Kepala SMPN 1 Sampaga, H. Ibrahim, S.Pd., M.Pd

MAMUJU, independennews.id“Sejak dipercaya pengambil kebijakan menjabat top leader, saya fokuskan perhatian dan genjot kinerja untuk mewujudkan SMPN 1 Sampaga, menjadi sekolah bermutu, berkualitas dan kompetitif, yang berlandaskan agama dan budaya,” kata Kepala SMPN 1 Sampaga Kabupaten Mamuju, Sulbar, H. Ibrahim, S.Pd., M.Pd, di ruang kerjanya, Sabtu 15/03/2025.

Sebab lanjutnya, selain ilmu pengetahuan dan teknologi, para siswa juga harus menguasai pengetahuan agama, norma, budaya, adat dan istiadat bangsa dan negara. Supaya tidak terbawa arus dan pengaruh budaya asing dan dampak negatif yang ditimbulkan kemajuan globalisasi

“Olehnya itu, kami akan membina siswa semaksimal mungkin, agar kelak menjadi insan intelek yang bereligi dan berkarakter. Karena pada dasarnya, kepintaran dalam IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) akan merusak watak, karakter dan keperibadian siswa tanpa didasari dengan IMTAQ (Iman dan Taqwa). Maka dari  itulah, saya akan membangun kerjasama dengan para guru, staf, komite, orang tua siswa dan pemerintah untuk mensukseskan program, visi misi dan tujuan sekolah,” terangnya sambil tersenyum.

Dimana, paparnya lagi, pada awal menjalankan tugas sebagai kepala sekolah SMPN 1 Sampaga, ia mengamati dan mensurvey kelebihan/kekuatan dan kekurangan/kelemahan sekolah. Kemudian kelebihan/kekuatan dikembangkan dan dijadikan penggerak menuju prestasi, sedangkan kekurangan atau kelemahannya akan dibenahi dan berupaya mencari solusi atau cara membenahinya menjadi kekuatan.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah, jelasnya penuh semangat, menerapkan beberapa langkah bijak dan dapat diterima oleh seluruh stakeholder, yaitu: Pertama, menerapkan kedisiplinan secara feleksible, efektif dan efisien yang meliputi disiplin waktu, disiplin datang-pulang sekolah, disiplin kerja, disiplin dalam kegiatan pembelajaran, disiplin mengemban tugas dan tanggung jawab, disiplin berkinerja dan disiplin administrasi. Kedua, menerapkan ketransparansian dalam segala hal, khususnya pada pengelolaan keuangan seperi dana BOS, dan dana-dana lainnya yang diterima sekolah. Dengan cara, bendahara yang diangkatnya diberdayakan sesuai dengan Tupoksinya (Tugas Poko dan Fungsinya). Ketiga, menerapkan sistem manajemen partisipatif. Dalam artian,melibatkan para guru dan staf dalam setiap kegiatan sekolah, dengan cara membagikannya job yang relevan dengan kapasitas kemampuannya masing-masing. Keempat, membangun kebersamaan, agar tumbuh kerjasama yang kompak, harmonis dan kondusif antar stakeholder. Kelima, menanamkan prinsip nawaetu dalam bekerja, supaya memiliki rasa ikhlas dan tanggung jawab tinggi, terhadap tugas yang diembannya. Karena menurutnya, jika dalam bekerja dibarengi dengan keikhlasan dan tanggung jawab tinggi dapat menuai hasil yang memuaskan, meskipun kemampuan yang dimiliki hanya pas-pasan saja.

“Khusus pelaksanaan kegiatan pembelajaran, saya mengharuskan guru untuk memantapkan persiapan dan perangkat pembelajarannya sebelum masuk kelas. Saya juga tidak membiarkan adanya kelas/jam lowong, meskipun guru yang bertugas saat itu berhalangan, dengan cara mengarahkan guru lain yang tidak memiliki kesibukan untuk mengisinya, dan jika tidak ada maka saya sendiri yang turun tangan”, ujar H. Ibrahim, S.Pd., M.Pd, sambil tersenyum penuh keakraban.

Dalam mengemban amanah, jelasnya dengan ramah,  pihaknya juga mengacu pada visi dan misi sekolah, sebab di dalamnya telah tertuang dengan jelas sasaran yang akan dicapai. Visi-nya ialah “Terwujudnya Peserta Didik yang Beriman, Cerdas, Terampil, Mandiri dan Berwawasan Global”, sedangkan Misi-nya terdiri dari: (1) Menanamkan keimanan dan ketaqwaan melalui pengamalan ajaran agama, (2) Mengoptimalkan proses pembelajaran dan bimbingan, (3) Mengembangkan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan minat, bakat dan potensi peserta didik, (4) Membina kemandirian peserta didik melalui kegiatan pembinasaan, kewirausahaan, dan pengembangan diri yang terencana dan berkesinambungan, (5) Menjalin kerjasama yang harmonis antara warga sekolah, dan lembaga lain yang terkait.

