independennews.id — Indonesia tidak hanya dibangun oleh wilayah geografis yang luas, tetapi diperkuat oleh kultur-kultur agung yang hidup di dalam setiap suku, adat, dan tradisinya. Di tengah arus modernitas dan perubahan zaman yang begitu cepat, lahirlah sebuah inisiatif strategis bernama Forum Keberagaman Nusantara (FKN), yakni sebuah wadah nasional yang dideklarasikan oleh para Raja/Sultan, Tokoh Adat, Pemuka Agama, Akademisi, Etnis, Suku, Budaya Profesi, Kerukunan Keluarga dan berbagai elemen Masyarakat sebagai Penjaga Persatuan Bangsa.
Mengusung spirit “Beragam, Bersatu, Berdaya Untuk Indonesia Raya,” FKN hadir sebagai komitmen kolektif untuk merawat keberagaman, memperkuat kebhinnekaan, dan memastikan bahwa nilai-nilai kebudayaan tetap menjadi tiang utama perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Keberagaman sebagai Fondasi Persatuan
Keberagaman Indonesia bukan sekadar data demografis, tetapi anugerah yang meneguhkan ke-Indonesiaan. Prinsip ini ditegaskan secara luhur dalam firman Allah SWT:
“…dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut memberi dasar moral dan spiritual bahwa perbedaan bukan ancaman, tetapi jembatan untuk saling memahami dan bekerja sama. Hadis Rasulullah Muhammad SAW. pun menegaskan bahwa misi luhur peradaban adalah penyempurnaan akhlak, yang dalam konteks Nusantara tercermin melalui adat, etika, gotong royong, dan penghormatan antar sesama.
Ki Hadjar Dewantara memperkuatnya dengan pandangan:
“Budaya adalah Buah Budi Manusia yang menjadi Cermin Budi Pekertinya.”
Maka budaya bukan sekadar estetika, tetapi identitas moral bangsa.
FKN sebagai Lokomotif Kebangsaan yang Berkeadaban
FKN memposisikan dirinya bukan sebagai organisasi simbolik, tetapi sebagai “Gerakan Kebangsaan Berbasis Budaya” yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Nusantara. Puncak manifestasinya tampak pada Deklarasi Forum Keberagaman Nusantara 1 Abad Indonesia yang diselenggarakan pada 27 Oktober 2025 di Kedaton Kesultanan Sao Sio Ternate, Maluku Utara.
Diawali dengan Penandatanganan “Manifesto Keberagaman Nusantara” kemudian Deklarasi. Acara monumental tersebut dipimpin oleh Wakil Presiden ke-13 RI, Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin, selaku Ketua Dewan Pembina FKN, serta disaksikan oleh Sultan Ternate, Jou Kolano Malamo-lamo, Sultan Hidayatullah Mudaffar Syah; Ketua Umum DPN-FKN Tuanku Alamsyah Arif Ramansyah Marbun; Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara, Forkopimda, Tokoh Adat, Tokoh Etnis, Pemuka Agama, dan Perwakilan Suku, Budaya, Profesi, Kerukunan Keluarga dari seluruh Nusantara.
Naskah Deklarasi dibacakan oleh Ketua DPD-FKN Sulawesi Utara, Pdt. Hanny Pantouw, S.Th (Tonaas Laskar Manguni Indonesia) dan diikuti serempak seluruh delegasi Kerajaan/Kesultanan dan elemen Keberagaman Nusantara.
Deklarasi ini menjadi penanda bahwa budaya bukan masa lalu yang membeku, tetapi “Energi Hidup” yang menyatukan bangsa.
