independennews.id — Dalam dinamika global yang semakin cepat dan kompetitif, bangsa yang kokoh bukanlah bangsa yang kehilangan akar, melainkan bangsa yang mampu menjadikan warisan budaya sebagai sumber kekuatan untuk terus bertumbuh. Adat dan budaya bukanlah sekadar peninggalan masa lalu, tetapi fondasi peradaban, identitas diri, dan arah masa depan. Karena itulah Sekolah Rakyat dan Koperasi Merah Putih (KMP) menempatkan Adat dan Budaya sebagai Program Utama, bukan sebagai pelengkap. Pendekatan ini bukan hanya melestarikan tradisi, tetapi sekaligus “Memperkuat Kemandirian Ekonomi Lokal, Membangun Karakter Generasi Muda, dan Memperkokoh Harmoni Sosial”.

Dalam perspektif bangsa-bangsa besar, kebudayaan adalah tali yang merangkai keberlanjutan sejarah. Soekarno pernah menegaskan, “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang tidak kehilangan jati dirinya.” Sementara Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan harus berpijak pada “Kebudayaan Sendiri” agar tidak tercerabut dari akar perjuangan. Pendidikan yang jauh dari akar budaya menjadikan anak bangsa rentan terombang-ambing oleh budaya instan, konsumerisme, dan disorientasi nilai.

Sekolah Rakyat: Menjadikan Warisan Leluhur sebagai Pondasi Karakter

“Sekolah Rakyat Memposisikan Adat dan Budaya sebagai medium Pembelajaran yang Hidup”. Hal ini bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi membentuk identitas dan karakter secara mendalam.

  1. Melestarikan Budaya Lokal Pendidikan berbasis adat memindahkan pengetahuan dari lisan ke ruang belajar. Bahasa daerah, tari tradisional, ritual adat, kesenian, hingga narasi sejarah lokal diajarkan agar generasi penerus tidak kehilangan ingatan kolektif. Tanpa itu, sebuah komunitas mudah tercerabut dari akar, kehilangan arah dan harga dirinya;
  2. Membangun Identitas dan Kebanggaan Belajar budaya berarti mengakui diri. Ketika siswa memahami akar sejarah dan martabat leluhurnya, tumbuh rasa percaya diri sekaligus penghargaan terhadap keberagaman. Dari sinilah karakter gotong royong dan toleransi menemukan ruangnya yang paling otentik;
  3. Menanamkan Nilai-Nilai Luhur Kearifan lokal menyimpan nilai universal: kejujuran, musyawarah, kepedulian, keseimbangan alam, dan penghormatan kepada orang tua. Nilai ini sejalan dengan ajaran agama. Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat: 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling meniadakan. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Malik). Maka, pembelajaran budaya adalah jalan pendidikan akhlak itu sendiri; dan
  4. Pembelajaran yang Relevan dengan Konteks Sosial Ketika kearifan lokal dipadukan dengan ilmu modern, tercipta pendidikan kontekstual yang membumi. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga bagaimana hidup bermasyarakat dengan penuh martabat dan tanggung jawab.

Koperasi Merah Putih (KMP): Budaya sebagai Motor Ekonomi Kerakyatan

Koperasi Merah Putih (KMP) menghidupkan kembali semangat ekonomi gotong royong. Koperasi bukan sekadar unit usaha, melainkan “Rumah Kebersamaan” yang menggerakkan potensi komunitas.

