Oleh : Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.

independennews.id — Indonesia bukan sekadar Negara Kepulauan, tetapi “Peradaban Besar” yang dibangun dari Mozaik Budaya yang Menakjubkan. Dari Sabang hingga Merauke, ribuan Bahasa, Adat, dan Kesenian hidup berdampingan membentuk Identitas Bangsa yang unik yakni : “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi budaya digital, keberagaman ini menghadapi tantangan serius, misalnya dari erosi nilai-nilai lokal hingga menurunnya minat generasi muda pada tradisi leluhur.

Dalam hubungan inilah, “Siswa dan Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai Penjaga dan Penggerak Budaya Bangsa”.
Partisipasi aktif mereka dalam kegiatan budaya bukan sekadar bentuk hiburan atau ritual seremonial, tetapi bagian penting dari Pendidikan Karakter dan Diplomasi Kebudayaan Indonesia di tingkat Nasional maupun Global.

Empati dari Keberagaman

Keterlibatan dalam kegiatan budaya, seperti : Festival daerah, Pameran seni, atau Dialog antarbudaya : Mengajarkan Generasi Muda Empati Lintas Budaya. Mereka belajar memahami cara pandang yang berbeda, menghormati nilai-nilai masyarakat lain, dan menumbuhkan sikap saling menghargai.

Budayawan Prof. Edi Sedyawati pernah menegaskan bahwa “Memahami Budaya lain bukan berarti kehilangan identitas, melainkan menemukan kemanusiaan dalam perbedaan.” Pernyataan ini menggambarkan betapa pentingnya ruang budaya sebagai wadah pembelajaran empati sosial dan kematangan moral.

Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan arus informasi yang kerap menimbulkan disinformasi, kegiatan Budaya berfungsi sebagai “Penyejuk Ruang Publik” sebagai tempat generasi muda belajar mendengar, menghargai, dan berdialog tanpa prasangka.

Kampus dan Sekolah sebagai Ruang Belajar Budaya

Acara Budaya di Sekolah dan Universitas sejatinya adalah “Laboratorium Sosial bagi Peserta didik”. Melalui kegiatan seperti : Pentas seni, Pameran kerajinan lokal, atau Festival lintas etnis, Siswa dan Mahasiswa belajar tentang Kepemimpinan, Kerja sama, Komunikasi, dan Tanggung jawab sosial.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Pd., menekankan pentingnya pendidikan yang “Tidak hanya mencerdaskan Otak, tetapi juga Menumbuhkan Empati dan Kemampuan Bekerja Lintas Perbedaan.” Artinya, Keaktifan dalam kegiatan Budaya bukan hanya pelengkap akademik, tetapi sarana membangun manusia Indonesia yang utuh. yakni Cerdas, Berkarakter, dan Berempati.

Lebih dari itu, dunia kerja masa depan menuntut kemampuan berinteraksi dalam lingkungan Multikultural dan Kolaboratif. Partisipasi Nudaya sejak dini menjadi latihan konkret untuk menghadapi tantangan Global tanpa kehilangan akar Nasional.

Menjaga Tradisi, Menghadirkan Inovasi

Generasi Muda bukan hanya pewaris budaya, tetapi juga Inovator Tradisi. Dengan teknologi digital, mereka dapat mendokumentasikan dan menyebarluaskan kekayaan lokal, misalnya dari Musik daerah, Tenun tradisional, hingga Kisah rakyat menuju ke panggung global.

Sebagaimana beberapa tulisan saya sebelumnya bahwa : “Pelestarian Budaya bukan Nostalgia Masa Lalu, tetapi Investasi Masa Depan Bangsa.” Pandangan ini menegaskan bahwa Pelestarian Budaya bukanlah tindakan pasif, melainkan proses kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sinergi antara Tokoh Adat, Pendidik, dan Pemerintah Daerah menjadi kunci membangun ekosistem pendidikan yang berjiwa kebudayaan. Sekolah dan Kampus harus menjadi ruang di mana tradisi lokal bertemu dengan inovasi global, membentuk karakter generasi yang bangga terhadap identitasnya.

Budaya sebagai Diplomasi Bangsa

Kekayaan Budaya Nusantara adalah Modal Lunak (Soft Power) yang tak ternilai dalam diplomasi global. Ketika Siswa memperkenalkan Gamelan di forum ASEAN, Mahasiswa memamerkan batik di kampus luar negeri, atau Komunitas Muda mengangkat kuliner tradisional di media digital, Mereka Sesungguhnya sedang Mengangkat Martabat Bangsanya.

Namun, potensi ini hanya bisa berkembang jika didukung oleh kebijakan publik yang berpihak pada penguatan karakter dan kebudayaan. Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Pendidikan perlu berkolaborasi menyediakan ruang ekspresi budaya yang terbuka dan berkelanjutan.

Maju karena Berbudaya

Negara tidak akan maju jika kehilangan Jati Diri Budayanya. Dalam setiap Tarian, Syair, dan Ritual Adat, Tersimpan Filosofi Kehidupan yang Menuntun Manusia untuk hidup selaras dengan sesama dan alam.

Sebagaimana diungkapkan Gus Dur, “Kebudayaan adalah jalan sunyi untuk menjaga kemanusiaan.” Maka, belajar empati dari keberagaman sejatinya adalah jalan menuju Indonesia yang Beradab, Berkarakter, dan Maju, bukan dengan menyingkirkan perbedaan, tetapi dengan Merayakannya.

Catatan Redaksi :
Tulisan ini mengajak para Pemimpin Pendidikan, Tokoh Adat, Mahasiswa, dan Masyarakat Luas untuk bersinergi Menjaga Keberagaman Budaya sebagai Kekuatan Moral dan Spiritual Bangsa Indonesia di tengah arus Global yang Cerba Cepat.

Salam Budaya Literasi dan Salam Hormat Penuh Takzim.
Tentang Penulis ;
Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd. (Pendidikan Inklusivitas dan Budaya Adat Nusantara)
Editor : Usman Laica

By admin