Dan merujuk pada visi dan misi sekolah tersebut, terangnya lagi penuh semangat, pihaknya memiliki tujuan sekolah yang akan diwujudkan antara lai: (1) Tercapainya peserta didik yang memiliki karakter keiamanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha esa serta berakhlak mulia dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, (2) Tercapainya peserta didik yang memiliki karakter cinta tanah air dan kebhinnekaan serta berbudaya baik lokal maupun global dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, (3) Tercapainya peserta didik yang memiliki karakter mandiri, bernalar kritis, dan kreatif serta gotong-royong dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, (4) Unggul dalam persaingan masuk ke jenjang SMA Negeri dan SMA Unggulan, (5) Unggul dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama bidang sains dan matematika, (6) Unggul dalam lomba olahraga, kesenian, PMR, dan Pramuka. “Saya juga jadikan kebersamaan, keterbukaan dan musyawarah sebagai tonggak utama dalam memimpin di SMPN 1 Sampaga ini. Sebab menurut saya, kebersamaan, keterbukaan (tranpasransi), dan musyawarah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena kenapa? Kebersamaan tidak akan terbangun di sekolah tanpa adanya keterbukaan yang dilakukan kepala sekolah daam setiap kegiatan sekolah, khususnya pada pengelolaan keuangan. Sedangkan musyawarah menuntut adanya keterbukaan dan kebersamaan untuk memutuskan segala sesuatu dalam rapat atau pertemuan yang dihadiri seluruh stakeholder sekolah yang berkompeten”, aku H. Ibrahim, S.Pd., M.Pd, penuh semangat. 

“Saya juga implementasikan sistem kerja dalam tubuh dalam kepemimpinan saya, karena hal ini sangat bagus dalam membangun kekeluargaan, kebersamaan dan kekompakan seluruh stakeholders sekolah. Maksudnya, cara kerja dan rasa dalam tubuh terimplementasi dalam manajemen dan kinerja di sekolah, sehingga apapun yang diperoleh dan dirasakan di sekolah dapat dinikmati dan disarakan juga oleh seluruh stakeholders mulai dari guru, staf, orang tua siswa dan komite sekolah. Artinya, seperti tubuh, jika merasakan manis maka semua anggota tubuh juga ikut merasakannya, jika bahagia maka seluruh anggota tubuh juga merasa bahagia, jika sedih dan sakit maka seluruh anggota tubuh lainnya juga meraskan. Nah, seperti itu juga di sekolah, apabila manis, bangga dan bahagia, maka seluruh stakeholder juga merasakannya, begitupula dengan sebaliknya”, paparnya penuh semangat.

Selain itu, tambahnya, dalam menyelesaikan sesuatu, pihaknya menganut prinsip dari bawah ke atas. Maksudnya, apabila ada permasalahan, maka penyelesaiannya di mulai dari bawah ke atas. Jadi, mulai dari guru, kalau belum bisa selesai maka dilanjutkan ke wali kelas, dan apabila masih belum selesai juga maka lanjut ke BK (BP), dan setelah dari BP (BK) belum bisa selesai juga maka dilanjutkan ke Kaur (Kepala Urusan). Jika terkait dengan kurikulum maka Kaur Kurikulum yang tangani, jika permasalahan terkait dengan sarana/prasarana maka dilanjutkan ke Kaur Sarpras, dan jika terkait dengan kesiswaan maka di teruskan ke Kaur Kesiswaan. Apabila telah ditangani oleh Kaur, tapi belum selesai maka Kaur yang menangani akan melakukan konsultasi untuk memperoleh pandangan dan atau arahan dari Kepala Sekolah.

“Saya juga selalu sampaikan kepada para guru, agar membuka dan belajar melalui aplikasi PMM, sebab pada dasarnya peran PMM (Platform Merdeka Mengajar) dalam implementasi Kurikulum Merdeka sangat besar,” jelasnya dengan serius.

