independennews.id — Pergantian tahun lazimnya disambut dengan gegap gempita. Namun, memasuki Tahun Baru 2026, Bangsa Indonesia dihadapkan pada kenyataan pahit yang menuntut kebijaksanaan kolektif: Duka mendalam akibat Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Bencana Hidrometeorologi parah yang terjadi sejak akhir November hingga Desember 2025 di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menorehkan luka kemanusiaan yang tidak kecil. Ratusan korban jiwa dilaporkan meninggal dunia dan masih ada yang dinyatakan hilang. Ribuan rumah rusak dan terendam, jembatan ambruk, akses transportasi terputus, serta ribuan warga terpaksa mengungsi dalam kondisi serba terbatas. Hingga kini, proses pencarian korban dan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi masih terus berlangsung, terutama di wilayah-wilayah yang terisolasi.
Dalam hubungan inilah, imbauan untuk meredam Euforia Perayaan Tahun Baru 2026 patut dimaknai bukan sebagai larangan bersuka cita, melainkan sebagai pilihan etis dan sikap empatik terhadap sesama anak bangsa yang sedang tertimpa musibah. Pergantian tahun sejatinya bukan hanya soal pesta dan kembang api, tetapi momentum refleksi, perenungan, dan penyadaran akan nilai kemanusiaan.
Inisiatif “Pray for Sumatera” yang digaungkan berbagai pihak, diantaranya pemerintah daerah, kepolisian, organisasi kemanusiaan, hingga komunitas lintas agama dan Forum Keberagaman Nusantara (FKN) merupakan wujud konkret dari solidaritas nasional. Doa bersama, penggalangan bantuan, serta ajakan untuk menyalurkan energi perayaan menjadi aksi kepedulian sosial, adalah pesan moral yang relevan dan mendalam di tengah situasi darurat kemanusiaan.
Solidaritas tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk besar dan simbolik. Mengurangi perayaan berlebihan, menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu korban, mendoakan keselamatan para penyintas, serta menyebarkan informasi yang menenangkan dan konstruktif, adalah bentuk empati yang nyata dan bermakna. Di saat sebagian saudara Kita kehilangan keluarga, rumah, dan rasa aman, kepekaan sosial menjadi ukuran kedewasaan bangsa.
Lebih jauh, tragedi ini juga menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah satu kesatuan nasib. Bencana yang terjadi di satu wilayah bukan semata persoalan daerah tersebut, melainkan duka bersama seluruh bangsa. Di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya, empati dan solidaritas adalah simpul pemersatu yang tidak boleh rapuh oleh euforia sesaat.
Meredam euforia Tahun Baru 2026 bukan berarti memadamkan harapan. Justru sebaliknya, dari keheningan doa dan refleksi, harapan baru dapat tumbuh: harapan akan Indonesia yang lebih peduli, lebih tangguh, dan lebih beradab dalam menyikapi penderitaan sesamanya. Semoga pergantian tahun ini menjadi momentum memperkuat nurani kolektif, bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah terpisah dari kepedulian terhadap sesama.
Salam Keberagaman Nusantara dan Hormat Penuh Takzim.
Penulis: YM. Sjahrir Tamsi.
Editor: Usman Laica.
