Roman, Karya : YM. Sjahrir Tamsi.
Matahari pagi menyelimuti dua Kerajaan Kecil berupa sebuah Distrik yang bertetangga, Distrik Dara’ dan Distrik Jambu. Kedua Distrik ini, masing-masing diperintah oleh seorang yang bergelar Tomakaka Adaq atau Kepala Distrik kala itu, walau hidup berdampingan dalam damai, namun tak pernah benar-benar bersatu. Padahal sesungguhnya Tomakaka atau Rajanya berasal dari satu darah yang sama atau masih bersaudara kandung. Dinding tapal batas yang megah menjadi saksi bisu keheningan di antara mereka.
Di balik dinding tapal batas itu, seorang Putri Tomakaka bernama YM. Putri Mirah, dari Distrik Jambu, sering duduk di bawah pohon jambu air yang bersilang antara warna merah dan warna putih yang banyak tumbuh asri dan rindang menjadi pohon hias dan pohon pelindung di halaman Istana Kerajaan itu. Rambutnya yang hitam dan panjangnya tergerai serta matanya yang sayu merayu bagai safir biru selalu menatap jauh ke arah langit biru, seperti mencari sesuatu yang hilang. Di sisi lain, seorang pangeran bernama YM. Pangeran Sjamsi, anak semata wayang kesayangan Tomakaka dari Distrik Dara’, sering menunggang kuda berkeliling sepanjang dinding tapal batas atau perbatasan kedua Kerajaan yang bertetangga itu, mencoba menemukan sesuatu yang tak ia pahami.
Takdir mempertemukan mereka saat seekor burung merpati putih terbang melewati dinding tapal batas, membawa pesan kecil yang tertinggal di paruhnya. Merpati putih itu hinggap di tangan YM. Putri Mirah. Ia terkejut ketika membuka pesan itu, karena isinya adalah sebuah Puisi :
“Dalam sunyi, aku mencari,
Dalam sepi, kau berseri.
Jika dinding tapal batas tak lagi memisah,
Akankah kita bisa bertemu, wahai cahaya yang indah?”
YM. Putri Mirah terdiam, hatinya bergetar dan bertanya. Siapa gerangan yang menulis kata-kata ini? Ia pun membalas puisi itu dengan sederhana, menulisnya di balik kertas yang sama :
“Jika dinding tapal batas ini terlalu tinggi,
Mungkin cinta dapat menembusnya.
Akankah kita saling mengenal,
Di balik sekat yang menutup dunia?”
Surat itu disematkan di paruh Burung Merpati putih itu kemudian kembali terbang, kali ini menuju Distrik Dara’ mengantarkan surat cinta kepada YM. Pangeran Sjamsi. Saat membaca balasan itu, senyumnya merekah. Ia merasa seperti telah menemukan seseorang yang memahami kegelisahannya. Sejak hari itu, mereka bertukar pesan melalui Burung Merpati putih yang sama.
Setelah berminggu-minggu surat menyurat, YM. Pangeran Sjamsi memutuskan untuk bertemu YM. Putri Mirah.
Malam itu, ia memanjat dinding perbatasan, dengan hanya ditemani rembulan. Di sisi lain, YM. Putri Mirah telah menunggu di bawah pohon jambu merah, mengenakan gaun putih yang memantulkan cahaya rembulan.
Ketika mata mereka bertemu, seolah dunia berhenti berputar.
“Akhirnya aku melihatmu,” bisik YM. Pangeran Sjamsi.
“Dan aku pun melihatmu,” jawab YM. Putri Mirah sambil tersenyum.
Malam itu, mereka berbincang dan diskusi tentang mimpi, Distrik mereka, dan tentang cinta yang perlahan tumbuh dari mata turun di hati mereka. Mereka pun tahu bagwa cinta mereka tidaklah mudah. Dua Distrik tersohor itu memiliki sejarah panjang yang tak selalu harmonis. Namun di bawah bintang-bintang, mereka bersumpah untuk melindungi cinta ini.
Pertemuan itu menjadi awal perjuangan mereka untuk menyatukan dua Distrik ternama. Dengan cinta sebagai senjata, mereka membuktikan bahwa kebahagiaan tidak harus lahir dari peperangan, akan tetapi dari keberanian untuk saling mencintai di tengah perbedaan.
YM. Pangeran Sjamsi dan YM. Putri Mirah adalah Anugerah Cinta yang terbuai satu sama lain, sebuah bukti bahwa cinta sejati mampu menembus dinding tertinggi dan mengubah sejarah dua Distrik itu menjadi harmonis untuk selamanya berdasarkan Tatanan Adat terkhusus Cappa Bate Dara’ dari dua Tatanan Adat lainnya yakni Tangnga Bate dan Ulu Bate dalam satu Wilayah Kedaulatan Kerajaan Binuang Mandar. (Bersambung)
