Oleh : Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.
independennews.id — Dalam dinamika kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang terus berubah, semboyan luhur “Bhinneka Tunggal Ika” tetap menjadi mercusuar yang menuntun Indonesia agar teguh berdiri di tengah derasnya arus Perbedaan. Ungkapan “Kita Beragam, Kita Indonesia” bukan sekadar slogan, melainkan refleksi mendalam tentang Jati Diri Bangsa yang Lahir dan Tumbuh dari Keberagaman secara Alamiah. Di dalamnya terkandung Pesan Moral, Kearifan Budaya, dan Nilai Spiritual yang Menegaskan bahwa Keberagaman bukan penghalang, justru Kekuatan yang Menyatukan.
Makna yang Menyatukan Bangsa
Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang bersumber dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular abad ke-14, membawa pesan universal bahwa : Perbedaan adalah Kodrat, sedangkan Persatuan adalah Pilihan Luhur”.
Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, Indonesia dianugerahi lebih dari 1.300 Suku, 700 Bahasa Daerah, dan Berbagai Keyakinan serta Adat Istiadat yang Hidup Berdampingan.
Pernyataan “Kita Beragam, Kita Indonesia” merefleksikan kenyataan sosial itu, yakni bahwa Keberagaman adalah Wajah Sejati Bangsa Indonesia.
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menegaskan :
“Bangsa yang Besar bukan Bangsa yang menyeragamkan, tetapi Bangsa yang mampu Hidup dalam Perbedaan dengan semangat Persaudaraan.”
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Kekuatan Bangsa bukan pada keseragaman, melainkan pada Kemampuan Mengelola Perbedaan sebagai Rahmat.
Bhinneka Tunggal Ika: Nilai Universal yang Terus Hidup
Dalam hubungannya dengan Dunia Modern yang cenderung menimbulkan sekat dan polarisasi, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” menemukan relevansi baru. Dunia kini mencari Model Kehidupan yang mampu Memadukan Keberagaman dan Kesetaraan.
Tokoh Dunia Nelson Mandela pernah mengatakan :
“Our rich diversity is a gift we must cherish and protect.”
Pesan ini sejalan dengan semangat Indonesia yang menjadikan Keberagaman sebagai Sumber Inovasi dan Kekuatan Sosial.
Sementara itu, Presiden RI ke-7, Ir. Joko Widodo menegaskan,
“Persatuan Indonesia harus dijaga dengan semangat Gotong royong dan Toleransi, karena tanpa keduanya, Kebhinnekaan kehilangan maknanya.”
Semangat Gotong royong dan Toleransi menjadi Inti Perekat Bangsa yang memastikan Keberagaman selalu Membawa Harmoni, bukan konflik.

Forum Keberagaman Nusantara (FKN) : Gerakan Sosial Kebangsaan untuk Indonesia Emas
Dalam semangat Memperkuat Persaudaraan Kebangsaan di tengah arus perubahan global, hadir Forum Keberagaman Nusantara (FKN) sebagai Gerakan Sosial Kebangsaan yang berkomitmen : “Memperkokoh Fondasi Persatuan dan Kesatuan Bangsa.”
Di bawah semboyan luhur “Beragam, Bersatu, Berdaya untuk Indonesia Raya,” FKN menjadi Wadah Inklusif bagi para Tokoh Keberagaman, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Budayawan, Pendidik, Pemuda, dan Mahasiswa dari seluruh penjuru Nusantara.
Sebagai langkah monumental, FKN akan memprakarsai Kegiatan Nasional bertajuk :
“Deklarasi Forum Keberagaman Nusantara : Menyongsong 1 Abad Indonesia — Merajut Akar Bangsa, Membangkitkan Rasa Nusantara untuk Mewujudkan Indonesia Emas” yang akan digelar di Kedaton Kesultanan Sao Sio Ternate Maluku Utara, 27 Oktober 2025.
Kegiatan akbar ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah nyata menghidupkan kesadaran kolektif tentang pentingnya “Inklusivitas” sebagai Ruh Kebangsaan dalam Menjaga Keberlanjutan Persatuan Bangsa.
