independennews.id — (Refleksi Menyambut Deklarasi Forum Keberagaman Nusantara 1 Abad Indonesia, Kedaton Sao Sio, 27 Oktober 2025)
Ternate bukan sekadar sebuah Kota di Kawasan Timur Nusantara. Ia adalah “Poros Sejarah Dunia”, Pusat Oerjumpaan Bangsa-bangsa, Tempat Aroma Cengkih dan Pala dahulu menentukan arah politik, perdagangan, hingga ekspedisi besar samudera. Di sini, dunia pernah berkumpul untuk satu komoditas yang dianggap lebih berharga dari Emas, yakni: Rempah.
Sejak abad ke-13, Ternate dikenal sebagai Kota Dagang yang termasyhur. Kapal-kapal dari Arab, Gujarat, Cina, hingga bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda berlayar berbulan-bulan hanya untuk mencapai pulau kecil yang mengapung di antara cincin gunung api dan laut biru ini. Sebab di sinilah “Titik Nol Jalur Rempah Dunia”, tempat Cengkih terbaik di muka bumi tumbuh, berkembang, dan mengubah wajah geopolitik global.
Lebih dari itu, Kesultanan Ternate bukan hanya kerajaan rempah. Ia adalah pusat Peradaban Islam di Maluku, pusat diplomasi maritim, dan simpul kebudayaan yang menjunjung tinggi nilai adat se atorang, kehormatan, kemuliaan, dan martabat masyarakatnya.
Kini, sejarah itu Tidak Boleh hanya Dikenang. Ia harus Dihidupkan Kembali, dipertegaskan sebagai identitas, dan menjadi energi budaya serta ekonomi masa depan. Karena itu, “Ternate Kota Rempah” sebagai City Branding bukan sekadar slogan, melainkan bentuk kesadaran diri, kebangkitan martabat, dan penegasan kembali posisi Ternate di peta dunia.
Menghidupkan Identitas, Menggerakkan Ekonomi
Penetapan “Ternate Kota Rempah” sebagai Merek Resmi di Kementerian Hukum dan HAM adalah langkah strategis yang Visioner. Branding ini diarahkan untuk:
- Memperkuat identitas sejarah dan kebudayaan Ternate;
- Mendorong UMKM berbasis rempah, kuliner tradisional, minyak atsiri cengkih, wellness & herbal tourism, hingga industri kreatif;
- Meningkatkan nilai ekonomi masyarakat; dan
- Membuka ruang partisipasi generasi muda dalam melestarikan warisan leluhur.
Rempah bukan hanya benda dagang. Ia adalah “Pengetahuan, yakni Kearifan Ekologis, Etika Bercocok Tanam, Tradisi Kuliner, hingga Ritus-ritus Adat”. Maka menghidupkan rempah berarti “Menghidupkan Budaya dan Martabat”.
Seperti yang pernah dikatakan Mendiang Gus Dur,
“Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang mampu menghargai sejarah dan peradabannya sendiri.”
Ternate kini sedang melaksanakan Amanah Sejarah itu.

Arah Spiritual dan Nilai Keberkahan
Dalam pandangan Islam, kekayaan alam bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi “Amanah dan Barakah”.
Allah SWT berfirman:
“Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 60)
Hadis Nabi Muhammad SAW mengingatkan:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Karena itu, pengelolaan rempah dan kekayaan daerah “Tidak Boleh Hanya Dipandang sebagai Komoditas, tetapi sebagai Tanggung jawab Peradaban untuk Memberi Manfaat, Memperkuat Kesejahteraan, dan Menjaga Kelestarian Bumi”.
Menjadi Magnet Dunia dalam Semangat Keberagaman
Ternate adalah contoh hidup bahwa “Keberagaman bukan Masalah, tetapi Kekuatan”.
Sejak dulu, bangsa yang datang silih berganti tidak menghapus identitas Ternate, tetapi Menambah Warna. Islam hadir dengan damai, adat menjaga harmoni, kebudayaan tumbuh dalam ruang perjumpaan.

Semangat ini, kini akan bergema kembali melalui Event Akbar Berskala Nasional yakni:
Deklarasi Forum Keberagaman Nusantara 1 Abad Indonesia
Kedaton Sao Sio, Kesultanan Ternate, 27 Oktober 2025
Dihadiri oleh Wakil Presiden RI ke-13, YM. Prof. Dr. (H.C) K.H. Ma’ruf Amin dan Ketua Umum DPN-FKN, YM. Tuanku Arif Rahmansyah Marbun Tuanku Alamsyah bersama jajaran Pengurus DPN-FKN serta Perwakilan DPD-FKN se-Nusantara. Termasuk turut hadir Perwakilan DPD-FKN Provinsi Sulawesi Barat, YM. Sjahrir Tamsi, M.Pd., dan Perwakilan PHDI Pusat, YM. Ida Resi Agung Putranata Siliwangi serta sejumlah Perwakilan Keberagaman Nusantara.
Momentum ini Strategis dan Monumental karena:
- Menegaskan kembali Ternate sebagai pusat peradaban maritim dan toleransi Nusantara;
- Menguatkan komitmen persatuan dan kerukunan antar-umat dan antar-etnis; dan
- Menghubungkan nilai sejarah dengan arah pembangunan masa depan.
Sebagaimana Petuah Adat Maluku Utara:
“Soma ma Dadara, se Atorang ma Jou se Banar”
(Satu Tubuh dalam perbedaan, satu Hati dalam kebenaran dan kehormatan).
Panggilan Strategis untuk Pemerintah, Akademisi, Tokoh Adat, dan Generasi Muda
Untuk menjadikan Ternate Kota Rempah bukan sekadar simbol, diperlukan:
- Kolaborasi Pemerintah–Kesultanan–Perguruan Tinggi;
- Ekosistem UMKM berbasis riset rempah dan industri kreatif;
- Festival Rempah tahunan berskala internasional; dan
- Digitalisasi cerita sejarah rempah untuk dunia, termasuk Museum Digital Jalur Rempah.
Generasi Muda Ternate harus tampil sebagai “Duta Rempah Nusantara”, pembawa narasi bahwa Ternate bukan Kota Kecil di Timur, melainkan Poros Peradaban yang Membentang dari Masa Lalu menuju Masa Depan.
Ternate Bangkit, Nusantara Bersatu
Ketika Ternate menegaskan dirinya sebagai Kota Rempah, yang dibangkitkan bukan hanya ekonomi dan pariwisata, tetapi “Martabat Sejarah Bangsa”. Rempah adalah bagian dari DNA Indonesia. Dari rempah, bangsa ini dikenal, dijajah, bangkit, dan kini kembali berdiri tegak.
Karena itu, “Mendukung Ternate berarti Mendukung Indonesia”.
Menguatkan rempah berarti menguatkan jati diri Nusantara.
Dan menjaga keberagaman berarti menjaga “Rumah Besar Kita Bersama”.
Salam Damai, Salam Harmoni, Salam Rempah Nusantara.
Ternate Bangkit — Indonesia Bermartabat.
Salam Hormat dengan Penuh Takzim dan Penghormatan.
Penulis : Sjahrir Tamsi
(Pemerhati Pendidikan, Kebudayaan, dan Keberagaman Nusantara)
Editor : Usman Laica
