Oleh : Sjahrir Tamsi

independennews.id — Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah. Di hadapan Kita terbentang cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045, saat bangsa ini genap berusia seratus tahun merdeka. Namun, cita-cita itu tak akan berarti jika Kita gagal membangun Fondasi Pendidikan yang Kokoh, Adil, dan Berkelanjutan hari ini.

Anak-anak yang kini belajar di ruang kelas sederhana, dari Sabang hingga Merauke, adalah calon Pemimpin, Ilmuwan, Teknokrat, dan Wirausahawan Masa Depan. Kualitas pendidikan yang mereka terima akan menentukan arah Indonesia kelak : Apakah menjadi bangsa pembelajar yang maju, atau tertinggal karena abai menyiapkan sumber daya manusianya?

Mendidik untuk Membangun Peradaban

Pendidikan bukan semata urusan akademik atau administratif. Ia adalah investasi kebudayaan dan peradaban. Setiap bangsa besar selalu berdiri di atas sistem pendidikan yang kuat dan visioner. Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok menjadi bukti nyata: bahwa kemajuan mereka bukan berasal dari kekayaan alam, tetapi dari kesungguhan berinvestasi pada manusia, melalui pendidikan dan riset.

Dalam hubungannya dengan Indonesia, pendidikan memiliki dua fungsi strategis, yaitu: “Sebagai Alat Pemerataan Sosial dan
Sebagai Strategi Kedaulatan Bangsa”.

Tanpa pendidikan yang bermutu dan merata, kesenjangan sosial hanya akan melebar, dan keadilan sosial sebagaimana amanat konstitusi akan tinggal retorika. Karena itu, pembangunan pendidikan harus melampaui sekadar pembangunan fisik sekolah, ia harus berfokus pada pembangunan kapasitas berpikir, literasi, karakter, dan budaya baca masyarakat.

Literasi Sebagai Fondasi Bangsa Merdeka

Survei OECD dan PISA menunjukkan kemampuan literasi anak-anak Indonesia masih rendah. Padahal, literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menelaah, dan menggunakan informasi secara kritis.

Di era digital, literasi harus diperluas mencakup literasi sains, finansial, digital, budaya, dan lingkungan. Literasi yang kuat akan melahirkan warga yang bebas dari kebodohan dan manipulasi. Bangsa yang literat adalah bangsa yang merdeka dalam berpikir dan tahan terhadap gelombang disinformasi. Oleh sebab itu, gerakan literasi nasional harus menjadi tanggung jawab kolektif lintas sektor, antara : Pemerintah, Dunia Usaha, Perguruan Tinggi, Komunitas, dan Media.

Menjawab Tantangan Zaman : Teknologi dan Krisis Iklim

Pendidikan abad ke-21 dihadapkan pada dua tantangan utama, yaitu : Revolusi Teknologi dan Krisis Iklim.
Revolusi Digital menuntut Generasi yang Adaptif, Kreatif, dan Berpikir Komputasional. Indonesia harus menyiapkan anak-anak bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai Pencipta dan Inovator.

Pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) harus diperkuat, sementara pelajaran “Coding dan Kecerdasan Buatan (AI)” perlu diperkenalkan sejak dini dengan Pendekatan Kontekstual yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efisien dan Menyenangkan (PAIKEM).

Namun, kemajuan teknologi harus diimbangi kesadaran ekologis. Krisis iklim mengancam masa depan planet ini, dan pendidikan lingkungan harus menjadi bagian integral dari kurikulum. Generasi 2045 bukan hanya harus cerdas secara digital, tetapi juga bijak secara ekologis, mereka harus mampu menyeimbangkan kemajuan dengan kelestarian.

Inklusivitas dan Keadilan Pendidikan

Transformasi pendidikan tidak akan bermakna tanpa keadilan dan inklusivitas. Masih banyak anak di pelosok negeri yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk bersekolah. Masih ada keluarga miskin yang menganggap pendidikan sebagai kemewahan. Anak-anak berkebutuhan khusus pun sering kali belum mendapat layanan layak.

Pendidikan Inklusif berarti memberikan ruang belajar bagi setiap anak untuk tumbuh sesuai potensinya.

Sekolah harus menjadi tempat terbaik untuk belajar tentang perbedaan, toleransi, dan kemanusiaan.

Karena itu, Anggaran Pendidikan harus dikelola dengan berkeadilan, tidak hanya menumpuk di kota besar, tetapi menjangkau daerah 3T dan wilayah adat. Di sinilah pentingnya keberpihakan nyata negara terhadap pendidikan rakyat.

Guru : Ujung Tombak Peradaban

Tak ada Pendidikan Berkualitas tanpa Guru yang Sejahtera dan Kompeten. Guru bukan sekadar pelaksana kebijakan, melainkan Arsitek Masa Depan Bangsa. Namun, bagaimana mungkin Guru bisa berinovasi bila kesejahteraannya masih jauh dari layak?

Sebagaimana diingatkan oleh Christopher Bjork (2013), Guru di Indonesia terlalu sering diposisikan sebagai Aparatur Administratif, bukan Pendidik yang Merdeka Berpikir.

Guru seharusnya ditempatkan dalam Posisi Terhormat, diberi Ruang Kreatif, serta Disokong oleh Pelatihan dan Kesejahteraan yang Memadai.

Kebijakan Positif dan Arah Baru

Kita perlu mengapresiasi langkah Progresif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) yang telah merevitalisasi lebih dari 16.000 sekolah, memperluas Beasiswa Afirmasi bagi anak-anak Papua dan daerah 3T, serta memperkuat Program Indonesia Pintar (PIP) bagi jutaan pelajar dari keluarga kurang mampu. Membangun Sekolah Rakyat dan Memberi Makanan Bergizi Gratis bagi Anak-anak Bangsa.

Kebijakan redistribusi Guru ASN ke Sekolah Swasta, Pembelajaran Coding dan AI, serta Peningkatan Kesejahteraan Guru juga menjadi bagian penting dari Arah Baru Pendidikan Nasional. Hasil survei Arus Survei Indonesia (2025) pun menunjukkan bahwa publik menilai positif berbagai program tersebut.

Namun, perubahan sejati hanya akan lahir bila seluruh elemen bangsa bergotong royong seperti : Pemerintah, Guru, Orang tua, Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja (DUDIKA) serta Masyarakat sipil bersama-sama Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Menanam Benih Harapan

Generasi 2045 bukanlah mimpi politik, melainkan Proyek Kebudayaan dan Kemanusiaan. Ia menuntut sinergi nasional untuk membangun manusia Indonesia yang unggul dalam ilmu, tangguh secara mental, berakhlak, serta berempati pada sesama dan lingkungan.

Pendidikan adalah Benih Harapan yang Kita tanam hari ini untuk masa depan bangsa esok. Dari ruang kelas di pelosok desa hingga laboratorium digital di kota besar, di sanalah masa depan Indonesia sedang disemai.

Hanya Bangsa yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama yang akan bertahan, tumbuh, dan berjaya. Bila pendidikan Kita hari ini berakar kuat pada keadilan, literasi, teknologi, dan kemanusiaan, maka niscaya Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang hidup.

Salam Keberagaman Nusantara dengan Penuh Makna dan Hormat Penuh Takzim.
Penulis : Sjahrir Tamsi
(Pemerhati Pendidikan, Budaya dan Keberagaman Nusantara).
Editor : Usman Laica.

By admin