independennews.id — Lagu “Jasa Guru” karya Nida Ria bukan sekadar rangkaian lirik bernuansa nostalgia, melainkan cermin jujur tentang hakikat profesi profesional Guru yang sesungguhnya: melahirkan manusia-manusia yang menggerakkan peradaban. Kiai, Insinyur, Profesor, Dokter, hingga Sarjana, mereka semua bermula dari tangan seorang Guru. Namun ironi muncul ketika jasa yang begitu besar justru kerap dilupakan dalam praktik kehidupan berbangsa.
Lirik lagu ini dengan sederhana namun kuat menegaskan satu pesan utama: Guru tidak pernah menuntut balasan. Mereka tidak menunggu pujian, apalagi sanjungan. Yang dipanjatkan hanyalah doa agar ilmu yang diberikan menjadi cahaya, tidak hanya bagi individu yang diajar, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungannya. Di titik inilah Guru berdiri sebagai pondasi moral dan intelektual bangsa.
Namun, realitas Guru hari ini jauh dari romantisme lirik lagu tersebut. Di tengah narasi besar tentang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, banyak Guru justru hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Diskriminasi terhadap profesi profesional Guru, terutama Guru honorer, masih menjadi luka terbuka dalam Sistem Pendidikan Nasional Kita. Ketika profesi lain memperoleh pengakuan finansial, jaminan karier, dan perlindungan hukum yang jelas, tidak sedikit Guru justru harus bertahan dengan penghasilan minim, status kerja yang tidak pasti, serta beban administrasi yang kian memberatkan.
Lebih miris lagi, dedikasi Guru sering kali dihadapkan pada ketidakadilan struktural. Ada Guru yang puluhan tahun mengabdi tanpa kepastian pengangkatan, ada pula yang harus menghadapi persoalan hukum hanya karena menjalankan fungsi mendidik dan mendisiplinkan Peserta didiknya. Dalam kondisi seperti ini, makna “Tak Pernah Goyah Iman di Dada” dalam lirik lagu bukan lagi sekadar metafora, melainkan kenyataan pahit yang harus dijalani dengan kesabaran luar biasa.
Padahal, tanpa Guru, tidak akan pernah lahir profesi-profesi yang hari ini dianggap prestisius. Negara boleh saja membangun gedung megah, jalan tol, dan teknologi canggih, tetapi tanpa Guru yang bermartabat dan sejahtera, semua itu kehilangan ruh kemanusiaannya. Guru bukan hanya pengajar ilmu, melainkan pembentuk karakter, penanam nilai, dan penjaga akal sehat bangsa.
Opini ini tidak dimaksudkan untuk mengagungkan Guru secara retoris semata, tetapi untuk mengajak semua pihak, yaitu Pemerintah, Masyarakat, dan Pemangku Kepentingan, untuk segera melakukan refleksi serius.

Sudahkah Guru diperlakukan secara adil dan bermartabat?

Sudahkah profesi profesional Guru ditempatkan setara dengan profesi lain yang lahir dari jasa mereka?

Lagu “Jasa Guru” seharusnya tidak hanya dinyanyikan pada peringatan Hari Guru atau acara seremonial. Ia mesti menjadi pengingat moral kolektif bahwa menghormati Guru bukanlah basa-basi, melainkan tanggung jawab kebangsaan. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mengenang jasa Gurunya, tetapi bangsa yang sungguh-sungguh memuliakan kehidupan para Guru itu sendiri.

Salam hormat penuh takzim.
Penulis: YMT. Sjahrir Tamsi.

By admin