independennews.id — Penobatan Tomakaka Adaq Jambu III Cappa Bate Dara di Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, yang berlangsung beberapa waktu lalu, bukanlah peristiwa seremonial biasa. Ia merupakan sebuah momentum sakral sekaligus monumental, yang memiliki makna mendalam dalam konteks pelestarian adat, penguatan identitas budaya, dan kesinambungan sejarah masyarakat adat Mandar.

Sakralitas Ritual Adat dan Penghormatan Leluhur

Dari sisi sakralitas, penobatan Tomakaka adalah ritual adat yang penuh nilai spiritual, sarat makna simbolik, dan dilaksanakan dengan tata cara yang diwariskan turun-temurun. Prosesi ini tidak sekadar menandai pergantian kepemimpinan adat, tetapi juga menjadi wujud penghormatan kepada leluhur, peneguhan nilai-nilai kearifan lokal, serta pengukuhan amanah sosial dan moral yang melekat pada diri seorang Tomakaka.
Dalam tradisi Mandar, Tomakaka bukan hanya pemimpin struktural adat, melainkan figur sentral yang mengemban tanggung jawab besar: menjaga harmoni sosial, menegakkan keadilan berbasis adat, serta memastikan nilai-nilai luhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, prosesi penobatan dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, kesungguhan batin, dan rasa takzim yang mendalam.

Monumentalitas Sejarah dan Identitas Kolektif

Secara monumental, penobatan Tomakaka Adaq Jambu III menandai keberlanjutan sejarah dan identitas adat Jambu. Ia menjadi penegasan bahwa lembaga adat tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, melainkan terus hidup dan berfungsi sebagai fondasi sosial budaya masyarakat.
Momentum ini memperlihatkan komitmen kolektif masyarakat adat Jambu dalam menjaga struktur sosial, sistem nilai, dan kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, keberlanjutan adat seperti ini justru menjadi jangkar identitas, sekaligus penopang karakter bangsa yang berakar kuat pada budaya sendiri.

Peran Strategis Tomakaka di Era Modern

Tomakaka Adaq Jambu III Cappa Bate Dara memegang peran strategis sebagai pengayom masyarakat adat, pemutus perkara adat, serta jembatan antara nilai tradisi dan realitas modern. Keberadaannya menjadi simbol keseimbangan antara pelestarian budaya dan keterbukaan terhadap perubahan.
Dalam konteks pembangunan daerah, peran Tomakaka tidak bertentangan dengan sistem pemerintahan modern, justru saling menguatkan. Nilai-nilai adat yang menjunjung musyawarah, keadilan sosial, dan keharmonisan hidup dapat menjadi fondasi etis bagi pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadaban.

Sinergi Tokoh Adat, Pemerintah, dan Akademisi

Penobatan ini memperoleh apresiasi luas dari berbagai elemen. Kehadiran perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Polewali Mandar melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga menunjukkan adanya pengakuan dan dukungan negara terhadap eksistensi lembaga adat.
Apresiasi juga disampaikan oleh Dewan Adat Tallu Bate: Ketua Dewan Adat Ulu Bate Ma’dika Mirring YM. H. Alim Intoyo, Ketua Dewan Adat Tangnga Bate Tomakaka Biru YM. H. Hasan Dalle, serta Ketua Dewan Adat Cappa Bate Tomakaka Dara YM. Nukmang H. Abdul Rasyid, menjadi saksi sejarah bersama para tokoh adat lainnya, Arung Malolo, YM. Andi Herman, Arung Tonyamang, YM. Andi Aslam A.M, S.H., Arung Kalawa, YM. Andi Lidar, Arruan Batu Tapango, YM. Andi Ilham Hambali dan Tomakaka Adaq dari berbagai wilayah Mandar, serta perwakilan Arayang Balanipa ke-55 bersama Ketua Lembaga Adatnya, YM. Drs. H.M. Najib Abdullah Madjid, M.M. dan Puang Lembang Matoa, YM. M. Dayan H. Djahjaddin dan sejumlah keluarga besar dari Peppuangan Biring Lembang.
Dukungan lintas sektor—akademisi perguruan tinggi, pimpinan satuan pendidikan, tokoh agama, insan pers, hingga perangkat adat, hal ini menegaskan bahwa pelestarian adat adalah tanggung jawab bersama, bukan semata urusan komunitas adat tertentu.

Resonansi Lintas Nusantara dan Lintas Bangsa

Respons positif juga mengalir dari berbagai daerah dan mancanegara melalui media sosial. Ucapan selamat dan dukungan datang dari tokoh adat, pemerhati budaya, kerajaan dan kesultanan Nusantara, tokoh pendidikan, serta sahabat dan kerabat dari dalam dan luar negeri, termasuk dari Singapura dan Malaysia.
Resonansi lintas wilayah ini menunjukkan bahwa penobatan Tomakaka Adaq Jambu III telah melampaui batas lokal, menjadi peristiwa kebudayaan yang bermakna secara nasional bahkan internasional, serta memperkuat semangat Keberagaman Nusantara.
Suasana semakin bermakna dengan hadirnya apresiasi khusus berupa karangan bunga istimewa dari anak-anak dan cucu-cucu YMT. Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd., sebagai simbol cinta, doa, dan kebanggaan keluarga, yakni sebuah sentuhan humanis yang memperkaya makna peristiwa adat ini.

Penobatan Tomakaka Adaq Jambu III Cappa Bate Dara adalah pengingat bahwa adat dan budaya bukan sekadar warisan, melainkan amanah yang harus dirawat, dijaga, dan dihidupkan bersama. Ia memperkuat ikatan emosional dan kultural masyarakat adat, sekaligus memperkaya mosaik kebudayaan Indonesia yang beragam.
Dalam semangat itulah, pelestarian lembaga adat seperti Tomakaka Adaq menjadi bagian penting dari upaya menjaga jati diri bangsa—bangsa yang besar bukan karena melupakan akarnya, tetapi karena mampu meneguhkan nilai leluhurnya di tengah dinamika zaman.

Salam Keberagaman Nusantara
dan Hormat Penuh Takzim.
Penulis: Yang Mulia Tomakaka (YMT) SJAHRIR TAMSI
Editor: Usman Laica.

By admin