Parepare, independennews.idLembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Parepare menutup tahun 2025 dengan menggelar kegiatan Evaluasi dan Refleksi Akhir Tahun, Rabu (31/12/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lapas Kelas IIA Parepare ini dipimpin langsung oleh Kepala Lapas, Marten, Bc.IP., S.H., M.H., sebagai forum strategis untuk menilai capaian kinerja sekaligus memperkuat komitmen pembinaan humanis dan pengelolaan anggaran yang transparan.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran pejabat struktural Lapas Kelas IIA Parepare, perwakilan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, mitra kerja, unsur Dharma Wanita Persatuan, peserta magang Kementerian Ketenagakerjaan, mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL), serta perwakilan warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Dalam sambutannya, Kalapas Marten menegaskan bahwa evaluasi akhir tahun bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarana penting untuk menilai kinerja secara objektif serta menyusun langkah perbaikan yang berkelanjutan.

“Evaluasi dan refleksi ini menjadi cermin bagi kami. Apa yang sudah berjalan baik akan dipertahankan dan ditingkatkan, sedangkan kekurangan akan dibenahi secara bertahap dan terukur,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2025, Lapas Kelas IIA Parepare mencatat capaian signifikan dalam program integrasi. Sebanyak 277 warga binaan memperoleh hak integrasi berupa pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, dan cuti menjelang bebas. Sementara itu, 65 warga binaan dinyatakan bebas murni setelah menjalani masa pidana secara penuh.

Dari total 580 penghuni Lapas, program integrasi menjadi jalur utama percepatan reintegrasi sosial. Marten menegaskan bahwa pemberian hak integrasi merupakan hasil dari proses pembinaan yang panjang dan terukur.

“PPD itu bukan turun dari langit. Itu adalah buah dari pembinaan yang konsisten agar warga binaan kembali ke masyarakat dengan perilaku yang lebih baik,” tegasnya.

Di bidang pembinaan, Lapas Kelas IIA Parepare secara konsisten melaksanakan pembinaan kepribadian, mental, dan keagamaan. Tercatat 250 warga binaan aktif mengikuti kegiatan ibadah lintas agama, serta 143 orang mengikuti pembelajaran dasar, termasuk pendidikan keaksaraan dan pendidikan kesetaraan.

Program rehabilitasi sosial juga menjadi fokus utama, dengan melibatkan 250 warga binaan dalam pola pembiasaan harian seperti kedisiplinan, kebersihan lingkungan, dan pembinaan ibadah.

“Dulu peserta rehabilitasi sosial hanya sekitar 20 orang. Sekarang selalu penuh. Kita latih dari hal paling dasar hingga mereka benar-benar berubah,” jelas Marten.

Pembinaan kemandirian turut diperkuat melalui pelatihan keterampilan. Sebanyak 64 warga binaan mengikuti pelatihan hidroponik, kuliner, dan peternakan ayam kampung. Selain itu, Lapas juga mengembangkan budidaya ikan lele, bebek, penanaman kelapa, serta berbagai jenis sayuran sebagai bekal keterampilan produktif pasca bebas.

Hasil pembinaan tersebut dinilai berdampak nyata, tidak hanya bagi warga binaan tetapi juga keluarga mereka. Sejumlah keluarga menyampaikan apresiasi karena melihat perubahan sikap yang lebih disiplin dan religius.

Selain capaian pembinaan, Lapas Kelas IIA Parepare juga memaparkan kinerja pengelolaan anggaran tahun 2025. Dari pagu anggaran sebesar Rp13,21 miliar, dialokasikan untuk Program Penegakan dan Pelayanan Hukum sebesar Rp6,25 miliar dan Program Dukungan Manajemen sebesar Rp6,95 miliar.

Tercatat penghematan atau blokir anggaran sebesar Rp384 juta, dengan realisasi anggaran mencapai Rp12,79 miliar atau 99,78 persen hingga 24 Desember 2025.

“Capaian ini menjadi bukti komitmen kami dalam mengelola anggaran negara secara transparan dan akuntabel,” ungkap Marten.

Menutup kegiatan refleksi akhir tahun, Kalapas Marten menegaskan bahwa Lapas Kelas IIA Parepare akan terus memperkuat pembinaan berbasis sosial, spiritual, dan keterampilan dengan menjunjung prinsip dasar pemasyarakatan.

“Pembinaan, bukan pembalasan. Itulah tujuan utama sistem pemasyarakatan,” pungkasnya. (Mlp)

By admin