Pasalnya, tambahnya lagi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikburistek) yang sekarang berubah menjadi Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan menengah) mengembangkan Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang merupakan platform edukasi yang menjadi teman penggerak untuk pendidik dalam mewujudkan Pelajar Pancasila yang memiliki fitur Belajar, Mengajar, dan Berkarya. Yakni: Pertama, Platform Merdeka Mengajar menyediakan referensi bagi guru untuk mengembangkan praktik mengajar sesuai dengan Kurikulum Merdeka, dalam fitur Mengajar, ada fitur Perangkat Ajar yang dapat digunakan oleh Guru dan Tenaga Kependidikan dalam mengembangkan diri, saat ini tersedia lebih dari 2000 referensi perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka. Fitur asesmen murid yang dikembangkan untuk membantu guru dan tenaga kependidikan melakukan analisis diagnostik terkait kemampuan peserta didik dalam literasi dan numerasi dengan cepat sehingga dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik. Kedua, Platform Merdeka Mengajar memberikan kesempatan yang setara bagi guru untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya kapan pun dan di mana pun guru berada. Fitur Belajar pada Platform Merdeka Mengajar memberikan fasilitas Pelatihan Mandiri yang memberikan kesempatan kepada guru dan tenaga kependidikan untuk dapat memperoleh materi pelatihan berkualitas dengan mengaksesnya secara mandiri. Fitur lain dari Belajar adalah Video Inspirasi, fitur ini memberikan kesempatan kepada Guru dan tenaga kependidikan bisa mendapatkan beragam video inspiratif untuk mengembangkan diri dengan akses tidak terbatas yang pada akhirnya adalah mengembangakn kualitas dari komptensinya dalam implementasi kurikulum merdeka. Ketiga, Platform Merdeka Mengajar mendorong guru untuk terus berkarya dan menyediakan wadah berbagi praktik baik. Fitur lainnya adalah Berkarya, dimana fitur ini adalah memberikan “Bukti Karya Saya” yang merupakan best praktis dari hasil implementasi pembelajaran terutama terkait best praktis pembelajaran pada kurikulum merdeka, Guru dan tenaga kependidikan dapat membangun portofolio hasil karyanya agar dapat saling berbagi inspirasi dan berkolaborasi sehingga guru dapat maju bersama.

“Sejalan dengan itulah, PMM yang dikembangkan diharapkan mampu menjadi partner guru dalam implementasi kurikulum merdeka dengan semangat kolaborasi dan saling berbagi. Konten konten yang dikembangkan oleh Kemendikbudristek memberikan pemahaman lebih saat implementasi dan pembelajaran di satuan pendidikan yang telah ikut serta dalam implementasi kurikulum merdeka,” paparnya sambil tersenyum.

“Selama ini kepala sekolah tidak pernah menganggap kami sebagai bawahan, tetapi dijadikannya mitra kerja yang saling membutuhkan dan saling menghormati satu sama lain. Kemudian dia juga tidak pernah marah, menegur dan memerintah, melainkan segala sesuatunya ia tunjukkan dengan sikap dan prilaku (keteladanan). Salah satu contoh, pada pengaplikasian disiplin, dimana dalam hal ini, ia yang terlebih dahulu berprilaku disiplin sehingga kami merasa terpanggil untuk menurutinya. Apalagi ia mengedepenkan musyawarah dalam mengambil keputusan, sehingga setiap kebijakan yang terlaksana, berdasarkan keputusan kami semua dalam musyawarah. Kepala sekolah juga sangat transparan dalam setiap kegiatan sekolah, utamanya pada pengelolana Dana BOS,” tutur beberapa guru dan stafnya, pada tempat terpisah.

Diakui pula beberapa tokoh masyarakat, sejak dalam kepemimpinan H. Ibrahim, S.Pd., M.Pd SMPN 1 Sampaga banyak mengalami kemajuan, khususnya pada kedispilnan siswa, kegiatan ekstrakurikulernya semakin aktif, kegiatan pembelajaran terlaksana dengan baik, efektif dan efisien. Dan bahkan, peserta didiknya mampu meraih juara dalam beberapa kompetisi yang diikuti seperti: Juara II lomba Seni & Budaya, Juara II lomba puisi, Juara I Tolak Peluru, Juara IV lomba mata pelajaran IPS, dan masih banyak lagi lainnya tidak sempai disebutkan pada kesempatan ini. “Kepala sekolah saya ini Pak, merupakan sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Dimana, dia selalu berinovasi dan sangat kreatif dalam menciptakan trik-trik dalam meningkatkan mutu dan kualitas atau prestasi siswa. Disamping itu, ia juga menjalin komunikasi dan kerjasama dengan komite sekolah dan orang tua siswa secara efektif dan efisien, sehingga komite selalu dilibatkan secara langsung dalam kegiatan sekolah, sesuai dengan kapasitasnya,” tutur beberapa orang tua siswa pada tempat terpisah. (Usman)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *