SEMARANG, independennews.id – Pemerintah terus memperkuat layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun. Upaya ini menjadi langkah strategis untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan prasekolah sebelum memasuki sekolah dasar (SD), sekaligus membangun fondasi pembelajaran yang berkualitas sejak dini.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan hal tersebut dalam perayaan Milad ke-107 TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) dan Milad ke-29 Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) di GOR Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan usia dini merupakan tahap penting yang turut menentukan keberhasilan anak dalam menempuh pendidikan pada jenjang berikutnya. Karena itu, perluasan akses PAUD harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.

“Pendidikan anak usia dini adalah fondasi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Minggu (25/10/2026).

Melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, pemerintah mendorong anak-anak mendapatkan layanan pendidikan prasekolah selama satu tahun sebelum memasuki SD. Kebijakan tersebut diharapkan mampu memperluas kesempatan belajar sekaligus mengurangi kesenjangan akses pendidikan sejak usia dini.

Berdasarkan data Kemendikdasmen, Indonesia memiliki 103.221 satuan taman kanak-kanak dengan total 3.808.734 murid. Meski demikian, sekitar 1.372.947 murid kelas 1 SD tercatat belum pernah mengikuti pendidikan PAUD.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pemerataan layanan pendidikan prasekolah masih menjadi pekerjaan penting yang membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah dan satuan pendidikan.

Revitalisasi TK dan Bantuan Pendidikan Diperluas

Untuk memperkuat pemerataan akses, Kemendikdasmen meningkatkan dukungan terhadap sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini. Pada 2026, bantuan revitalisasi dialokasikan bagi 13.831 TK, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 1.355 TK.

Selain perbaikan fasilitas, pemerintah juga menyalurkan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 888.000 murid TK pada 2026. Setiap penerima yang memenuhi kriteria memperoleh bantuan sebesar Rp450.000 per tahun.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pendidikan sekaligus mendorong lebih banyak anak mengakses layanan PAUD.

Peningkatan mutu pendidikan juga dilakukan melalui pengembangan kompetensi dan kualifikasi akademik guru. Salah satu program yang dijalankan adalah peningkatan kualifikasi pendidikan ke jenjang S1/D4 melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Pada 2025, program ini dialokasikan bagi 12.500 guru yang belum memiliki kualifikasi S1 atau D4. Adapun pada 2026, alokasinya direncanakan meningkat menjadi 150.000 guru.

Abdul Mu’ti mengimbau para pendidik memanfaatkan program tersebut untuk meningkatkan kapasitas profesional sehingga dapat memberikan layanan pembelajaran yang semakin berkualitas.

Bermain Menjadi Bagian Penting Pembelajaran PAUD

Di samping dukungan anggaran dan peningkatan kompetensi guru, pemerintah menaruh perhatian pada penerapan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pembelajaran PAUD tidak seharusnya berorientasi pada hafalan semata. Anak perlu memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan tahap perkembangannya.

“Semua teori pendidikan mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini itu prinsip pedagogisnya adalah bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar anak tidak dibebani pekerjaan rumah maupun hafalan berlebihan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Sebaliknya, kegiatan pembelajaran perlu mendorong perkembangan kemampuan motorik, interaksi sosial, kreativitas, imajinasi, dan pembentukan karakter.

Untuk mendukung pendekatan tersebut, Kemendikdasmen mengenalkan konsep STEAMS, singkatan dari Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Sport. Pendekatan ini menggabungkan unsur sains, teknologi, rekayasa, seni, matematika, dan olahraga dalam kegiatan pembelajaran yang menarik.

Penerapannya dapat dilakukan melalui permainan, lagu, gerakan, dan aktivitas kreatif lainnya. Dengan cara tersebut, anak tidak hanya mengenal angka dan warna, tetapi juga belajar bekerja sama, berbagi, serta membangun hubungan sosial dengan teman sebaya.

Jawa Tengah Salurkan Bantuan untuk 5.000 Anak

Dukungan terhadap pemerataan pendidikan juga dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan bahwa pendidikan menjadi salah satu instrumen penting dalam pembangunan sumber daya manusia dan penanggulangan kemiskinan.

Setiap tahun, Pemprov Jawa Tengah memberikan bantuan pendidikan kepada 5.000 anak. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan sekolah, antara lain pakaian, buku, dan seragam, yang disalurkan melalui 139 sekolah.

Program ini diharapkan membantu anak-anak dari keluarga yang membutuhkan agar tetap dapat mengakses pendidikan dan memperoleh kesempatan belajar yang layak.

Abdul Mu’ti menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan mutu layanan pendidikan sejak usia dini.

Sinergi tersebut diperlukan agar kebijakan perluasan akses PAUD tidak hanya meningkatkan jumlah anak yang mengikuti pendidikan prasekolah, tetapi juga memastikan mereka memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Dengan penguatan layanan PAUD, bantuan pendidikan, peningkatan kualifikasi guru, serta penerapan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan anak, pemerintah berharap fondasi pendidikan nasional semakin kokoh dalam mempersiapkan generasi yang berkarakter, kompeten, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. (Dw)

By admin