Oleh: Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.
independennews.id — “Keterbelahan Sosial di Tengah Deru Kemajuan”
Kita hidup di era yang di satu sisi menjanjikan kemajuan luar biasa, namun di sisi lain menyimpan bara yang dapat menghanguskan keutuhan sosial: “Polarisasi Sosial”. Fenomena ini bukan sekadar perbedaan pendapat atau selisih pandang antarwarga, melainkan bentuk “Segregasi Sosial” yang makin nyata ketika jurang ekonomi, budaya, dan nilai semakin melebar.
Polarisasi sosial terjadi ketika masyarakat terbelah antara kelompok berpenghasilan tinggi dan kelompok berpenghasilan rendah, sementara lapisan menengah yang selama ini menjadi perekat sosial justru menyusut.
Penelitian awal oleh R.E. Pahl di Pulau Sheppey mengungkapkan bahwa masyarakat pra-kapitalis yang semula egaliter berubah menjadi terfragmentasi akibat struktur ekonomi kapitalis yang menajamkan perbedaan status. Fenomena ini kini meluas di berbagai negara, termasuk Indonesia, terutama di kawasan perkotaan.
Di kota-kota besar, Kita menyaksikan kontras yang mencolok seperti: Gedung pencakar langit menjulang di tengah permukiman kumuh yang rapuh. Sementara sebagian kecil menikmati kemewahan, sebagian lain berjuang sekadar untuk hidup layak. Ketika “Restrukturisasi Ekonomi, Fluktuasi Properti, dan Teknologi Digital” tidak diimbangi kebijakan sosial yang adil, kesenjangan menjadi jurang yang memisahkan, bukan sekadar berbeda, tetapi saling meniadakan.
Dari Dunia Maya ke Dunia Nyata: Polarisasi yang Mengeras
Era Digital yang semestinya memperkuat jejaring sosial justru menjadi lahan subur bagi pembelahan baru. Media sosial yang idealnya menjadi ruang dialog kini berubah menjadi “Arena Tempur Opini”. Narasi kebencian, hoaks, dan pembenaran diri terus menggema, menciptakan suasana gaduh dan melelahkan.
Kita menyaksikan rakyat saling serang demi pembenaran pandangan, bukan demi kebenaran hakiki. Kejujuran menjadi relatif; ketidakjujuran bisa disulap menjadi kebenaran baru. Nilai moral tergerus oleh pragmatisme politik dan ekonomi. Bahkan, kehormatan, sesuatu yang dahulu dijaga sekuat tenaga, kini seolah bisa diperdagangkan di “Bursa Kepentingan”.
Seperti dikemukakan Dr. Maslim Halimin (2025), “Rakyat tanpa sadar telah teradu domba. Umpatan bergema di jagad maya, diskusi kehilangan makna, kepakaran menjadi absur, dan kepemimpinan tinggal kenangan.” Ungkapan ini bukan sekadar kritik sosial, melainkan peringatan keras akan bahaya yang sedang mengintai seperti: Ketika kebisingan digital menenggelamkan akal sehat, dan ketulusan berganti kepura-puraan.
Menemukan Kembali Ruh Persatuan dan Keadilan Sosial
Polarisasi Sosial bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Ia adalah hasil dari ketimpangan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Karena itu, solusinya harus kolektif dan lintas-sektor. Pemerintah dan Pemerintah Daerah perlu memperkuat kebijakan redistribusi ekonomi yang adil, menyediakan lapangan kerja produktif, serta memastikan akses pendidikan dan kesehatan yang setara bagi semua warga.
Namun kebijakan saja tak cukup. Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pendidikan, dan Generasi Muda memiliki peran vital untuk membangun kembali jembatan sosial yang mulai retak. Nilai Kearifan Lokal Nusantara, seperti : “Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi” di Sulawesi Selatan, perlu dihidupkan kembali sebagai Fondasi Moral Masyarakat Modern.
Masyarakat Indonesia sejatinya memiliki “DNA” keberagaman yang kokoh. Dalam kebhinekaan itulah Kita seharusnya saling menguatkan, bukan saling meniadakan.
“Berbeda bukan berarti Terpisah, Beragam bukan berarti Tercerai-berai.”
Justru dari keberagamanlah muncul daya hidup bangsa yang beradab dan berdaulat.
Kembali ke Jalan Tengah: Membangun Indonesia yang Menyatu
Masa depan Indonesia bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang mampu mendengarkan. Pemerintah, Masyarakat, Akademisi, dan Tokoh Bangsa harus kembali meniti jalan tengah, jalan kebijaksanaan agar tidak terseret arus ekstrem yang memecah-belah.
Kita membutuhkan “Kepemimpinan Moral dan Kebijakan Sosial yang Berkeadilan”, bukan politik kepentingan jangka pendek. Diperlukan ruang publik yang sehat, di mana perbedaan dihargai, data berbicara lebih lantang daripada fitnah, dan rakyat tidak sekadar dijanjikan “Pil Instan agar tetap Tenang”, melainkan diberdayakan untuk berpikir, berpartisipasi, dan bermartabat.
Bangsa ini akan tetap kuat jika rakyatnya bersatu dalam semangat kebersamaan, saling menghargai, dan menolak setiap bentuk adu domba. Sebab, Indonesia bukan sekadar Wilayah, tetapi Jiwa Kolektif yang disatukan oleh Nilai Kemanusiaan dan Cita-cita Keadilan Sosial”.
Mencegah Polarisasi, Merawat Persaudaraan
Polarisasi sosial adalah ancaman sunyi yang tak terlihat kasat mata, namun mampu menggerogoti Fondasi Bangsa dari dalam. Kita tidak boleh membiarkan kesenjangan sosial, politik, dan digital menjadi bara yang memecah persaudaraan.
Saatnya seluruh elemen bangsa : Pemerintah, Akademisi, Tokoh Agama, Adat, dan Pemuda : Bersatu melawan arus keterbelahan ini dengan cara yang bermartabat yakni: Melalui pendidikan yang mencerahkan, komunikasi yang menyejukkan, dan kepemimpinan yang tulus melayani.
Karena sejatinya, “Indonesia hanya akan menjadi Besar jika 4akyatnya tetap Perpegang pada Nilai: Beragam, Bersatu, dan Berdaya untuk Indonesia Raya.
Salam Keberagaman Nusantara
Beragam, Bersatu, Berdaya untuk Indonesia Raya.
Tentang Penulis : Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd. (Pensiunan ASN-PNS Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas dari Sulawesi Barat. Pemerhati Pendidikan, Adat dan Seni Budaya Nusantara).
Editor : Usman Laica