  1. Memperkuat Ekonomi Berbasis Budaya KMP mengangkat produk-produk budaya: kerajinan tradisional, pertanian lokal, pakaian etnik, kuliner tradisi, yakni produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sejarah. Dengan demikian, adat bukan hanya dirawat, tetapi menjadi sumber kesejahteraan;
  2. Kohesi Sosial Berbasis Kekeluargaan Koperasi yang tumbuh dari nilai kebersamaan menguatkan solidaritas. Rumah adat, balai kampung, atau lumbung budaya dapat menjadi pusat musyawarah, produksi, dan distribusi, sekaligus pusat harmoni sosial;
  3. Menciptakan Peluang Ekonomi Baru Revitalisasi budaya membuka ruang industri kreatif dan pariwisata. Di sini, KMP berperan sebagai motor, fasilitator, dan penjaga moral ekonomi agar masyarakat tidak hanyut dalam komersialisasi yang menghilangkan makna budaya; dan
  4. Pemberdayaan Masyarakat Adat Masyarakat adat bukan objek pembangunan, melainkan subjek utama. Adat dijadikan landasan penguatan ekonomi, politik, dan martabat sosial. Inilah pembangunan yang adil, berdaulat, dan berkepribadian.

Seruan Moral dan Strategi Kebijakan ke Depan

Untuk memastikan gerakan ini berkelanjutan, dukungan banyak pihak sangat diperlukan:

  1. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang melindungi hak-hak budaya dan ruang hidup masyarakat adat;
  2. Tokoh masyarakat adat harus menjadi garda terdepan dalam pewarisan nilai;
  3. Dunia pendidikan mesti membuka ruang kurikulum berbasis budaya lokal;
  4. Generasi muda dan mahasiswa perlu mengambil peran sebagai “Penjaga Memori Kolektif” sekaligus inovator masa depan.

Sebagaimana Pencerah Nusantara, Buya Hamka pernah berkata, “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah.” Maka, Adat dan Agama tidak harus dipertentangkan. Keduanya saling menguatkan dalam membangun manusia beradab.

Menjadikan Adat dan Budaya sebagai arus utama pendidikan dan ekonomi bukan langkah mundur, tetapi langkah strategis untuk melompat ke masa depan dengan pijakan yang kokoh. Bangsa ini besar karena kearifan leluhurnya.

“Ketika Sekolah Rakyat Membangun Karakter, dan Koperasi Merah Putih Menggerakkan Ekonomi, maka Berdirilah Kekuatan Bangsa yang Berakar, Berbudaya, dan Bermartabat”.

Inilah Indonesia yang berdiri dengan kepala tegak di hadapan duni, “Berdaulat dalam Budaya, Mandiri dalam Ekonomi, dan Berkarakter dalam Peradaban”.

Salam Damai dan Harmoni Nusantara.
Salam Hormat Penuh Takzim dari Penulis yang mengiringi Spirit Kebaikan ini, agar Terus Bergetar di Hati semua Anak Bangsa.

Catatan Akhir : Tulisan ini Terinspirasi dari hasil diskusi ringan di Lobby Hotel Bela Ternate, 26 Oktober 2025 antara :

  1. YM. Sultan Deli, YM. Lamanjiji
  2. YM. Sultan Indrapura, YM. Youdhi
  3. YM. KRAy Intan Dewi Rumbinang Trah Kesultanan Demak dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
  4. Raja Siau YM. John Suoth Kansil, Ketum Dekkan.
  5. DR.(H.C.) YM. KP. Johan Amin, S E.,M.Si. Panglima TABAS.
  6. YM. Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd., Tomakaka Adaq Jambu Cappa Bate Dara’. Perwakilan DPD-FKN Sulawesi Barat.
    Penulis : Sjahrir Tamsi
    (Pemerhati Pendidikan, Kebudayaan, dan Keberagaman Nusantara)
    Editor : Usman Laica

Adat dan Budaya sebagai Arus Utama Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi: Strategi Membangun Karakter Bangsa dari Akar Budayanya

Dalam dinamika global yang semakin cepat dan kompetitif, Bangsa yang Kokoh bukanlah Bangsa yang kehilangan akar, melainkan Bangsa yang mampu menjadikan Warisan Budaya sebagai sumber kekuatan untuk terus bertumbuh. Adat dan Budaya bukanlah sekadar peninggalan masa lalu, tetapi Fondasi Peradaban, Identitas Diri, dan Arah Masa Depan.
Oleh karena itulah Sekolah Rakyat dan Koperasi Merah Putih (KMP) menempatkan Adat dan Budaya sebagai Program Utama, bukan sebagai pelengkap. Pendekatan ini bukan hanya melestarikan tradisi, tetapi sekaligus “Memperkuat Kemandirian Ekonomi Lokal, Membangun Karakter Generasi Muda, dan Memperkokoh Harmoni Sosial”.