Melalui Deklarasi ini, FKN mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meneguhkan kembali Komitmen Kebangsaan bahwa “Indonesia hanya akan Maju bila Perbedaannya Dirawat dan Keberagamannya Diberdayakan”.
FKN bukan hanya Forum, tetapi “Gerakan Moral Kebangsaan” yang mengajak setiap Anak Bangsa untuk Berdiri di Garis Depan “Menjaga Nilai-nilai Pancasila, Menumbuhkan Toleransi, serta Memperkuat Dialog Lintas Agama, Budaya, dan Adat”.
Ia menjadi Ruang Aktualisasi bagi Generasi Muda agar Cinta Tanah Air tidak hanya diucapkan, tetapi Diwujudkan melalui Karya dan Kolaborasi Nyata Lintas Perbedaan.
Harmoni yang Menguatkan Peradaban
Harmoni dalam Keberagaman bukan sekadar hidup berdampingan tanpa konflik, tetapi tentang Membangun Peradaban Bersama. Para Tokoh Agama, Adat, Pendidik, dan Pemuda memiliki Tanggung jawab Moral Menanamkan Nilai Toleransi dan Kemanusiaan sejak dini.
Sebagaimana diungkapkan “Cak Nun” (Emha Ainun Nadjib) :
“Indonesia tidak bisa Diselamatkan oleh Keseragaman, tetapi oleh Keikhlasan menerima Keberagaman.”
Pendidikan, Kebudayaan, dan Media massa harus menjadi Pelopor dalam Menyiarkan Pesan Damai dan Menghormati Perbedaan. Dengan demikian, Indonesia bukan hanya menjadi Negara yang Beragam, tetapi “Bangsa yang Beradab dan Matang secara Sosial”.
Sinergi Nasional untuk Persatuan
Menjaga Harmoni Kebangsaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Dibutuhkan Kolaborasi dari semua unsur antara “Pemerintah, Pemerintah Daerah, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Budayawan, Pendidik, Pemuda, dan Mahasiswa”.
Dengan semangat “Bhinneka Tunggal Ika”, Kita Menempatkan Kepentingan Bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kita Menolak segala bentuk Intoleransi, Diskriminasi, dan Ujaran Kebencian yang dapat meretakkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa yang Beragam ini.
FKN hadir sebagai Wadah Sinergi itu, juga sebagai Jembatan yang Menghubungkan Seluruh Unsur Bangsa dalam Semangat Saling Percaya dan Saling Menghormati.

Indonesia Rumah Bersama
“Indonesia bukan sekadar Negara; ia adalah Rumah Besar yang Menaungi seluruh Anak Bangsa”.
Di Rumah ini, Kita Belajar untuk Menerima, Menghargai, dan Menjaga Satu dengan lainnya.
Sebagaimana diungkapkan Sekjen PBB, António Guterres :
“Diversity enriches us, but only if we learn to live together in mutual respect.”
Indonesia telah membuktikannya, yaitu :
“Dalam Keberagaman, Kita Tumbuh; Dalam Perbedaan, Kita Belajar; dan Dalam Persatuan, Kita menjadi Kuat”.
Forum Keberagaman Nusantara (FKN) adalah Wujud Nyata Cita-cita itu dengan “Menghadirkan Ruang Kebangsaan yang Inklusif, Membangun Solidaritas, dan Meneguhkan Semangat Persaudaraan”.
Dengan komitmen bersama :
“Mari Kita Jaga dan Rawat Indonesia agar tetap Beragam, Bersatu, dan Berdaya untuk Indonesia Raya,” dan
“Mari Kita menjadikan Indonesia sebagai Teladan Dunia, Harmoni dalam Keberagaman dan Kemanusiaan.”.
“Kita Beragam, Kita Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika adalah Napas Kebangsaan, dan FKN adalah Jantung yang Memompakan semangat Persatuan menuju Indonesia Emas”.
Salam Keberagaman Nusantara dan Salam Hormat Penuh Takzim.
Tentang Penulis :
Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd. (Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan, Penggiat Keberagaman Nusantara).
Editor : Usman Laica.
