independennews.id — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang dipenuhi ambisi dan perlombaan meraih dunia, sebuah kalimat sederhana namun penuh makna mengajak kita merenung: “Mengapa kita terlalu cinta pada sesuatu yang sebenarnya tempat pengasingan?”
Pernyataan ini seolah menjadi cambuk halus bagi mereka yang tenggelam dalam gemerlap dunia, seakan dunia adalah akhir dari segalanya. Padahal, dalam narasi penciptaan manusia, dunia bukanlah tempat utama. Ia hanyalah persinggahan — tempat diturunkannya Nabi Adam setelah tergelincir dari surga.
Pemahaman ini mengingatkan kembali bahwa dunia bukan anugerah sepenuhnya, melainkan ujian yang dibungkus dalam bentuk kenikmatan. Harta, cinta, kekuasaan — semua adalah bagian dari daya tarik dunia yang bisa meninabobokan jiwa jika tidak disikapi dengan bijak.
Refleksi ini tidak bermaksud untuk mengajak membenci dunia. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa dunia hanyalah alat, bukan tujuan. Terlalu mencintai yang fana bisa membuat kita lupa pada hakikat hidup: kembali, bukan menetap.
Dalam era yang serba cepat dan kompetitif ini, perenungan semacam ini menjadi penting. Ia mengajak masyarakat untuk menyeimbangkan pencapaian duniawi dengan kesadaran spiritual. Sebab hidup sejatinya bukan tentang siapa yang paling banyak mengumpulkan, tetapi siapa yang paling sadar akan arah pulang.
Reporter: [Rid]
Editor: Usm)]
Sumber: Renungan Islami & Refleksi Spiritualitas
