independennews.id – Harga kelapa bulat terus mengalami lonjakan drastis di pasar tradisional Indonesia. Kini, harganya menembus angka Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per butir, jauh melampaui harga normal yang sebelumnya berkisar antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per butir.
Ketua Harian Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), Rudy Handiwidjaja, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini telah terjadi sejak pertengahan tahun 2024. “Di pasar tradisional sudah semahal itu. Dari Rp 8.000, naik perlahan hingga kini mencapai Rp 25.000 sampai Rp 30.000,” ujar Rudy, Sabtu (3/5).

Menurut Rudy, penyebab utama melonjaknya harga kelapa adalah dampak dari musim kemarau panjang akibat El Nino yang terjadi tahun lalu. Kondisi ini membuat banyak bakal buah kelapa rontok sebelum sempat berkembang, sehingga pasokan menyusut tajam.
Selain faktor cuaca, meningkatnya permintaan dari pasar global juga memperparah situasi. Negara-negara seperti China, Filipina, Thailand, hingga Malaysia gencar mengimpor kelapa dari Indonesia, yang dinilai masih memiliki harga kompetitif. Apalagi, gaya hidup sehat yang meningkat di berbagai negara turut mendorong konsumsi produk turunan kelapa.
“Mereka akan beli dari Indonesia, berapa pun harganya. Karena itu terasa sekali di industri dalam negeri dan juga bagi konsumen di pasar tradisional,” tambah Rudy.
Sayangnya, ekspor kelapa dari Indonesia masih dilakukan tanpa pembatasan kuota atau pungutan pajak ekspor. Menurut Rudy, hal ini membuat sebagian besar pasokan kelapa lebih memilih dijual ke luar negeri, sehingga dalam negeri kekurangan.

“Satu-satunya negara yang masih membolehkan ekspor kelapa secara bebas itu hanya Indonesia. Ini menyebabkan kelapa bulat kita banyak lari ke luar negeri tanpa nilai tambah bagi industri lokal,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Anggota Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI), Sutomo. Ia menyebutkan harga kelapa di tingkat petani juga naik menjadi Rp 5.000–6.000 per butir. Selain El Nino, menurunnya produktivitas akibat banyak pohon kelapa tua turut mempersempit pasokan.

Di sisi lain, lonjakan permintaan dunia terhadap produk turunan kelapa seperti VCO, minyak MCT, tepung kelapa, dan air kelapa memperburuk situasi. Importir dari negara seperti Vietnam dan China memborong kelapa Indonesia demi memenuhi kebutuhan konsumen mereka.
Sebagai solusi, Sutomo mendorong pemerintah untuk segera memperkuat hilirisasi industri kelapa dalam negeri. Ia menekankan pentingnya memberdayakan petani melalui model bisnis efisien di tingkat desa, bukan menyerahkan pengolahan kepada investor besar.

“Model usaha tani berbasis desa yang saling menopang dalam bentuk holding industri kecil akan meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya logistik, dan langsung menyentuh kesejahteraan petani,” pungkasnya. (US)
