Oleh: Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.

independennews.id — Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” bukan sekadar kalimat indah pada Perisai di cengkraman kaki burung Garuda Pancasila. Ia adalah napas kehidupan bangsa Indonesia yang menuntun Kita menjaga keberagaman agar tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan dinamika sosial yang kian kompleks, semboyan ini menemukan kembali relevansinya. Makna “Berbeda-beda namun tetap satu jua”, kini bukan hanya seruan moral, melainkan panggilan kebangsaan untuk Merawat Nilai-nilai Persaudaraan dan Harmoni.

Tanpa kesadaran kolektif untuk menghidupkannya, bangsa ini mudah retak oleh sekat-sekat identitas, egoisme kelompok, dan kepentingan yang sempit.

Oase Kebangsaan di Tengah Riuh Perbedaan

Dalam lanskap sosial Indonesia yang majemuk, kehadiran “Forum Keberagaman Nusantara (FKN)” menjadi Oase yang menyejukkan. Forum ini tidak hanya menjadi Ruang Silaturahmi lintas Suku, Agama, dan Budaya, tetapi juga “Gerakan Sosial Kebangsaan” yang membumikan nilai “Bhinneka Tunggal Ika” dalam tindakan nyata.

Ketua Umum FKN, Arif Rahmansyah Marbun Tuanku Alamsyah, menegaskan bahwa Forum ini merupakan “Ikhtiar Kolektif untuk Merajut Keberagaman Nusantara dan Meneguhkan Nilai-nilai Luhur Kebangsaan.”

Keberagaman harus dilihat sebagai kekuatan yang dikelola dengan bijak, bukan perbedaan yang dipertentangkan.

Dewan Pembina FKN, Prof. K.H. Ma’ruf Amin, yang juga Wakil Presiden RI ke-13, mengingatkan bahwa “Kerukunan adalah Fondasi bagi Keberlangsungan Bangsa. Tanpa Persaudaraan lintas Iman dan Budaya, Indonesia mudah terbelah oleh kepentingan sempit.”

Pesan ini menegaskan bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman pandangan, melainkan dari Semangat Saling Menghormati dan Mengasihi.

Generasi Muda dan Indonesia Emas 2045

Dalam Visi Besar “Indonesia Emas 2045”, Generasi Muda menjadi Penentu Arah Masa Depan Bangsa. Mereka bukan sekadar mayoritas populasi, tetapi juga penjaga nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman.

FKN memahami hal itu dengan Membuka Ruang Dialog, Kolaborasi, serta Penguatan Literasi Kebinekaan bagi Pemuda lintas Daerah dan Budaya.

“Pemuda Indonesia harus menjadi Motor Harmoni, bukan penonton dalam perubahan”.

Keberagaman Generasi Muda, dari Aceh hingga Papua : harus diikat oleh nilai bersama seperti Cinta Tanah air, Toleransi, dan Tanggung jawab Sosial. Di sanalah cita-cita “Indonesia Emas 2045” menemukan maknanya, bukan hanya pada kemajuan ekonomi, tetapi juga pada Kematangan Moral dan Budaya Bangsa.

Dari Semboyan Menjadi Gerakan

“Bhinneka Tunggal Ika” tidak boleh berhenti sebagai slogan seremonial. Ia harus menjadi “Gerakan Hidup dalam Perilaku Masyarakat, yakni dari Ruang Kelas, Rumah Ubadah, hingga Ruang Digital”.

Sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, “Indonesia adalah laboratorium sosial terbesar di dunia. Kita bisa bertahan karena memiliki kemampuan untuk mengelola perbedaan tanpa kehilangan arah kebangsaan.”

FKN berperan sebagai penjaga laboratorium sosial itu. Dengan melibatkan “Tokoh Agama, Adat, Pendidikan, dan Pemuda”, Forum ini menjembatani masa lalu yang penuh kearifan dengan masa depan yang sarat tantangan.

Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan di atas kesediaan untuk bersatu dalam keberagaman.

Indonesia yang Dirajut oleh Cinta

Pada akhirnya, semangat “Bhinneka Tunggal Ika” bukan sekadar wacana ideologis, tetapi Wujud Cinta kepada Bangsa.
FKN mengajak seluruh elemen masyarakat untuk “Merawat Keberagaman sebagai Warisan Luhur dan Menanamkan Harmoni sebagai Kekuatan Masa Depan”.

Sebab, hanya “Bangsa yang Mampu Menghargai Perbedaannya yang akan tetap Teguh Menghadapi Badai Zaman”.

“Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, walau
Kita berbeda Warna dan Suara, tetapi Kita tetap Satu Irama yakni : Indonesia.”

Salam Damai Nusantara, Salam Sehat, dan Hormat Penuh Takzim.
Tentang Penulis : Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd. (Pensiunan ASN-PNS Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Pemerhati Pendidikan dan Budaya Orang Mandar, Sulawesi Barat).
Editor : Usman Laica.

By admin