Dalam perspektif bangsa-bangsa besar, kebudayaan adalah Tali yang Merangkai Keberlanjutan Sejarah. Soekarno pernah menegaskan, “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang tidak kehilangan jati dirinya.” Sementara Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan harus berpijak pada “Kebudayaan Sendiri” agar tidak tercerabut dari akar perjuangan. Pendidikan yang jauh dari akar budaya menjadikan anak bangsa rentan terombang-ambing oleh budaya instan, konsumerisme, dan disorientasi nilai.

Sekolah Rakyat: Menjadikan Warisan Leluhur sebagai Pondasi Karakter

“Sekolah Rakyat Memposisikan Adat dan Budaya sebagai medium Pembelajaran yang Hidup”. Hal ini bukan romantisme masa lalu, melainkan Strategi Membentuk Identitas dan Karakter secara Mendalam.

  1. Melestarikan Budaya Lokal
    Pendidikan berbasis Adat memindahkan pengetahuan dari lisan ke ruang belajar. Bahasa Daerah, Tari Tradisional, Ritual Adat, Kesenian, hingga Narasi Sejarah Lokal diajarkan agar generasi penerus “Tidak Kehilangan Ingatan Kolektif”. Tanpa itu, sebuah komunitas mudah tercerabut dari akar, kehilangan arah dan harga dirinya;
  2. Membangun Identitas dan Kebanggaan
    Belajar Budaya berarti mengakui diri. “Ketika Siswa Memahami Akar Sejarah dan Martabat Leluhurnya, maka niscaya akan Tumbuh Rasa Percaya Diri sekaligus Penghargaan terhadap Keberagaman”. Dari sinilah Karakter Gotong royong dan Toleransi Menemukan Ruangnya yang Paling Otentik;
  3. Menanamkan Nilai-Nilai Luhur
    Kearifan Lokal Menyimpan Nilai Universal, seperti: Kejujuran, Musyawarah, Kepedulian, Keseimbangan Alam, dan Penghormatan kepada Orang tua. Nilai ini sejalan dengan ajaran agama. Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat: 13 bahwa Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling meniadakan. Rasulullah Muhammad SAW. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlak yang Mulia.” (HR. Malik). Maka, pembelajaran budaya adalah jalan pendidikan akhlak itu sendiri; dan
  4. Pembelajaran yang Relevan dengan Konteks Sosial
    Ketika Kearifan Lokal dipadukan dengan ilmu modern, tercipta pendidikan kontekstual yang membumi. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga bagaimana Hidup Bermasyarakat dengan Penuh Martabat dan Tanggung jawab.

Koperasi Merah Putih (KMP): Budaya sebagai Motor Ekonomi Kerakyatan

Koperasi Merah Putih (KMP) Menghidupkan kembali Semangat Ekonomi Gotong royong. Koperasi bukan sekadar unit usaha, melainkan “Rumah Kebersamaan” yang menggerakkan potensi komunitas, seperti Forum Keberagaman Nusantara (FKN).

