Oleh: Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.

independennews.id — Guru adalah Pelita Peradaban Bangsa. Dalam tutur, tindakan, dan sikap seorang Guru, tersimpan cerminan karakter bangsa yang sesungguhnya. Di balik tugas mendidik, menginspirasi, dan menuntun generasi muda, ada tanggung jawab moral yang lebih halus namun sangat menentukan seperti: “Menjaga Sikap dan Perilaku di Lingkungan Kerja agar tetap Harmonis, Sejuk, dan Saling Menghargai.

  1. Hindari Terlalu Banyak Mengeluh: Gantilah dengan Energi Positif

Tak dapat dipungkiri, beban kerja Guru sering kali terasa berat, misalnya: Administrasi, Pembelajaran, Evaluasi, hingga Tanggung jawab Noral terhadap Perkembangan Karakter Peserta didik. Namun, ketika ruang kerja dipenuhi keluhan setiap hari, suasana akan cepat lelah dan semangat kebersamaan pun pudar.
Lebih baik mengganti keluhan dengan “Solusi Konstruktif atau Humor Ringan yang menenangkan Hati”. Energi positif itu menular; ia membangun optimisme dan memperkuat solidaritas di antara rekan sejawat. Seperti dikatakan Prof. Ki Supriyoko, “Guru sejati bukan hanya mengajar, tapi juga menebar Semangat Hidup.”

  1. Hindari Ghibah Profesional: Jagalah Martabat Rekan Sejawat

Sering kali percakapan ringan berubah menjadi “Curhat” yang menjurus pada “Ghibah Profesional.” Padahal, kata yang keluar dari lisan Guru adalah cerminan wibawa dan keteladanan moralnya.
Berita yang Kita sebarkan hari ini bisa menjadi tembok pemisah besok. Karena itu, bila ada persoalan atau perbedaan pandangan, “Selesaikan dengan Dialog Langsung dan Penuh Rasa Hormat”.
Filsuf pendidikan kontemporer Prof. Paulo Freire pernah menegaskan, “Dialog sejati adalah jembatan kemanusiaan.” Dalam dunia pendidikan, dialog itulah yang menjaga persaudaraan dan mencegah kesalahpahaman tumbuh menjadi konflik.

  1. Tunjukkan Kerja Nyata, Bukan Pencitraan

Guru yang Rendah Hati tidak perlu bersaing untuk tampak paling baik di mata atasan atau publik. Ia cukup bekerja dengan Sepenuh Hati, sebab hasil kerja tulus selalu berbicara lebih keras dari pencitraan.
Dalam hal ini, “Kompetensi Profesional Guru seharusnya tampak dari Ketekunan, Kreativitas, dan Kontribusinya terhadap Lingkungan Belajar”, bukan dari seberapa sering ia menonjolkan diri.

  1. Belajar Menghargai Pendapat Orang Lain

Setiap Guru memiliki gaya dan metode mengajar yang unik, sesuai latar belakang dan pengalaman masing-masing. Maka, penting untuk menahan diri dari rasa “Paling Benar” atau cepat mengoreksi cara orang lain.
Diskusi yang sehat akan memperkaya wawasan dan menumbuhkan kolaborasi. Perbedaan bukan ancaman, tetapi sumber belajar yang memperkuat karakter kolektif Guru sebagai Komunitas Pembelajar Sepanjang Hayat.
Prof. Stella Christie, Ilmuwan Pendidikan Kognitif, mengingatkan bahwa proses belajar terbaik terjadi dalam ruang yang saling menghargai dan memberi kesempatan untuk saling memahami, bukan dalam suasana saling menghakimi.

  1. Tulus dalam Menolong Rekan Kerja

Tawaran bantuan kecil, seperti menggantikan kelas, berbagi bahan ajar, atau sekadar menyapa dengan hangat, sering kali lebih bermakna dari kata-kata indah.
Ketulusan itu terasa, meski tanpa banyak bicara. Ia membangun jembatan kepercayaan dan menumbuhkan budaya tolong-menolong di lingkungan kerja.
Dalam sebuah filosofi Budaya Nusantara dari MasyarakatBugis Makassar, terdapat prinsip “Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge” (saling memanusiakan, saling menghormati, saling mengingatkan) adalah landasan etika sosial yang sepatutnya terus dihidupkan di setiap sekolah.

Ketulusan Adalah Wibawa Sejati Guru

Guru yang Rendah Hati, tidak suka menonjolkan diri, dan senantiasa menjaga tutur kata akan selalu dihormati, bukan karena pencitraan, tetapi karena ketulusannya.
Ia tidak berkompetisi untuk terlihat hebat, melainkan berjuang agar orang lain ikut bertumbuh. Ia tidak membangun tembok perbedaan, tetapi menumbuhkan taman kerja sama yang menyejukkan.

Dalam pandangan Prof. H.A.R. Tilaar, “Guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa yang menuntut integritas moral dan sosial.” Maka, menjaga sikap di lingkungan kerja bukan hal sepele, ia adalah wujud nyata dari etika profesional seorang Guru dan Bagian Penting dari Pembangunan Karakter Bangsa.

Menjadi Teladan dalam Keheningan

Kehadiran Guru Sejati sering kali tidak disertai sorotan, tapi terasa dalam keseharian: dalam kesabarannya, kebijakannya, dan ketulusannya.
Di tangan para Guru yang beretika, bangsa ini akan tumbuh dengan peradaban yang beradab; karena dari ketulusan hati merekalah, lahir generasi yang berpikir jernih dan berjiwa damai.

Guru adalah Pelita Peradaban Bangsa.
Semoga para Guru di seluruh Indonesia senantiasa diberkahi kekuatan untuk menjaga keikhlasan, memperkuat profesionalisme, dan menebarkan sinar keteladanan bagi bangsa yang terus belajar dan bertumbuh.

Salam Hormat dan Takzim kepada Profesi Profesional Guru.
Tentang Penulis :
Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd. (Purnakarya ASN-PNS Guru, Pengawas dan Kepala Sekolah. Pemerhati Pendidikan, Adat, Seni Budaya dan Keberagaman Nusantara)
Editor : Usman Laica.

By admin