independennews.id — Indonesia adalah negeri yang sejak dahulu telah menjadi magnet dunia. Dari zaman rempah-rempah, bangsa-bangsa Eropa berbondong-bondong datang untuk menguasai dan memonopoli hasil bumi Nusantara. Sejarah mencatat, lebih dari 350 tahun bangsa ini dijajah, salah satunya oleh VOC yang mengeruk rempah-rempah dari tanah Nusantara untuk dibawa ke Eropa, menjadikan mereka makmur, sementara anak negeri justru tertindas.

Kini, di era modern, sejarah seolah berulang dalam wajah yang berbeda. Potensi kekayaan alam Indonesia tidak hanya rempah, tetapi juga emas, nikel, batu bara, minyak, gas, hingga pasir mineral yang kesemuanya menjadi incaran dunia. Contoh paling nyata adalah tambang emas raksasa di Papua. Hanya dari satu gunung saja, hasil emas Indonesia mampu menghidupi negara adidaya seperti Amerika Serikat. Pertanyaannya: mengapa negeri yang kaya raya ini masih menanggung hutang besar?

Jawabannya sederhana namun menyakitkan: kekayaan alam kita belum sepenuhnya dikelola dengan baik, jujur, dan berpihak pada kepentingan bangsa sendiri. Selama sebagian besar kendali masih dipegang pihak asing, maka keuntungan besar justru akan mengalir keluar, meninggalkan rakyat dengan janji-janji kesejahteraan yang tak kunjung nyata.

Sinergi Pemerintah, Raja, Sultan, dan Masyarakat Adat

Di tengah tantangan tersebut, sudah saatnya Indonesia menata ulang strategi pengelolaan kekayaan alamnya. Tidak cukup hanya dengan kebijakan dari Pusat, tetapi juga harus melibatkan Raja, Sultan, dan Pewaris Adat Nusantara. Mereka adalah penjaga nilai, pemilik legitimasi sejarah, serta pihak yang paling memahami peta sosial-budaya dan potensi daerahnya.

Mengabaikan peran mereka berarti mengulangi kesalahan masa lalu: menyerahkan kendali kekayaan alam pada pihak luar. Sebaliknya, dengan merangkul Raja, Sultan, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Pendidik, Pemuda, dan Mahasiswa, maka lahirlah sebuah sinergi kuat untuk mengelola hasil bumi dengan Arif, Adil, dan Berkeadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia Tercinta ini.

Visi Internasional: Budaya dan Ekonomi Bangsa

Lebih jauh, Indonesia bukan hanya harus berdaulat atas kekayaan alam, tetapi juga menjadikan Warisan Budayanya sebagai Kekuatan Diplomasi Internasional. Pertukaran Budaya, Seni, dan Tradisi dapat berjalan beriringan dengan misi perdagangan dan ekspor. Seperti halnya rempah-rempah dahulu menjadi Primadona, kini produk Indonesia, baik hasil Alam maupun hasil Budaya, dapat menjadi Wajah Baru Diplomasi Ekonomi dan Kultural Bangsa.

Kepemimpinan yang Visioner

Momentum ini semakin relevan karena Indonesia kini dipimpin Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto yang dikenal memiliki Visi Besar untuk Kedaulatan Bangsa, serta didukung Menteri Kebudayaan yang peduli terhadap Warisan Budaya Nusantara. Dengan komitmen tersebut, maka jalan menuju Indonesia yang Mandiri, Berdaulat, dan Bermartabat semakin Terbuka.

Namun, pekerjaan besar ini tidak bisa hanya diserahkan pada Pemerintah. Dibutuhkan partisipasi seluruh Elemen Bangsa. Rakyat harus ikut mengawal, Tokoh Masyarakat harus menjadi Penuntun Moral, dan Generasi Muda harus tampil sebagai Penggerak Utama agar kekayaan negeri benar-benar dinikmati untuk kemakmuran bersama.

Bangkit untuk Generasi Emas

Kita tidak boleh lagi menjadi penonton dari kekayaan yang Kita miliki. Indonesia terlalu Besar untuk sekadar dijadikan Ladang Keuntungan Bangsa lain. Dengan pengelolaan yang Jujur, Transparan, dan Berpihak kepada Rakyat, maka niscaya Hutang Negara bisa Dilunasi, Kesejahteraan bisa Diwujudkan, dan Generasi Muda akan Menikmati Hasil Bumi yang menjadi Haknya.

Mari Kita bersinergi, Merajut Kembali Kedaulatan Bangsa dengan melibatkan semua unsur seperti: Pemerintah, Raja dan Sultan, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat Adat, Pendidik, Pemuda, hingga Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan demikian, Indonesia bukan hanya menjadi Negeri Kaya Sumber Daya, tetapi juga Kaya Martabat, Berdiri Sejajar dengan Bangsa-bangsa Besar di Dunia.

Salam Budaya Literasi dan Salam Hormat Penuh Takzim .
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin