independennews.id — Percepatan Digitalisasi Sekolah di Indonesia membuka peluang Besar bagi peningkatan Kualitas Pendidikan. Anak-anak kini lebih mudah mengakses ilmu pengetahuan melalui perangkat digital, aplikasi belajar, dan berbagai media interaktif. Namun, di balik peluang tersebut, muncul pula tantangan serius berupa potensi kecanduan Gawai, Penurunan Kualitas 8nteraksi Sosial, hingga paparan konten negatif yang dapat mengancam tumbuh kembang anak.

Di sinilah “Peran Penting Parenting menjadi Kunci”. Orang tua bukan hanya sekadar “Penonton” perkembangan anak di era digital, Melainkan Aktor Utama yang Menentukan Mrah, Membimbing, dan menjadi Teladan.

Peran Kunci Parenting di Era Digitalisasi Sekolah

  1. Pendampingan dan Pengawasan
    Orang tua perlu hadir mendampingi anak saat menggunakan perangkat digital, memantau aktivitas online mereka, sekaligus memberikan batasan agar tidak terjebak dalam konten berbahaya dan kecanduan layar.
  2. Bimbingan dan Aturan
    Menetapkan aturan yang jelas mengenai “Screen Time”, memilih konten yang sesuai, serta mengajarkan anak menggunakan teknologi berdasarkan kebutuhan belajar, bukan sekadar hiburan.
  3. Mengembangkan Literasi Digital
    Anak harus didorong untuk memiliki kecerdasan digital yang kritis, etis, dan produktif. Mereka perlu belajar membedakan informasi benar dan hoaks, serta mengutamakan penggunaan teknologi untuk karya positif.
  4. Komunikasi Terbuka
    Relasi sehat antara Orang tua, Anak, dan Guru adalah Fondasi. Dengan komunikasi yang hangat dan jujur, orang tua dapat memahami tantangan anak di dunia maya sekaligus memberi dukungan emosional.
  5. Membangun Hubungan Kuat
    Kasih Sayang, Perhatian, dan Teladan dari Keluarga adalah Tameng Utama bagi Anak. Hubungan yang hangat di rumah melindungi mereka dari kesepian dan tekanan akibat derasnya arus digital.
  6. Adaptasi dan Belajar Terus-Menerus
    Parenting tidak bisa statis. Orang tua harus terus belajar, terbuka pada perubahan, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tidak tertinggal dari anak-anaknya sendiri.

Dampak Digitalisasi Sekolah pada Anak

  1. Dampak Positif.
    Anak lebih mudah belajar membaca, berhitung, berbahasa, bahkan mengembangkan kreativitas melalui aplikasi digital. Dunia pengetahuan kini hanya sejauh sentuhan jari.
  2. Dampak Negatif. Kelebihan penggunaan Gawai dapat mengganggu kesehatan fisik, menunda perkembangan bahasa, mengikis nilai-nilai sosial, serta membuka risiko kecanduan dan paparan konten tidak pantas.

Maka, orang tua perlu menjadi “Filter Hidup” yang mendampingi anak agar manfaat digitalisasi bisa dipetik tanpa kehilangan jati diri.

Perspektif Agama dan Adat : Teknologi sebagai Amanah

Dalam pandangan Agama, Anak adalah Amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Islam, misalnya, menekankan pentingnya menjaga Fitrah Wnak sejak Dini. Rasulullah SAW bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan Fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya…” (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan ini menegaskan bahwa Orang tua adalah faktor penentu dalam pembentukan karakter anak, termasuk dalam penggunaan teknologi.

Dalam Kearifan Lokal dan Adat Nusantara, ada pepatah yang berbunyi “Saling menjaga Harga diri, Saling menjaga Perasaan”. Filosofi ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan sosial dan emosional. Dalam hal digital, pepatah ini menegaskan bahwa Orang tua perlu mengawal Anak agar tidak kehilangan nilai-nilai kebersamaan akibat dunia maya.

Tokoh Masyarakat Adat juga sering mengingatkan bahwa kemajuan teknologi hanya akan bermakna jika tetap berpijak pada Akar Budaya. Adat menuntun agar digitalisasi tidak merenggut Jati Diri Generasi Muda, melainkan menjadi sarana Memperkuat Identitas Bangsa.

Parenting Proaktif : Jalan Tengah untuk Generasi Emas

Parenting Bijak dalam Digitalisasi Sekolah bukan berarti menolak teknologi, melainkan “Menjadikan Teknologi sebagai Sahabat yang Dikendalikan dengan Aturan, Kasih Sayang, dan Nilai-nilai Luhur Agama serta Budaya”.

Orang tua, Guru, Pemerintah, Tokoh Agama, Tokoh Adat, hingga Pemuda dan Mahasiswa harus bergandengan tangan. Digitalisasi sekolah hanya akan berhasil jika semua pihak sadar bahwa mendidik anak di era digital adalah Tanggung Jawab Bersama.

Digitalisasi Sekolah adalah Keniscayaan Zaman. Namun, tanpa Parenting yang Adaptif, Proaktif, dan berlandaskan Nilai Agama serta Kearifan Lokal, maka niscaya Generasi Kita Bisa Kehilangan Arah. Parenting bukan sekadar Pola Asuh, melainkan Benteng Utama yang melindungi Anak dari bahaya digital sekaligus Jembatan yang Menuntun mereka Menuju Masa Depan yang Cerdas, Berakhlak Mulia, dan Berbudaya.

“Anak-anak Kita adalah Generasi Emas. Mari jaga mereka dengan Parenting yang Bijak di Era Digital”.

Salam Budaya Literasi dan Salam Hormat Penuh Takzim.
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin