Ternate, Maluku Utara, independennews.id— Dewan Pimpinan Nasional Forum Keberagaman Nusantara (DPN-FKN) menggelar kegiatan akbar berskala nasional bertajuk “Deklarasi Forum Keberagaman Nusantara: Menyongsong 1 Abad Indonesia — Merajut Akar Bangsa, Membangkitkan Rasa Nusantara untuk Mewujudkan Indonesia Emas.” Acara berlangsung pada Senin, 27 Oktober 2025, di halaman Kedaton Kesultanan Sao Sio Ternate, sebagai momentum memperkokoh persaudaraan kebangsaan di tengah dinamika perubahan global.
Dengan semboyan luhur “Beragam, Bersatu, Berdaya untuk Indonesia Raya,” Forum Keberagaman Nusantara menegaskan komitmennya sebagai gerakan sosial-kebangsaan yang fokus pada pemeliharaan harmoni antar suku, agama, bahasa, dan budaya di seluruh wilayah Nusantara.

Malam Ramah Tamah: Menyulam Keakraban dalam Kesantunan Nusantara
Sehari sebelum acara utama, Minggu malam (26/10), para tamu dan Perwakilan DPD-FKN serta Perwakilan Keberagaman Nusantara dari sejumlah Provinsi disambut dalam “Malam Ramah Tamah” di Pendopo Kedaton Ternate.
Acara dimulai dengan santap malam dan pertunjukan kesenian daerah, kemudian dilanjutkan dengan Sambutan Selamat Datang oleh Sultan Ternate, YM. Jou Kolano Malamo-lamo Sultan Hidayatullah Mudaffar Syah, yang menegaskan bahwa Ternate sebagai Kota Rempah memiliki sejarah panjang sebagai simpul peradaban dan interaksi antarbangsa.
Selanjutnya, Ketua Umum DPN-FKN, YM. Tuanku Arif Rahmansyah Marbun Tuanku Alamsyah, menyampaikan pentingnya membangun kembali “Rasa Ke-Indonesiaan” melalui ruang dialog dan penghormatan terhadap keberagaman leluhur.
Acara malam tersebut ditutup dengan Arahan Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, YM. Prof. Dr. (H.C.) K. H. Ma’ruf Amin, selaku Ketua Dewan Pembina DPN-FKN, yang menegaskan bahwa “Keberagaman Indonesia adalah karunia dan sekaligus modal strategis dalam pembangunan bangsa menyongsong 1 Abad Indonesia.”

Penyematan Gelar Kesultanan: Penghormatan atas Keikhlasan Mengayomi Bangsa
Keesokan harinya, dalam prosesi penuh keagungan adat, Sultan Ternate menganugerahkan Gelar Kesultanan kepada Prof. Ma’ruf Amin sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi beliau dalam menjaga nilai persatuan bangsa. Prosesi dilaksanakan di ruang utama Kedaton Kesultanan Sao Sio, disaksikan para Pengurus FKN, Perwakilan Daerah, Perwakilan Keberagaman Nusantara dan Perangkat Adat KesultananTernate, serta unsur Forkompimda Maluku Utara.

Deklarasi Kebangsaan: Menyongsong Indonesia Emas
Acara puncak di halaman Kedaton berlangsung dengan khidmat. Setelah menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Forum Keberagaman Nusantara berjudul “Menyalakan Api Nusantara,” ditampilkan tarian penyambutan khas Ternate yang memancarkan keindahan tradisi kepulauan rempah.
Sambutan disampaikan oleh:
- Ketua Umum DPN-FKN, YM. Tuanku Arif Rahmansyah Marbun Tuanku Alamsyah;
- Sultan Ternate, YM. Jou Kolano Malamo-lamo Sultan Hidayatullah Mudaffar Syah;
- Gubernur Maluku Utara, yang diwakili oleh Asisten atau Sekretariat Daerah.
Selanjutnya dilakukan Pembacaan dan Penandatanganan Naskah Deklarasi Forum Keberagaman Nusantara 1 Abad Indonesia yang dipimpin oleh Ketua DPD-FKN Sulawesi Utara, Pdt. Hanny Pantouw, S.Th, (Tonaas Laskar Manguni Indonesia) dan diikuti oleh seluruh delegasi : Kerajaan/Kesultanan dan Tokoh Masyarakat Adat Nusantara, Tokoh Keberagaman yaitu Etnis, Suku, Bahasa, Agama dan Budaya dari berbagai daerah.
Dalam Bimbingan dan Arahan Penutupnya, Prof. Ma’ruf Amin menegaskan bahwa Indonesia lahir dari keberagaman yang dipersatukan oleh Pancasila, sehingga keberagaman harus dirawat melalui 4 bingkai:
- Bingkai Politik
- Bingkai Teologis
- Bingkai Sosiologis
- Bingkai Yuridis
“Persatuan Indonesia bukan slogan, melainkan tanggung jawab sejarah. Keberagaman adalah kekuatan ketika kita merawatnya bersama,” tegas Prof. Ma’ruf Amin.
Acara ditutup dengan doa bersama, sesi foto, dan ramah tamah penuh kehangatan.

Makna Strategis Deklarasi
Deklarasi ini bukan hanya seremoni, melainkan “Gerak Kolektif Nasional” untuk:
- Menghidupkan kembali kesadaran sejarah kebangsaan;
- Memperkuat simpul-simpul kebudayaan, adat, dan identitas lokal;
- Meneguhkan Pancasila sebagai rumah kebangsaan seluruh rakyat Indonesia;
- Mempersiapkan fondasi Indonesia Emas 2045 dengan modal sosial yang kuat.
(YM. Sjahrir Tamsi)

Budaya sebagai Denyut Masa Depan: Menjaga Jati Diri, Merawat Peradaban
Budaya sering kali dipahami sebagai sesuatu yang telah selesai: benda-benda tua yang dipajang di museum, kisah-kisah lama yang dibacakan sebagai pengantar tidur, atau ritual yang dianggap hanya layak untuk seremoni tahunan. Pandangan sempit seperti ini memiskinkan makna budaya itu sendiri. Padahal, budaya bukan sekadar kenangan, ia adalah napas kehidupan yang terus berdenyut, membentuk kesadaran, memperhalus budi, dan mengarahkan langkah peradaban.
Bangsa yang tumbuh tanpa budaya ibarat pohon yang kehilangan akar, misalnya : mudah roboh diterpa angin perubahan. Sebaliknya, bangsa yang merawat budayanya akan mampu berdiri tegar dan percaya diri di tengah derasnya arus globalisasi.
Budaya: Identitas yang Membentuk Ke-Indonesiaan
Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa keberagaman adalah kehendak dan rahmat-Nya:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman budaya bukan ancaman, melainkan jembatan untuk memperkaya kehidupan. Demikian pula Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Nilai-nilai budaya sesungguhnya merupakan pengejawantahan dari akhlak itu sendiri—tata krama, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan cinta tanah kelahiran.
Tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara menegaskan:
“Budaya adalah buah budi manusia yang menjadi cermin dari budi pekertinya.”
Dengan demikian, budaya bukan sekadar simbol atau aksesoris sosial, melainkan cermin dari jiwa bangsa.
Budaya yang Hidup, Bukan Fosil Sejarah
Di tengah derasnya arus digital dan globalisasi, banyak yang menganggap budaya lokal akan semakin terpinggirkan. Namun kenyataannya, budaya justru membuktikan sifatnya yang dinamis dan adaptif. Ia terserap, berdialog, bahkan bertransformasi tanpa kehilangan akar nilai.
- Motif batik tampil dalam rancangan busana modern, dikenakan dengan kebanggaan oleh generasi muda.
- Kesenian tradisional berkolaborasi dengan musik digital dan media populer, menghadirkan warna baru yang memikat.
- Ruang digital kini digunakan sebagai wadah kampanye pelestarian kearifan lokal dan sejarah.
Gus Dur pernah mengingatkan:
“Kebudayaan bukan untuk dilestarikan secara kaku, melainkan dihidupkan.”
Budaya hidup karena manusia yang menghirup, menjaga, dan mengembangkannya.
Budaya sebagai Jangkar Moral dan Keseimbangan
Dalam kehidupan modern yang materialistis dan serba cepat, budaya hadir sebagai jangkar moral. Nilai gotong royong, sopan santun, musyawarah, dan penghormatan kepada yang lebih tua menjadi penyeimbang terhadap individualisme dan kompetisi ekstrem yang kerap melahirkan kegersangan batin.
Tomasoa Todani, tokoh adat dari Maluku, pernah berkata:
“Orang yang lupa budayanya kehilangan rumah dalam dirinya.”
Budaya adalah rumah batin bangsa, tempat kita pulang secara spiritual ketika dunia luar menjadi bising dan melelahkan.
Peran Generasi Muda: Penjaga Sekaligus Pencipta
Melestarikan budaya tidak cukup dengan dokumentasi atau perayaan seremoni. Ia membutuhkan “Partisipasi Aktif”. Generasi muda bukan hanya pewaris, tetapi juga Pencipta bentuk-bentuk budaya baru yang relevan dengan zamannya.
“Bangga menggunakan produk lokal adalah pernyataan keberpihakan”
:Mempelajari dan mengajarkan bahasa daerah adalah tindakan merawat identitas”
“Menjadi kreator konten budaya adalah kontribusi masa kini yang berpengaruh besar”
Seperti pesan Buya Hamka:
“Bangsa yang Besar bukan b
Bangsa yang kaya raya, tetapi Bangsa yang Tidak Hilang Harga Dirinya.”
Harga diri bangsa terletak pada kebudayaannya.
Budaya adalah Masa Depan
Saatnya kita mengubah cara pandang. Budaya bukan museum masa lalu, tetapi cetak biru masa depan. Ia adalah denyut nadi bangsa, karena tanpa itu, Indonesia mungkin maju secara teknologi, tetapi kehilangan ruh dan maknanya.
“Merawat budaya berarti merawat kemanusiaan. Menghidupkan budaya berarti menghidupkan harapan”
Maka mari kita jaga, rawat, dan hidupkan budaya bukan sebagai seremonial nostalgia, tetapi sebagai energi kreatif yang memandu perjalanan Indonesia menuju peradaban yang bermartabat dan berkeadaban.
Salam Damai, Harmoni Nusantara, dan Hormat Penuh Takzim,
Penulis : YM. Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica
