Jeddah, independennews.id — Timnas Jepang U17 memastikan tiket ke final AFC U-17 Asian Cup setelah menundukkan Timnas Uzbekistan U17 melalui drama adu penalti dengan skor 3-2, usai bermain imbang 1-1 pada waktu normal di Jeddah, Arab Saudi.
Laga semifinal berlangsung penuh tensi sejak menit awal. Uzbekistan tampil dominan dan langsung menekan pertahanan Jepang melalui kombinasi serangan cepat dari Sukhrob Sadirdjanov dan Akhrorbek Ravshanbekov.
Peluang demi peluang berhasil diciptakan Uzbekistan, termasuk ancaman dari Abubakir Rakhimov yang memaksa kiper Jepang, Kosei Oshita, melakukan penyelamatan penting pada menit ke-21.
Tekanan Uzbekistan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-26. Chimezie Kai Ezemuokwe melakukan pelanggaran di kotak terlarang terhadap Ravshanbekov, sehingga wasit menunjuk titik penalti. Asilbek Aliev yang maju sebagai eksekutor sukses menaklukkan Oshita dan membawa Uzbekistan unggul 1-0 hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Jepang tampil lebih agresif. Pelatih Jepang yang melakukan enam rotasi pemain dibanding laga sebelumnya mulai melihat timnya menemukan ritme permainan.
Maki Kitahara dan Arata Okamoto sempat mencoba peruntungan lewat tembakan jarak jauh, namun rapatnya pertahanan Uzbekistan membuat Jepang kesulitan mencetak gol penyama kedudukan.
Jepang sebenarnya sempat mencetak gol pada menit ke-78 melalui sundulan Motosuna setelah menerima umpan silang Shiraogawa. Namun wasit menganulir gol tersebut karena offside.
Meski demikian, semangat Jepang tidak surut. Mereka terus menekan hingga akhirnya berhasil mencetak gol dramatis pada detik-detik akhir tambahan waktu.
Berawal dari umpan matang Motosuna, Chimezie Kai Ezemuokwe menebus kesalahannya di babak pertama dengan sundulan tajam yang gagal dihentikan kiper Uzbekistan. Gol tersebut memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti.
Di babak tos-tosan, Kosei Oshita tampil sebagai pahlawan Jepang setelah menggagalkan dua eksekusi awal Uzbekistan. Jepang sempat kehilangan momentum setelah dua penendangnya, Takeshi Wada dan Tafuku Satomi, gagal mencetak gol.
Namun sang kapten, Motosuna, memastikan kemenangan Jepang lewat tendangan penalti penentu yang mengubah skor menjadi 3-2.
Kemenangan ini mengantarkan Jepang ke partai final sekaligus menegaskan status mereka sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola usia muda di Asia.
Keberhasilan Jepang juga dinilai menjadi bukti kuat efektivitas sistem pembinaan pemain muda yang selama ini mereka bangun. Rotasi pemain yang berani, ketahanan mental saat tertinggal, hingga kualitas penjaga gawang dalam momen krusial menjadi faktor penting keberhasilan mereka menembus final.
Bagi negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia, perjalanan Jepang di turnamen ini menjadi gambaran bagaimana pembinaan usia muda yang konsisten mampu melahirkan tim dengan karakter kuat dan mental juara. (**)
