Oleh: Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.

independennews.id — “Saya diberikan kenikmatan oleh Allah, Ilmu Teknologi sehingga saya bisa membuat Pesawat Terbang. Tapi sekarang saya tahu bahwa Ilmu Agama dan Perbuatan Baik jauh lebih Bermanfaat bagi Umat.” Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie (8 Januari 2019)

Ketika Segalanya Kembali ke Nol

Suatu ketika, Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, berbicara dengan jujur tentang fase senja kehidupan. Ia bukan lagi sosok pemimpin yang dielu-elukan, bukan lagi sang Insinyur yang dikagumi dunia karena kejeniusannya. Ia hanya seorang lelaki tua yang menatap sunyi di rumah besar yang dahulu ramai. Ia sadar, bahwa semua Gelar, Jabatan, dan Prestasi pada akhirnya hanyalah sementara, dan niscaya semuanya akan kembali ke titik nol.

Ungkapan Habibie itu bukan sekadar pesan personal, melainkan “Renungan Universal” bagi Kita semua. Bahwa sehebat apa pun manusia, pada akhirnya akan sampai pada satu titik yakni: “Sendiri, Lemah, dan Menunggu Kepastian yang Bernama Kematian”.

Realita yang Tak Terhindarkan

Begitulah hidup : bahwa “Kekuasaan, Harta, Jabatan, dan Kebanggaan” hanyalah titipan waktu. Saat muda Kita sibuk mengejar dunia, menumpuk Pencapaian, memupuk Prestise, hingga kadang lupa menyiapkan bekal menuju Kehidupan yang Abadi.

Dalam usia lanjut, seringkali Kita baru menyadari: bahwa Rumah Besar terasa kosong, anak-anak sibuk dengan kehidupannya masing-masing, cucu-cucu yang dulu Kita rawat kini datang sekadar berswafoto lalu pulang terburu-buru.
Dan pada akhirnya, “Yang Tersisa Hanyalah Sepi”, yakni detak jam di dinding, doa yang kadang tertunda, serta kerinduan akan tangan kecil yang dulu memeluk, kini hanya sekilas kenangan.

Kalaulah Sempat…

Habibie mengajak Kita merenung dengan kalimat sederhana namun mengguncang batin:
“Kalaulah Sempat…”

  1. Kalaulah Sempat : Kita “Menyisihkan Waktu untuk Bersedekah”, bukan karena berlebih, tetapi karena ingin berbagi.
  2. Kalaulah Sempat : “Menyapa Tetangga yang Sepi:, memberi senyum dan secangkir air di kala haus.
  3. Kalaulah Sempat : “Membimbing Anak-anak Memahami Nilai Agama dan Kemanusiaan”, bukan sekadar mengejar gelar atau karier.
  4. Kalaulah Sempat : “Menanam Kebaikan”, sekecil apa pun, agar tumbuh menjadi amal yang meneduhkan di kemudian hari.

Namun sayangnya, banyak di antara Kita yang terlalu sibuk hingga lupa menyiapkan bekal rohani. Kita berlari mengejar dunia, namun melupakan arah ke mana kaki harus berhenti.

Harta, Anak, dan Jabatan Tak Lagi Menyelamatkan

Ketika “Malaikat Maut” datang menjemput :

Tak ada Gelar yang bisa menunda,

Tak ada Harta yang bisa menawar, dan

Tak ada Kuasa yang bisa menggugat.

Pertanyaan sederhana namun menggetarkan:

Siapa yang akan Memandikan Kita?

Siapa yang akan Menyalatkan, dan

Siapa yang akan Menguburkan Kita?

Akankah anak-anak yang Kita banggakan sempat hadir, atau hanya mengirim karangan bunga dan ucapan duka lewat pesan singkat?

“Kehidupan Dunia bukanlah Kepemilikan, tetapi Amanah”.
Rumah, Jabatan, dan Kekayaan hanyalah alat uji yakni:

“Seberapa Ikhlas Kita Memberi, dan Seberapa Tulus Kita Berbagi”.

Pesan untuk Bangsa dan Kemanusiaan

Renungan B.J. Habibie sejatinya bukan sekadar pesan religius, tetapi “Peringatan Moral dan Spiritual bagi Bangsa ini”.
Dalam dunia yang semakin materialistik, di mana keberhasilan diukur oleh Angka dan Jabatan, pesan Habibie mengajak Kita kembali pada esensi, yakni: “Kehidupan yang Bermakna karena Kebaikan”.

Pemerintah, Masyarakat, dan seluruh elemen bangsa seperti : Tokoh Agama, Tokoh Adat, Pendidik, Pemuda, dan Mahasiswa, seharusnya menjadikan renungan ini sebagai cermin. Bahwa Membangun Bangsa tidak cukup dengan infrastruktur fisik semata, tetapi juga dengan “Infrastruktur Moral dan Spiritual”.

Kita memerlukan generasi yang bukan hanya Cerdas dan Sukses, tetapi juga “Berjiwa Welas Asih, Beriman, dan Berempati”.

Menjadi Penabur Kebaikan

Habibie menutup pesan hidupnya dengan ajakan sederhana namun abadi, yakni:

“Teruslah menjadi Penabur Kebaikan selama Hayat masih Dikandung Badan, meski hanya Sepotong Pesan.”

Kebaikan tak selalu berupa Proyek Besar, melainkan “Konsistensi Hati yang Peduli”.
Kita mungkin tak bisa mengubah dunia, tetapi Kita bisa mengubah cara dunia memandang Kita misalnya: “Lewat Amal, Kasih, dan Doa yang Tulus”.

Hidup yang Bermakna Adalah Hidup yang Diberkati

Mari Kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk ambisi duniawi.

Mari mendengar bisikan Hati yang sering kita abaikan.
Karena pada akhirnya, hanya tiga hal yang akan menemani kita pulang:
1) Doa anak yang saleh, 2) lmu yang bermanfaat, dan 3) Amal yang tak terputus.

Semoga Kita semua termasuk dalam barisn “Si Penabur Kebaikan,” yang hidupnya tidak hanya dikenang, tetapi juga Dirindukan karena meninggalkan Cahaya bagi Sesama.

“May Kindness Abide in Our Heart”

“Let’s Spread Kindness to Others”

Beragam, Bersatu, Berdaya untuk Indonesia Raya.
Salam Keberagaman Nusantara dan Salam Hormat Penuh Takzim.
Tentang Penulis : Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd. (Pensiunan ASN-PNS Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas dari Sulawesi Barat. Pemerhati Pendidikan, Adat dan Seni Budaya Nusantara).
Editor : Usman Laica

By admin