Jakarta, independennews.id – Harga emas dunia mengakhiri pekan lalu di level US$ 3.241 per troy ounce, namun perhatian pasar kini terfokus pada level resistensi krusial di US$ 3.268. Level ini dinilai sebagai titik penentu arah harga berikutnya, di tengah pekan yang dipenuhi data ekonomi Amerika Serikat dan keputusan kebijakan suku bunga dari Federal Reserve.
Menurut laporan The Economic Times, Sabtu (3/5), tekanan terhadap emas muncul akibat data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan, serta membaiknya sentimen perdagangan antara AS dan China. Meski demikian, analis memperingatkan bahwa volatilitas tinggi bisa kembali mewarnai pasar dalam beberapa hari ke depan.
Secara teknikal, emas (XAU/USD) kini diperdagangkan tepat di bawah area resistensi utama US$ 3.268, yang bertepatan dengan garis tren menurun dan Exponential Moving Average (EMA) periode 50—dua indikator penting yang digunakan untuk memprediksi arah pergerakan jangka pendek.
“Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas US$ 3.268, maka potensi kenaikan lanjutan terbuka menuju US$ 3.275 dan US$ 3.295,” tulis laporan tersebut. Namun, para analis mengingatkan agar investor menunggu konfirmasi penutupan harga sebelum mengambil posisi, mengingat risiko volatilitas masih tinggi.
Di sisi bawah, level support terdekat berada di US$ 3.231, diikuti oleh support berikutnya di US$ 3.204. Meskipun indikator MACD masih menunjukkan sinyal bearish, terdapat indikasi bahwa tren pelemahan mulai mereda—membuka peluang pembalikan arah dalam waktu dekat.
Strategi Perdagangan Populer
Banyak pelaku pasar kini mencermati strategi berikut:
Titik Masuk: Penembusan dan penutupan yang dikonfirmasi di atas US$ 3.268 Target: US$ 3.275 sebagai target awal, lalu US$ 3.295 Stop Loss: Ditempatkan tepat di bawah US$ 3.231
Meski demikian, batas atas harga emas untuk saat ini masih diperkirakan berada di kisaran US$ 3.500. Level tersebut cenderung sulit ditembus selama sentimen risiko pasar tetap tinggi, didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik dan kejutan positif dari indikator ekonomi global.
Kecuali muncul sinyal dovish yang kuat dari The Fed atau rilis data ekonomi yang mengecewakan, para analis memperkirakan emas akan kesulitan menembus level psikologis tersebut dalam waktu dekat. Namun, perubahan kecil dalam kondisi makroekonomi bisa menjadi katalis untuk reli baru emas.
“Sampai saat itu tiba, emas masih berada di persimpangan jalan—terjepit antara fundamental AS yang kokoh, inflasi yang mulai mendingin, dan sikap hati-hati dari bank sentral,” tulis The Economic Times. (US)