Adapun Isi Deklarasi Forum Keberagaman Nusantara, di mana para Peserta berikrar untuk :
- Menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara, mendukung terwujudnya Pasal 33 UUD 1945, serta membumikan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat anak bangsa;
- Menjaga komitmen menghargai perbedaan suku bangsa, etnis, budaya, dan agama sebagai sumber kekuatan dan daya tahan bangsa Indonesia;
- Mencegah serta melawan segala bentuk diskriminasi, sekaligus meneguhkan toleransi dan inklusivitas yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia;
- Mendorong kolaborasi lintas generasi dan lintas elemen masyarakat dalam memperkuat gerakan kebangsaan yang menenangkan jiwa dan mencerahkan pikiran;
- Menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dan kearifan lokal sebagai akar budaya bangsa yang memperkuat jati diri Indonesia;
- Menumbuhkan rasa saling menghormati dan menyayangi sesama anak bangsa, dengan semangat beragam untuk bersatu dalam Indonesia Raya.
Deklarasi ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi juga menjadi Seruan Moral dan Spiritual untuk seluruh rakyat Indonesia, agar selalu menjaga keberagaman sebagai bagian dari identitas nasional, dan menjadikannya energi positif dalam membangun masa depan bangsa yang Damai, Berdaulat, Adil, dan Sejahtera.
Budaya: Denyut Masa Depan Indonesia
Selama ini budaya sering dipahami secara sempit, yaitu sekadar artefak museum, tari seremonial, atau upacara adat tahunan. Cara pandang seperti ini memiskinkan makna budaya itu sendiri.
Padahal, budaya adalah Roh Peradaban. Ia adalah sistem nilai yang membentuk identitas, karakter, dan arah gerak bangsa.
- Bangsa tanpa Budaya ibarat Pohon Tanpa Akar: mudah tercabut oleh gelombang globalisasi.
- Bangsa yang Merawat Budayanya akan Tegar dan Percaya Diri: mampu menyerap inovasi tanpa kehilangan jati diri.
Dengan demikian, budaya bukan nostalgia masa lalu, melainkan “Cetak Biru Masa Depan”.
Budaya yang hidup menghasilkan manusia yang halus budi, kuat mental, dan kokoh moral, sebagai modal utama Indonesia menghadapi persaingan dunia.

Menyalakan Hati Nusantara
Inisiatif “Menyalahkan Hati Nusantara” yang diusung FKN adalah ajakan untuk membangkitkan kembali kesadaran kolektif bangsa:
Bahwa persatuan Indonesia tumbuh dari Hati yang saling menghargai, bukan dari persamaan identitas.
Bahwa kekuatan Indonesia terletak pada keragaman yang terkelola dengan bijaksana.
Bahwa merawat budaya berarti merawat kemanusiaan.
Dan bahwa “Menghidupkan Budaya berarti Menghidupkan Harapan”, sebagaimana disampaikan oleh para pendiri bangsa yang memandang kebudayaan sebagai fondasi peradaban yang bermartabat.
Jalan Bersama Menuju Indonesia Emas
Indonesia Tahun 2045 bukan hanya tentang ekonomi kuat dan teknologi maju, tetapi tentang bangsa yang “Berkeadaban, Beridentitas, dan Berkarakter”.
FKN hadir sebagai simpul kebangsaan yang menjaga nilai itu tetap menyala.
Ia mengajak seluruh anak bangsa : lintas agama, suku, bahasa, profesi, dan generasi, untuk berjalan bersama dalam satu cita-cita:
“Indonesia yang Beragam tetapi Bersatu; Bersatu tetapi Berdaya untuk Indonesia Raya”.
Karena masa depan Indonesia bukan sekadar dibangun, tetapi “Dirawat dengan Budaya, Dipersatukan oleh Kebhinnekaan, dan Diperkuat oleh Hati yang Saling Menerima”.
Salam Keberagaman Nusantara dan Hormat Penuh Takzim, dari :
Penulis, YM. Sjahrir Tamsi (Pemerhati Pendidikan, Kebudayaan, Adat dan Keberagaman Nusantara. DPD-FKN Sulbar).
Editor : Usman Laica.
