pelita
Saat aku rapuh kau tetap ada
Menguatkan langkah, merajut asa
Hidup terindah bukan saat aku dicintai
Tapi saat kita saling mengasihi
Tanpa pamrih, tanpa harus dimengerti
Hanya rasa yang tumbuh dari hati
Hidup terindah bukan tentang memiliki
Tapi berjalan bersama dalam harmoni
Dalam diam kita saling memahami
Itulah cinta… sejati
Reff.
Hidup terindah bukan saat aku dicintai
Tapi saat kita saling mengasihi
Tanpa pamrih, tanpa harus dimengerti
Hanya rasa yang tumbuh dari hati
Hidup terindah bukan tentang memiliki
Tapi berjalan bersama dalam harmoni
Dalam diam kita saling memahami
Itulah cinta… sejati
Meski waktu memudar usia
Cinta kita tak akan sirna
Selama hati saling setia
Kita abadi… kita bermakna
Hidup terindah… adalah kamu dan aku
Saling menjaga, bukan saling menunggu
Tak harus sempurna, cukup setia
Itulah cinta… kita
Hidup terindah…
Saat kita… saling mengasihi…
Berikut lirik Lagu romantis bernuansa Islami, menyambut 1 Muharram 1447 H, berjudul “Hidup Terindah”. Lagu ini menggabungkan semangat hijrah, cinta yang suci, dan syukur atas waktu yang Allah berikan kepada kami berdua.
“HIDUP TERINDAH”
By. YM. Sjahrir Tamsi
Mentari pagi menyapa jiwa
Awal Muharram membuka cerita
Tahun berganti, hati pun bersuara
Tentang cinta, tentang makna yang nyata
Kau hadir bukan sekadar takdir
Tapi rahmat yang Allah hadirkan
Kita bertemu dalam cahaya zikir
Menjalani hidup penuh keimanan
Langit Muharram penuh harapan
Kubersyukur atas nikmat Tuhan
Bersamamu, setiap detik menjadi pesan
Bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan…
Reff.
Hidup terindah… saat cinta terikat ridha-Nya
Bukan hanya saling setia, tapi saling bimbing ke surga..
Hijrah ini bukan hanya untuk hari
Tapi untuk selamanya, dalam cinta Ilahi
Hidup terindah… saat cinta terikat ridha-Nya
Bukan hanya saling setia, tapi saling bimbing ke surga
Hijrah ini bukan hanya untuk hari
Tapi untuk selamanya, dalam cinta Ilahi
Hidup terindah… saat kita saling memahami
Menyatukan doa dalam langkah yang hakiki
Bersamamu, aku lebih mengerti
Bahwa cinta sejati… adalah jalan menuju-Nya yang abadi
Jika cinta ini diuji
Kita jadikan sabar sebagai bukti
Jika jarak pernah hadir di sini
Kita dekatkan hati lewat sujud tiap hari
Hidup terindah… sejati.. adalah jalan menuju-Nya yang abadi…
Jika cinta ini diuji
Kita jadikan sabar sebagai bukti
Jika jarak pernah hadir di sini
Kita dekatkan hati lewat sujud tiap hari
Hidup terindah… saat cinta bernapas syukur
Tak perlu banyak kata, cukup Allah yang jadi pengukur
Hijrah kita tak hanya untuk dunia
Tapi untuk cinta yang dibawa sampai Jannah-Nya….
Selanjutnya, YM. Mirah dan YM. Sjamsi tetap tinggal di Cappa Bate Dara’, wilayah salah satu kerajaan tersohor, Sulawesi Barat untuk mengajarkan nilai hidup sederhana dan mengasihi kepada anak muda harapan masa depan bangsa yang maju dan sejahtera.
Makassar, 1 Muharram 1447 H / 27 Juni 2025 M.
Editor : Usman Laica.
