Polewali Mandar (Sulbar), independennews.id — Di ufuk barat Pulau Sulawesi, tepat saat angin laut membelai layar putih perahu-perahu tradisional, sebuah festival lahir dari semangat dan jati diri bangsa maritim: Sandeq Silumba. Ia bukan sekadar perlombaan. Ia adalah jiwa, adalah sejarah, adalah warisan luhur yang kini siap menembus batas Nusantara, menuju panggung budaya internasional.
Sandeq—perahu layar khas Suku Mandar yang telah digunakan selama berabad-abad—dikenal sebagai perahu layar tradisional tercepat di dunia. Dibuat tanpa paku dan mesin, hanya dengan keterampilan tangan turun-temurun, Sandeq adalah karya seni hidup. Dan dalam Festival Sandeq Silumba, perahu-perahu ini tidak hanya berlomba di laut, tetapi juga membawa pesan keberanian, kebanggaan, dan semangat bangsa bahari.
Kenapa Sandeq Silumba Layak Jadi Event Internasional?
Ada setidaknya tiga alasan utama mengapa Sandeq Silumba patut mendapat tempat di kancah budaya global:
1. Keunikan yang Mendunia
Di era globalisasi, sedikit sekali warisan budaya yang masih hidup dan berfungsi sebagaimana aslinya. Sandeq, dengan kecepatan dan ketangguhannya, telah membuktikan bahwa tradisi bisa tetap relevan. Ajang ini berpotensi sejajar dengan event maritim bergengsi seperti Sydney to Hobart Yacht Race atau America’s Cup.
2. Daya Tarik Wisata yang Komplet
Sandeq Silumba tak hanya lomba perahu. Ini adalah festival budaya: menyuguhkan parade perahu hias, musik tradisional, tarian penyambutan, pameran kerajinan lokal, hingga kuliner khas Mandar. Perpaduan antara sport tourism, cultural tourism, dan eco-tourism menjadikannya magnet baru bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
3. Dampak Ekonomi dan Penguatan Identitas Daerah
Dengan promosi yang tepat, Sandeq Silumba bisa menjadi penggerak utama ekonomi lokal Sulawesi Barat. Wisatawan yang datang akan mendorong sektor penginapan, UMKM, transportasi, hingga seni kerajinan. Lebih dari itu, ia menjadi sarana memperkuat identitas Sulbar sebagai ikon maritim Indonesia Timur.
Dukungan dari pemerintah pusat pun mulai mengalir. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Luh Puspa, menyatakan bahwa Indonesia siap menjadikan Sandeq Silumba sebagai festival unggulan nasional yang ditawarkan ke dunia.
“Ini bukan hanya tentang lomba. Ini tentang warisan. Tentang bangsa maritim yang tak pernah lupa akar dan lautnya,” ujar Puspa saat mengunjungi Polewali Mandar.
Dari Mandar, untuk Dunia
Sandeq Silumba bukan hanya tentang perahu. Ia adalah simbol dari ketangguhan generasi yang hidup berdampingan dengan laut. Perahu ini membawa pesan bahwa meski sederhana dalam bentuk, ia sarat akan nilai: persatuan, perjuangan, dan semangat menjelajah.
Festival ini diharapkan akan menjangkau dunia. Lewat diplomasi budaya, Sandeq dapat menjadi salah satu ikon Indonesia di forum budaya internasional, sebagaimana tari Bali, batik, atau angklung.
“Saatnya layar putih Sandeq membelah ombak internasional, menebar pesona budaya Nusantara, dan berlabuh di hati para wisatawan dunia,” kata Sjahrir Tamsi, budayawan Mandar sekaligus penulis dan penggerak Sandeq Silumba.
Agustus, Bulan Rindu & Kemerdekaan
Bulan Agustus bukan hanya perayaan kemerdekaan. Bagi mereka yang lahir di bulan ini, seperti Sjahrir Tamsi (8 Agustus 1964), Agustus adalah api yang menyala: warisan semangat perjuangan dan cinta tanah air yang abadi.
“Kami yang lahir di bulan ini seolah mewarisi bara semangat kemerdekaan itu,” tuturnya dalam catatan reflektifnya.
Dengan semangat itulah, Sandeq Silumba tak hanya dilihat sebagai pesta lokal, melainkan langkah strategis untuk membawa budaya Mandar mendunia.
Dirgahayu Indonesiaku
Semoga layar Sandeq tak hanya mengarungi laut, tapi juga mengarungi hati dunia.
Mari bersama mendukung Sandeq Silumba: Dari Mandar, Untuk Dunia. Join the Sandeq Silumba Wave! From Mandar to the World!
Penulis: Sjahrir Tamsi
Editor: Usman Laica
