Polewali Mandar (Sulbar), independennews.id — Di antara cakrawala biru laut dan langit Sulawesi Barat, sebuah tradisi bahari bangkit kembali dengan semangat baru: Sandeq Silumba. Lebih dari sekadar perlombaan perahu layar, Sandeq Silumba adalah simbol kejayaan maritim masyarakat Mandar—tradisi yang kini tengah diarahkan untuk menjelma menjadi event budaya kelas dunia.
Sandeq dikenal luas sebagai “perahu layar tradisional tercepat di dunia.” Dibuat tanpa mesin dan sepenuhnya menggunakan teknik pembuatan manual turun-temurun, perahu ini menjadi representasi dari kearifan lokal dan ketangguhan masyarakat pesisir Mandar yang telah menjelajah samudra sejak zaman nenek moyang.

Kini, melalui Festival Sandeq Silumba, perahu-perahu ini kembali berpacu di lintasan laut, menghadirkan tontonan adrenalin, keindahan, serta pesan kuat tentang budaya bahari yang hidup dan membanggakan.
Kenapa Sandeq Silumba Layak Menjadi Event Internasional?
Dalam semangat kemerdekaan dan kebangkitan budaya lokal, Sandeq Silumba dinilai layak mendapat tempat di kalender budaya dunia karena tiga alasan utama:
• Keunikan yang Mendunia
Tak banyak warisan bahari yang bertahan dalam bentuk asli dan masih aktif digunakan. Kecepatan dan kemampuan manuver Sandeq di lautan telah menjadikannya layak diperhitungkan sejajar dengan ajang global seperti Sydney to Hobart Yacht Race atau America’s Cup.
• Daya Tarik Wisata yang Komplet
Sandeq Silumba tidak hanya menyuguhkan lomba perahu. Ia adalah festival budaya penuh warna: dari iringan musik tradisional Mandar, pertunjukan tarian penyambutan, hingga pameran tenun Sekomandi dan sarung sutra. Perpaduan ini menyatukan sport tourism, cultural tourism, dan eco tourism dalam satu kemasan wisata yang unik.
• Dampak Ekonomi dan Identitas Daerah
Dengan penyelenggaraan yang terencana, Sandeq Silumba diyakini mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Kegiatan ini akan memberi dampak langsung pada sektor perhotelan, kuliner, transportasi, kerajinan tangan, serta memperkuat identitas Sulawesi Barat sebagai provinsi bahari berkelas dunia.
Dukungan Pemerintah: Menuju Diplomasi Budaya Bahari
Dukungan terhadap Sandeq Silumba datang dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah pusat. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Luh Puspa, dalam pernyataannya menyebut Sandeq Silumba sebagai potensi unggulan nasional yang layak mendapat panggung internasional.
“Indonesia siap memperkenalkan Sandeq Silumba ke mata dunia. Tradisi bahari ini tak hanya layak dilestarikan, tapi juga dipromosikan sebagai kekuatan budaya bangsa,” ujar Wamenparekraf dalam kunjungannya ke Sulawesi Barat.
Dengan sinergi antara pemerintah, komunitas lokal, dan pelaku pariwisata, festival ini diyakini tidak hanya akan bertahan, tetapi menjadi warisan yang produktif dan mendunia.
Dari Mandar, Untuk Dunia
Sandeq Silumba adalah lambang keberanian, persatuan, dan keteguhan identitas bangsa maritim. Saat dunia berburu otentisitas budaya dan wisata berbasis kearifan lokal, Sandeq hadir sebagai jawaban: sebuah panggung laut Nusantara yang menyatu dengan sejarah dan harapan masa depan.
“Saatnya layar putih Sandeq membelah ombak internasional, menebar pesona budaya Nusantara, dan berlabuh di hati para wisatawan dunia,” tegas Sjahrir Tamsi, budayawan Mandar sekaligus penulis yang menggagas narasi budaya ini.
Agustus: Rindu yang Menyala dalam Kemerdekaan

Dalam refleksi bulan kemerdekaan, Sandeq Silumba hadir bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai pengingat tentang nilai-nilai persatuan dan perjuangan. Bagi Tamsi—yang juga lahir di bulan Agustus (8 Agustus 1964)—bulan ini adalah bara semangat yang tak boleh padam.
“Agustus bukan sekadar bulan peringatan. Ia adalah ruang rindu akan persatuan, budaya, dan semangat para pahlawan,” tulisnya.
Ayo Dukung Sandeq Silumba! Dari Mandar untuk Dunia!
Join the Sandeq Silumba Wave! From Mandar to the World!
Penulis: Sjahrir Tamsi
Editor: Usman Laica
