Oleh: YM. Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.

“Sebuah Bangsa akan menjadi Besar ketika Rakyatnya saling Menghormati dan Menempatkan Sesama sebagai Pribadi yang Mulia.”

Bahasa sebagai Cermin Jiwa Bangsa

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan “Cermin Jiwa Bangsa”.
Melalui Bahasa, Manusia Mengekspresikan Pikiran, Perasaan, dan Nilai-nilai yang diyakininya. Karena itu, Bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila sejatinya membutuhkan Bahasa yang “Menyatukan, Menyejukkan, dan Memuliakan”.

Dalam hubungan inilah, Sapaan “Yang Mulia” yang diinisiasi oleh Dewan Pimpinan Daerah Forum Keberagaman Nusantara Sulawesi Barat(DPD-FKN Sulbar) hadir sebagai bentuk “Etika Sosial Baru”, sebuah praktik komunikasi yang berakar dari Nilai Luhur Bangsa yakni: Penghormatan terhadap Martabat Manusia.
Sapaan ini bukan sekadar Formalitas, melainkan Perwujudan Kesadaran bahwa setiap Insan Indonesia memiliki Kehormatan yang Sama di hadapan Tuhan dan Sesama Manusia.

Keberagaman: Rahmat yang Menyatukan

Bangsa Indonesia terdiri dari lebih 1.300 Suku Bangsa, Ratusan Bahasa Daerah, serta Beragam Agama dan Tradisi. Namun, di balik segala Perbedaan itu, “Terdapat Satu Tekad Luhur untuk Hidup Bersama dalam Damai”.

“Keberagaman bukan alasan untuk berjarak, melainkan alasan untuk Saling Mendekat dalam Cinta, Kasih Sayang dan Pengertian.”

Sebagaimana tercantum dalam Sila Pertama Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, Kita diingatkan bahwa “Semua Manusia Berasal dari Sumber Kemuliaan yang Sama”. Maka dari itu, Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan Anugerah yang Memperkaya Kehidupan Berbangsa.

Sapaan “Yang Mulia” sebagai Bahasa Penghargaan

Dalam sejarahnya, sapaan “Yang Mulia” lazim digunakan untuk Pejabat Tinggi Negara atau Anggota Kerajaan. Namun kini, DPD-FKN Sulbar mengusung makna yang lebih luas:
bahwa “Setiap Manusia Layak disebut Yang Mulia” karena ia memiliki Akal, Hati, dan Jiwa yang Luhur.

Penggunaan sapaan ini diharapkan menjadi “Simbol Penghargaan Universal” di tengah masyarakat modern yang kadang kering akan Kesantunan dan Empati.
Dengan mengucap “Yang Mulia,” seseorang sedang “Menundukkan Egonya, dan Mengangkat Martabat Orang Lain”.
Inilah bentuk Penghormatan yang Menghidupkan Nilai-nilai Kemanusiaan.

Panduan dan Etika Penggunaan

Untuk menjaga makna luhur sapaan ini, FKN perlu menetapkan pedoman sederhana namun bermakna:

  1. Secara Lisan
    Gunakan sapaan lengkap “Yang Mulia” saat berbicara langsung, baik dalam pertemuan Formal maupun Informal.
  2. Secara Tertulis
    Gunakan singkatan “YM” dalam surat, media sosial, atau komunikasi tertulis lainnya.
  3. Makna Utama
    Sapaan ini dimaksudkan bukan untuk mengagungkan diri, melainkan untuk “Memuliakan Sesama dan Menjaga Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan”.

Forum Keberagaman Nusantara: Penjaga Etika Kebangsaan

Forum Keberagaman Nusantara (FKN) hadir sebagai wadah inklusif yang menghimpun berbagai Elemen Bangsa: Tokoh Adat, Budaya, Agama, Akademisi, Pengusaha serta Masyarakat Umum yang peduli terhadap Persatuan Bangsa.

FKN telah melakukan berbagai kegiatan yang mempromosikan “Toleransi, Kerukunan, dan Solidaritas Kebangsaan di berbagai Daerah di Indonesia”.

Inisiatif Penggunaan Sapaan “Yang Mulia” adalah bagian dari “Nilai Internal Organisasi” untuk Memperkuat Tali Silaturahmi antar-Anggota.
Lebih jauh, ini menjadi contoh konkret bahwa “Persaudaraan tidak hanya dibangun dengan kata-kata besar, melainkan melalui Sapaan yang Sederhana, Tulus, dan Bermartabat”.

“Dengan menyapa Yang Mulia, Kita Meneguhkan bahwa Setiap Anak Bangsa adalah Pribadi yang Berharga dan Patut Dihormati.”

Membangun Keberadaban melalui Bahasa

Bangsa yang Besar tidak hanya dikenal karena Kemajuan Ekonominya, tetapi juga karena “Kehalusan Bahasanya dan Keanggunan Etikanya”.
Ketika tutur kata Masyarakatnya Penuh Rasa Hormat, Cinta dan Kasih Sayang, maka niscaya Fondasi Sosial Bangsa itu akan Kuat dan Tahan terhadap Perpecahan.

Sapaan “Yang Mulia” adalah salah satu jalan membangun “Kebudayaan Menghormati” di tengah dunia yang semakin individualistis.
Ia mengajarkan bahwa Kemuliaan tidak datang dari jabatan, gelar, atau kekayaan, melainkan dari “Kerendahan Hati dan Penghormatan terhadap Sesama”.

Menanam Benih Persatuan dalam Sapaan

Bayangkan jika setiap Warga Bangsa Memulai Percakapan dengan Rasa Hormat, Mengakhiri Perbedaan dengan Senyum, dan Mengakui Sesama sebagai Pribadi yang Mulia.
Maka biscaya Indonesia akan benar-benar menjadi Negeri yang Damai, Beradab, dan Penuh Cinta dan Kasih Sayang.

“Persatuan Sejati Lahir dari Hati yang Saling Menghormati.”

Gerakan kecil seperti ini dapat menjadi “Katalis Moral” dalam membangun tatanan masyarakat yang lebih Inklusif, Toleran, dan Berkeadaban.

Sapaan yang Menyembuhkan Luka Sosial

Dalam Dunia yang kadang dipenuhi ujaran kebencian dan perpecahan, Sapaan “Yang Mulia” hadir sebagai “Bahasa Penyembuh”, Bahasa yang Menyejukkan Hati, Mempererat Silaturahmi dan Memperkokoh Persatuan.
Ia adalah ajakan moral untuk kembali ke Akar Budaya Bangsa, seperti: “Menghormati yang Tua, Menyayangi yang Muda, dan Menempatkan Setiap Manusia sebagai Saudara dalam Kemuliaan”.

Mari, Yang Mulia, Kita jadikan sapaan ini bukan sekadar kata, tetapi “Gerakan Kebangsaan yang Meneguhkan Cinta, Kasih Sayang dan Penghargaan di antara Sesama Anak Negeri”.

Salam Damai Keberagaman Nusantara
dan
Salam Hormat Penuh Takzim.
Penulis : YM. Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.
(DPD-FKN Provinsi Sulawesi Barat)
Editor : Usman Laica

By admin