  1. Memperkuat Ekonomi Berbasis Budaya
    KMP mengangkat Produk-produk Budaya yaitu: Kerajinan Tradisional, Pertanian Lokal, Pakaian Etnik, Kuliner Tradisi, seperti Produk yang memiliki Nilai Ekonomi sekaligus Nilai Dejarah. Dengan demikian, Adat bukan hanya dirawat, tetapi menjadi Sumber Kesejahteraan;
  2. Kohesi Sosial Berbasis Kekeluargaan
    Koperasi yang tumbuh dari Nilai Oebersamaan Menguatkan Solidaritas. Rumah Adat, Balai Kampung, atau Lumbung Budaya dapat menjadi Pusat Musyawarah, Produksi, dan Distribusi, sekaligus Pusat Harmoni Sosial;
  3. Menciptakan Peluang Ekonomi Baru
    Revitalisasi Budaya membuka ruang Industri Kreatif dan Pariwisata. Di sini, KMP berperan sebagai Motor, Fasilitator, dan Penjaga Moral Ekonomi agar masyarakat tidak hanyut dalam komersialisasi yang menghilangkan makna Budaya; dan
  4. Pemberdayaan Masyarakat Adat
    Masyarakat adat bukan objek pembangunan, melainkan subjek utama. Adat dijadikan Landasan Penguatan Ekonomi, Politik, dan Martabat Sosial. Inilah Pembangunan yang Adil, Berdaulat, dan Berkepribadian.

Seruan Moral dan Strategi Kebijakan ke Depan

Untuk memastikan Gerakan ini Berkelanjutan, dukungan banyak pihak sangat diperlukan:

  1. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang melindungi hak-hak budaya dan ruang hidup masyarakat adat;
  2. Tokoh Masyarakat Adat harus menjadi Garda Terdepan dalam Pewarisan Nilai;
  3. Dunia Pendidikan mesti Membuka ruang Kurikulum Berbasis Budaya Lokal;
  4. Generasi Muda dan Mahasiswa perlu mengambil Peran sebagai “Penjaga Memori Kolektif” sekaligus Inovator Masa Depan.

Sebagaimana Pencerah Nusantara, Buya Hamka pernah berkata, “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah.” Maka, Adat dan Agama tidak harus dipertentangkan. Keduanya Saling Menguatkan dalam Membangun Manusia Beradab.

Menjadikan Adat dan Budaya sebagai arus utama pendidikan dan ekonomi bukan langkah mundur, tetapi langkah Strategis untuk Melompat ke Masa Depan dengan Pijakan yang Kokoh. “Bangsa ini Besar karena Kearifan Leluhurnya”.

“Ketika Sekolah Rakyat Membangun Karakter, dan Koperasi Merah Putih Menggerakkan Ekonomi, maka Berdirilah Kekuatan Bangsa yang Berakar, Berbudaya, dan Bermartabat”.

Inilah Keberagaman Indonesia yang berdiri dengan Kepala Tegak di Hadapan Dunia, “Berdaulat dalam Budaya, Mandiri dalam Ekonomi, dan Berkarakter dalam Peradaban”.

Catatan Akhir : Tulisan ini Terinspirasi dari hasil diskusi ringan di Restaurant “ANDRAWINA” Hotel Bela Ternate, 26 Oktober 2025 antara :

  1. YM. Sultan Deli, Medan Sumatera Utara, YM. Sultan Lamanjiji
  2. YM. Sultan Indrapura, YM. Youdhi
  3. YM. KRAy Intan Dewi Rumbinang Trah Kesultanan Demak dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
  4. Raja Siau YM. John Suoth Kansil, Ketum Dekkan.
  5. DR. (H.C.) YM. KP. Johan Amin, S.E., M.Si. Panglima TABAS.
  6. YM. Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd., Tomakaka Adaq Jambu Cappa Bate Dara’ Polewali Mandar. Perwakilan DPD-FKN Sulawesi Barat. Mereka merupakan Peserta yang akan mengikuti Deklarasi Forum Keberagaman Nusantara 1 Abad Indonesia di Kesultanan Kedaton Sao Sio Ternate Maluku Utara, 27 Oktober 2025.

Salam Damai dan Harmoni Nusantara.
Salam Hormat Penuh Takzim dari Penulis yang mengiringi Spirit Kebaikan ini, agar Terus Bergetar di Hati semua Anak Bangsa.
Penulis : Sjahrir Tamsi
(Pemerhati Pendidikan, Kebudayaan, dan Keberagaman Nusantara)
Editor : Usman Laica

By admin