Oleh : Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.

independennews.id — Dalam perjalanan panjang Peradaban Bangsa, Guru selalu menempati tempat yang Mulia, bukan karena mereka tanpa cela, melainkan karena dari merekalah Ilmu menjadi Cahaya bagi Kehidupan.

“Di tangan seorang Guru, Pengetahuan Mentransformasi Diri Seseorang dari Ketidaktahuan menuju Kemajuan, dari Kegelapan menuju Pencerahan”.

Namun, akhir-akhir ini, ada gejala yang mengkhawatirkan yakni:

“Lunturnya Adab terhadap Guru, baik dari sebagian Siswa maupun dari Orang tuanya sendiri”.

Kadang, yang membuat Anak sulit berkembang bukanlah karena ia kurang cerdas, tetapi karena “Hilangnya Keberkahan Ilmu” akibat Sikap dan Perilaku Orang tua yang tidak menghormati Gurunya.
Ketika Guru Dihina, Diremehkan, atau Dibantah di Depan Anak, sejatinya pelajaran yang tertanam bukanlah kecerdasan, tetapi “Kesombongan dan Hilangnya Adab”.

Dalam pandangan pendidikan karakter, sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri pendidikan nasional, “Ilmu tanpa Budi Pekerti adalah Kehancuran.” Artinya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari hasil akademik, tetapi dari :

“Tumbuhnya Rasa Hormat, Kerendahan Hati, dan Penghargaan terhadap Sosok Pendidik”.

Guru memang bukan makhluk sempurna. Mereka juga manusia yang bisa salah. Namun, di balik setiap kelemahan, Guru memikul Amanah suci yaitu:
“Menjadi Perantara Ilmu dan Pelita Peradaban Bangsa”.

Oleh karena itu, “Ketika Orang tua merusak Wibawa Guru di hadapan Anak, sesungguhnya mereka sedang Menutup Pintu Keberkahan Ilmu bagi Anaknya sendiri”.

Anak yang tumbuh Tanpa Rasa h
Hormat terhadap Pendidik akan kesulitan menerima makna sejati dari ilmu yang dia pelajari. Ia mungkin pandai secara kognitif, tetapi Miskin dalam Adab dan Karakter.

Filosof Pendidikan Kontemporer, Prof. Dr. Thomas Lickona, menyatakan bahwa pendidikan yang sejati harus melatih Anak bukan hanya untuk :

“Thinking Smart”, tetapi juga “Doing Good” dan “Being Good”.

Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan harus diukur dari Keseimbangan antara k
Kecerdasan dan Akhlak.

Sementara Prof. Stella Christie, pakar Psikologi Kognitif dari Indonesia, menegaskan bahwa :

“Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari bagaimana Orang Dewasa bersikap di sekitarnya. Maka, jika Orang tua menunjukkan Ketidakhormatan kepada Guru, Anak pun belajar hal yang sama, yakni sebuah Warisan Perilaku yang mengikis Adab dan Moral Bangsa”.

Dalam hubungannya dengan Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi Keberagaman dan Nilai-nilai luhur, menghormati Guru adalah Cermin Ketinggian Budaya.

Di berbagai Tradisi Adat Nusantara, Guru/Tuang Guru, atau “To Riolo”, “Amma Guru”, “Puang Guru”, hingga “Bissu Guru”, selalu dipandang sebagai “Pembawa Terang bagi Generasi Penerus”. Di sinilah pentingnya keterlibatan semua pihak termasuk : Pemerintah, Pemerintah Daerah, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat Adat, Tokoh Pendidikan, Budayawan, serta Pemuda dan Mahasiswa, untuk kembali menghidupkan Gerakan Moral :

“Menghormati Guru, Menghargai Ilmu”.

Pemerintah bersama Masyarakat perlu menguatkan ekosistem pendidikan yang menempatkan Guru sebagai Mitra sejajar Orang tua, bukan sekadar Penyampai Pelajaran. Di sinilah makna sinergi “Tri Pusat Pendidikan” yang diajarkan Ki Hajar Dewantara: “Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat”. Bila salah satunya melemah, maka hilanglah keseimbangan dalam membentuk Karakter Anak bangsa.

Guru tidak meminta Disembah, cukup Dihormati. Karena dari “Penghormatan itulah Lahir Keberkahan Ilmu, dan dari Keberkahan Ilmu itulah Tumbuh Peradaban yang Berakhlak”.

Mari Kita jaga kembali Martabat Guru, agar :

“Anak-anak Kita Tumbuh menjadi Generasi yang bukan hanya Cerdas Otaknya, tetapi juga Bening Hatinya”.

Sebuah lirik lagu Anak-anak Indonesia sangat Inspiratif, berjudul : “Pergi Belajar”

Oh, Ibu dan Ayah selamat pagi
Ku pergi belajar sampaikan nanti
Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah s’lalu tentu kau dapat
Hormati Gurumu, Sayangi Teman
Itulah tandanya kau Murid Budiman. (Ciptaan : Ibu Sud).

“Hormati Gurumu, Sayangi Teman, Itulah Tandanya Kau Murid Budiman.”
Lirik lagu : “Pergi Belajar” ciptaan Ibu Sud ini mengajarkan Nilai-nilai Penting bagi Setiap Siswa untuk Menghormati Guru dan Menyayangi Teman.

Guru adalah Orang tua Kita di Sekolah, sebagaimana Orang tua di Rumah. Dengarkan Nasihat dan Teguran Mereka, karena Semua itu adalah Bentuk Kasih Sayang. Dengan Menghormati Guru dan Menyayangi Sesama Teman, Kita Tumbuh menjadi Anak yang Berbudi Pekerti Luhur, serta Berbakti kepada Orang tua dan Guru.

“Guru adalah Pelita Peradaban Bangsa”

Hormati Guru bukan karena mereka sempurna, tetapi karena dari merekalah Ilmu menjadi Bernilai, dan Bangsa menjadi Beradab.

Salam Hidup Damai Nusantara dalam Keberagaman. Beragam, Bersatu, Berdaya untuk Indonesia Raya.
Salam Damai Indonesiaku dan Salam Hormat Penuh Takzim kepada Profesi Profesional Guru.

Tentang Penulis :
Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd. (Purnakarya ASN-PNS Guru, Pengawas dan Kepala Sekolah. Pemerhati Pendidikan, Adat, Seni Budaya dan Keberagaman Nusantara)
Editor : Usman Laica.

By admin