Oleh: Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.
“Guru Bukan Malaikat, Tapi Penjaga Nilai dan Nurani Bangsa”
independennews.id — Guru bukanlah manusia yang tak pernah bersalah. Guru juga bukan manusia yang tidak bisa marah. Namun, marah seorang Guru bukanlah karena benci, melainkan bentuk kasih sayang yang keras; sebuah energi moral untuk mendidik dan meluruskan perilaku anak didiknya. Di balik suara tegas seorang Guru, tersimpan niat luhur untuk menuntun, bukan menghukum.
Namun, kini Kita menyaksikan ironi besar di negeri ini. Ketika seorang Anak Didik merokok di lingkungan sekolah, kemudian berbohong kepada Gurunya, justru Guru yang menegur dianggap bersalah. Bahkan, ketika tindakan pendisiplinan dilakukan dengan tujuan pendidikan, Guru seringkali dihakimi publik, dijadikan sasaran pemberitaan sepihak, dan dihukum secara sosial maupun hukum.
Fenomena Pilu: Guru Dikriminalisasi, Pendidikan Dihinakan
Kasus demi kasus menunjukkan betapa rapuhnya Posisi Guru di mata sebagian masyarakat Kita hari ini. Guru Honorer Ibu Suryani di Konawe Selatan ditahan polisi dan dituntut membayar 50 juta rupiah, dituduh memukul Anak Didiknya.
Bapak Zaharman, guru SMA di Rejang Lebong, kehilangan salah satu matanya akibat ketapel Orang tua siswa.
Ibu Dini Fitria, Kepala SMA Negeri 1 Cimarga, Lebak Banten, diberhentikan oleh Wakil Gubernur karena menegur Anak Didiknya yang merokok di sekolah.
Fakta-fakta ini menggambarkan betapa Rendahnya Penghormatan terhadap Profesi Profesional Guru. Betapa mudahnya Guru dijatuhkan, bahkan oleh mereka yang seharusnya menjadi pelindung nilai dan penegak moral publik.
Guru kini seolah berdiri di ruang hampa antara dedikasi dan tuduhan, antara niat baik dan salah tafsir kekuasaan.
Ketika Guru Tak Lagi Dimuliakan
Negeri ini, tampaknya, semakin jauh dari akar nilai budaya bangsa yang menjunjung tinggi “Tatakrama, Sopan Santun, dan Penghormatan terhadap Guru”.
Di banyak Masyarakat Adat dan Pesantren, Guru atau Kiai dianggap lebih mulia dari Orang tua dalam hal ilmu. Tapi kini, tradisi luhur itu berubah menjadi ejekan di media sosial. Bahkan, Teguran Guru dianggap Pelanggaran Hak Asasi Siswa.
Jika Orang tua tidak lagi rela anaknya ditegur Guru, maka biarlah mereka mengambil alih peran itu sepenuhnya, seperti mendidik sendiri anak-anaknya di rumah, dengan segala konsekuensinya. Atau, mungkin Kita perlu mendirikan sekolah yang “Bebas Aturan”, di mana Siswa Boleh Berbohong, Merokok, dan Menolak Disiplin : Agar publik bisa melihat hasilnya di masa depan.
Krisis Keteladanan dan Erosi Kewibawaan
Filsuf pendidikan Kontemporer, Paulo Freire, menegaskan bahwa “Pendidikan Sejati adalah dialog antara Hati Nurani dan Tanggung jawab Sosial.” Bila Guru kehilangan wibawa, maka pendidikan kehilangan nuraninya. Begitu pula Ki Hajar Dewantara pernah berpesan: “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.” Nilai luhur itu kini terancam hilang, karena teladan Guru tak lagi dihargai, dan upaya mendidik dengan disiplin dianggap kekerasan.
Kita perlu kembali memahami bahwa Guru bukan musuh anak-anak Kita. Guru adalah Mata Air Pengetahuan, Penuntun Moral, dan Penjaga Masa Depan Bangsa.
Mereka bukan Penguasa Kelas, tetapi Pengasuh Akal dan Hati.
Ketika Guru dimuliakan, maka niscaya Bangsa akan Beradab. Namun ketika Guru direndahkan, maka peradaban akan perlahan runtuh.
Seruan untuk Bangkit: Pulihkan Marwah Guru Indonesia
Kini saatnya seluruh elemen bangsa : Pemerintah, Pemerintah Daerah, Lembaga Pendidikan, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Pemuda, dan Mahasiswa : Bersatu Memulihkan Martabat Guru. Pemerintah harus hadir bukan sebagai hakim, tetapi sebagai Pelindung Profesi Profesional dan Mulia ini. Masyarakat perlu kembali belajar menghormati Guru sebagai Mitra Orang tua dalam membangun generasi berkarakter.
Karena hanya Guru yang “Sakit Jiwa” yang menghukum Siswanya tanpa sebab.
Tapi lebih berbahaya lagi, hanya Guru yang “Tidak Waras” yang membiarkan siswanya melanggar aturan tanpa teguran.
Mari Kita kembalikan marwah pendidikan sebagai “Taman Budi Pekerti, bukan ruang kriminalisasi”.
Sebab di tangan Guru yang Dihormati, Lahir Generasi yang Beradab.
Tapi di tangan Bangsa yang Merendahkan Gurunya, akan tumbuh generasi yang kehilangan arah.
Menghormati Guru bukan berarti membenarkan semua tindakannya, tetapi memahami niat tulus di balik setiap langkah pendidikannya. Karena Bangsa Besar bukan diukur dari banyaknya gedung sekolah, melainkan dari sejauh mana Rakyatnya Menghormati Gurunya.
Salam Keberagaman Nusantara dan Salam Hormat Penuh Takzim.
Beragam, Bersatu, Berdaya Untuk Indonesia Raya.
Tentang Penulis :
Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd. (Pensiunan ASN-PNS Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas dari Sulawesi Barat. Pemerhati Pendidikan, Adat dan Seni Budaya Nusantara).
Editor : Usman Laica
