independennews.id — Edukasi adalah proses pembelajaran yang komprehensif untuk mengembangkan potensi diri (pengetahuan, keterampilan, sikap) seseorang atau sekelompok orang, baik secara formal (sekolah), non-formal (pelatihan), maupun informal (keluarga, pengalaman), bertujuan meningkatkan kecerdasan, mengubah perilaku menjadi lebih baik, membentuk karakter, serta membekali individu untuk berkontribusi positif di masyarakat.

Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan ikhtiar berkelanjutan untuk memanusiakan manusia. Ia tidak berhenti pada apa yang diketahui seseorang, tetapi jauh lebih dalam, yakni pada bagaimana pengetahuan, kewenangan, dan pengaruh itu digunakan.

Dalam hubungan inilah, pendidikan menemukan makna etik dan moralnya yang paling hakiki.

Sejarah peradaban menunjukkan satu pelajaran penting, yaitu: Peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar, melainkan karena terlalu banyak orang pintar yang kehilangan kerendahan Hati. Ketika kecerdasan tidak disertai kebijaksanaan, dan otoritas tidak dibingkai oleh etika, maka pengetahuan justru berubah menjadi alat pembenaran diri, bukan sarana pencerahan.
Fenomena yang kerap Kita saksikan belakangan ini di lingkungan masyarakat dan berbagai media, seperti melibatkan tokoh terpandang, tokoh agama, figur publik, bahkan mantan pejabat negara yang patut menjadi bahan refleksi bersama. Mereka yang sejatinya berada pada posisi simbolik sebagai teladan moral dan sosial, justru terkadang secara langsung (live) via media maupun dengan tidak langsung mempertontonkan sikap arogan melalui ucapan, atau perilaku yang tidak patut, tidak beretika, dan tidak mendidik di ruang publik. Padahal, pengaruh mereka jauh melampaui individu biasa, karena setiap kata dan gestur berpotensi membentuk cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda.
Ruang publik dalam negara demokratis memang terbuka bagi kebebasan berekspresi. Namun kebebasan tersebut tidak pernah berdiri tanpa tanggung jawab. Etika publik adalah pagar moral yang membedakan:
“Kebebasan dengan Kebablasan, Kritik dengan Caci Maki, serta Ketegasan dengan Arogansi.”
Tanpa kesadaran ini, ruang publik mudah berubah menjadi arena pertunjukan ego, bukan ruang dialog yang beradab atau mencerahkan serta menyejukkan Hati untuk semua elemen lintas generasi.

Sudah saatnya bangsa ini menutup lembaran polemik yang melelahkan dan menjadikannya sebagai momentum koreksi kolektif. Koreksi bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk saling mengingatkan bahwa Kita adalah satu bangsa yang hidup dalam keberagaman, dengan hak dan kewajiban yang setara sebagai warga negara.

Awal tahun ini harus menjadi penanda komitmen baru bahwa:

“Komitmen untuk Saling Menjaga Kedamaian, Saling Merangkul dalam Perbedaan, serta Saling Menghargai Martabat Kemanusiaan.”

Inilah esensi sejati dari “Bhinneka Tunggal Ika,” bukan sekadar slogan pemersatu, melainkan etos hidup berbangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia di bawah panji “Merah Putih.”

Relevansi dengan Pancasila, semangat ini sejalan dengan Sila Ketiga: “Persatuan Indonesia.”
Persatuan bukanlah penyeragaman pikiran, melainkan kesediaan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas ego pribadi dan kelompok. Persatuan tumbuh dari “Kerendahan Hati untuk Mendengar, Keberanian untuk Mengoreksi Diri, dan Kebijaksanaan untuk Menjaga Tutur serta Perilaku di Ruang Publik.”

Jika Indonesia Emas 2045 ingin diwujudkan bukan hanya sebagai capaian ekonomi dan teknologi, tetapi juga sebagai “Peradaban yang Beradab, maka Pendidikan Karakter, Keteladanan Moral, dan Etika Publik harus menjadi Fondasi Utama.”

Bangsa yang Besar tidak hanya diukur dari kecanggihan infrastrukturnya, tetapi dari kedewasaan warganya dalam bersikap dan berinteraksi.

Ketika Kepintaran Kehilangan Kerendahan Hati, maka niscaya ia cenderung menjadi “Arogansi  atau  “Kesombongan.”

Tanpa kerendahan Hati, kecerdasan bisa menjadi kontraproduktif karena dapat menyebabkan hal-hal berikut:

  1. Mengabaikan Perspektif Lain
    Orang yang cerdas namun sombong mungkin merasa bahwa ide-ide mereka satu-satunya yang valid, sehingga menolak untuk mendengarkan atau belajar dari orang lain;
  2. Kesulitan dalam Kerjasama
    Kesombongan sering kali menghalangi kerja tim yang efektif, karena individu tersebut mungkin meremehkan kontribusi orang lain;
  3. Menghambat Pembelajaran Berkelanjutan
    Keyakinan berlebihan pada pengetahuan sendiri dapat menghentikan rasa ingin tahu dan keinginan untuk terus belajar dan berkembang;
  4. Menciptakan Jarak Sosial
    Sikap merendahkan atau arogan dapat membuat orang lain menjauh, menyebabkan isolasi sosial dan profesional.

Oleh karena, pada dasarnya kerendahan Hati bertindak sebagai penyeimbang yang memungkinkan kecerdasan digunakan secara bijak dan konstruktif, bukan sebagai alat untuk mendominasi atau meremehkan orang lain. 

Akhirnya, harapan Kita bersama semoga di awal tahun ini menjadi tahun di mana bangsa Indonesia melangkah dengan kesadaran baru, bahwa:

“Beragam dalam Identitas, Bersatu dalam Tujuan, dan Berdaya dalam Karya.”

Sebuah Bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan arif secara sosial.
Semoga Kita senantiasa hidup dalam:
“Damai dan Harmoni,
Beragam, Bersatu, Berdaya, Menyulam Harapan Indonesia Raya di Bumi Nusantara menyongsong Indonesia Emas 2045.

May Peace Always Abide in Our Hearts.
Salam Keberagaman Nusantara dan Hormat Penuh Takzim.

Penulis: Sjahrir Tamsi (Pemerhati Pendidikan, Kebudayaan. DPD-FKN Prov. Sulbar).

By admin