independennews.id — Pendidikan Indonesia sedang berada pada persimpangan zaman, penting : antara tuntutan globalisasi, revolusi digital, dan kebutuhan membangun karakter bangsa yang kokoh.
Di tengah derasnya arus teknologi dan budaya asing, kita memerlukan jangkar filosofi yang kuat agar pendidikan tidak tercerabut dari akar budayanya.
Di sinilah ajaran Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, menemukan relevansinya kembali.
Ki Hadjar menegaskan bahwa “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” Pandangan ini bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan jawaban aktual atas krisis pendidikan yang cenderung terjebak pada aspek kognitif semata.
Pilar Filosofi Ki Hadjar Dewantara
- Tuntunan Kodrat Alam dan Zaman
- Kodrat Alam mengajarkan bahwa setiap anak adalah pribadi unik dengan potensi bawaan yang harus dituntun, bukan dipaksa.
- Kodrat Zaman menegaskan bahwa pendidikan harus relevan dengan perkembangan era digital, tanpa kehilangan pijakan pada nilai budaya bangsa.
- Pendidikan Holistik dan Kemerdekaan Belajar
- Holistik berarti pendidikan tidak hanya mengasah otak, tetapi juga membina hati, karakter, spiritualitas, keterampilan, dan kepekaan sosial.
- Kemerdekaan berarti setiap anak berhak belajar sesuai bakat dan minat, bukan sekadar mengikuti standar kaku yang seragam.
- Penguatan Pendidikan Karakter dan Budi Pekerti
Prinsip asah, asih, asuh harus hadir di ruang kelas, membentuk siswa berakhlak mulia, berempati, dan memiliki integritas.
- Trilogi Kepemimpinan Ki Hadjar
- Ing Ngarso Sung Tuladha – Guru sebagai teladan.
- Ing Madya Mangun Karsa – Guru sebagai fasilitator dan penggerak ide.
- Tut Wuri Handayani – Guru sebagai pemberi dorongan, bukan paksaan.
Suara Tokoh Agama, Adat, dan Pendidikan
- Tokoh Agama menegaskan bahwa pendidikan sejati harus berlandaskan nilai moral dan spiritual. Seperti pesan KH. Hasyim Asy’ari: “Ilmu tanpa Adab bagaikan api tanpa Cahaya.” Maka, pendidikan karakter adalah ruh yang tidak boleh ditinggalkan.
- Tokoh Adat melihat pendidikan sebagai bagian dari pewarisan nilai budaya. Pendidikan harus menjadikan anak-anak tidak tercerabut dari akar budayanya.
- Tokoh Nasional seperti Bung Karno pernah mengingatkan, “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang tidak melupakan Sejarahnya.” Artinya, pendidikan harus melahirkan generasi yang sadar sejarah sekaligus visioner menghadapi masa depan.
- Tokoh Pendidikan Kontemporer seperti Prof. Stella Christie (peneliti pembelajaran dan perkembangan anak) menegaskan pentingnya learning to learn dan nutrisi sebagai fondasi kecerdasan anak. Hal ini memperkaya filosofi Ki Hadjar yang menekankan budi pekerti sebagai dasar pembelajaran.
Tujuan Penguatan Sistem Pendidikan Nasional
- Membentuk manusia Indonesia seutuhnya : cerdas, berkarakter, berbudaya, dan beradab.
- Membangun identitas bangsa yang kokoh di tengah globalisasi.
- Menyiapkan generasi yang kreatif, adaptif, dan mampu berkompetisi tanpa kehilangan jati diri.
- Mengembangkan masyarakat demokratis dan berkeadilan, berlandaskan kearifan lokal dan nilai spiritual.
Rekomendasi Konkret
- Reformasi Kurikulum Menyelaraskan kurikulum nasional dengan kodrat anak dan zaman, menyeimbangkan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
- Pelatihan Guru Berbasis Filosofi Ki Hadjar Setiap Guru harus mengikuti Pelatihan profesional secara intensif dan Sertifikasi Kompetensi Profesi yang dilakukan oleh Lembaga Independen seperti Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Ketiga (LSP-P3) Sektor Manajemen Pendidikan berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) RI. Sertifikat Kompetensi Profesi yang diterima bukan sekadar kertas berlogo Garuda, tetapi “Jaminan Mutu” bahwa Guru yang bersangkutan sudah memenuhi standar nasional dan siap bekerja secara Profesional. Sertifikat dimaksud adalah “Dokumen Resmi dan merupakan Dokumen Negara” karena diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) RI sebagai bukti kompetensi yang sah dan resmi diakui di Indonesia dan Dunia Internasional. Oleh karena, Guru bukan hanya pengajar, tetapi teladan dan pembimbing moral. Kita tidak hanya membangun kepercayaan publik, tetapi juga mengisyaratkan bahwa Guru harus Kompeten, Profesional dan siap menghadapi tantangan zaman.
- Integrasi Kearifan Lokal Nilai adat, budaya, dan agama masuk atau terintegrasi dalam pembelajaran sebagai sumber karakter dan identitas bangsa.
- Pendidikan Berbasis Komunitas Melibatkan Tokoh Agama, Tokoh Adat, dan Masyarakat sebagai “Mitra” pendidikan.
- Merdeka Belajar dengan Arah yang Jelas Kebebasan belajar harus tetap berpijak pada nilai Pancasila dan Kebudayaan Nasional.
- Penguatan Karakter Digital Pendidikan harus membekali siswa dengan etika digital agar tidak hanyut dalam arus teknologi tanpa kendali moral.
- Kebijakan Nasional yang Konsisten Pemerintah Pusat dan Daerah harus menjadikan filosofi Ki Hadjar sebagai fondasi kebijakan pendidikan, bukan sekadar jargon.
Akhirnya, upaya Menguatkan dan meneguhkan Sistem Pendidikan Nasional dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan menempuh jalan strategis untuk melahirkan generasi Indonesia yang “Merdeka, Berkarakter, Berbudaya, dan Beradab”. Pendidikan bukan sekadar ruang kelas, melainkan ladang pembentukan manusia yang seutuhnya.
Seperti dikatakan Ki Hadjar Dewantara, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.”
Maka, tugas Negara, Masyarakat, dan Pendidik harus memastikan tuntunan itu berjalan baik, menyejukkan dan membahagiakan Hati untuk semua, bukan dengan paksaan, tetapi dengan kasih sayang, keteladanan, dan dorongan penuh Cinta yang tulus dan ikhlas dari Pendidik Profesional kepada Anak Didiknya.
Salam Budaya Literasi dan Salam Hormat Penuh Takzim..!
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica
