Oleh: Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.
independennews.id —- Di tengah derasnya arus globalisasi dan derasnya modernisasi yang seringkali mengikis akar Budaya Bangsa, istilah “Budayawan” sering terdengar dalam berbagai kegiatan seni dan kebudayaan. Namun, tak sedikit masyarakat yang belum memahami secara mendalam siapa sebenarnya yang layak disebut “Budayawan”. Sebutan ini bukanlah gelar sosial atau status eksklusif, melainkan “Bentuk Penghargaan Moral terhadap Pengetahuan, Karya, dan Dedikasi Seseorang terhadap Nilai-nilai Budaya Bangsanya”.
Budayawan Sejati adalah “Mereka yang tidak hanya Berbicara tentang Budaya, tetapi Menghidupi Budaya dalam Karya, Pemikiran, dan Sikap Hidupnya”. Mereka menjaga Warisan Leluhur dengan cara-cara yang Beradab, bukan dengan arogansi atau kekerasan.
Seorang Budayawan Sejati “Memahami Akar Tradisi dan Nilai-nilai Luhur Masyarakatnya, sekaligus Mampu Menafsirkan ulang Makna Budaya agar tetap Relevan di Tengah Perubahan Zaman”.
Karya Sebagai Cermin Nurani Bangsa
Ukuran kebudayawanan seseorang tidaklah ditentukan oleh popularitas atau penghargaan, melainkan oleh “Karya dan Pemikirannya yang memberi Dampak Positif bagi Kehidupan Masyarakat”. Karya itu dapat berbentuk “Tulisan, Seni rupa, Musik, Teater, Film, Sastra, maupun Aktivitas sosial yang menumbuhkan Kesadaran Budaya. Melalui karya, Budayawan Sejati Menanamkan Nilai Moral, Spiritual, dan Kemanusiaan yang Memperkuat Jati diri Bangsa.
Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), “Budaya itu bukan hiasan, melainkan Fondasi Keberadaban. Budayawan adalah mereka yang Menyalakan Kesadaran Manusia untuk Kembali Menjadi Manusia.”
Pernyataan itu menggambarkan bahwa tugas Budayawan tidak berhenti pada karya estetik, tetapi juga pada upaya membangun “Kesadaran Etik dan Spiritual”.
Dalam pandangan Goenawan Mohamad, Budaya adalah “Cara Bangsa ini Berbicara dengan Dirinya sendiri.” Maka, setiap karya Budayawan Sejati sejatinya adalah Dialog Kemanusiaan, berupa “Percakapan Panjang antara Masa lalu, Masa kini, dan Masa depan Bangsa”.
Kesetiaan dalam Pengabdian
Budayawan Sejati bukanlah sosok yang muncul karena sorotan panggung atau publikasi, tetapi karena ketulusan dan konsistensinya dalam pengabdian terhadap kebudayaan. Kesetiaan terhadap Nilai Budaya adalah ujian waktu yang panjang, misalnya “Pengabdian Tanpa Pamrih, bahkan di Tengah Keterbatasan”.
Sebagaimana dikatakan oleh Sapardi Djoko Damono, “Budaya tidak lahir dari keinginan untuk terkenal, melainkan dari keharusan Hati untuk jujur kepada kehidupan.” Itulah sebabnya, Budayawan Sejati akan tetap berkarya meskipun tanpa dukungan, karena “Panggilan Jiwanya” adalah menjaga nilai kemanusiaan, bukan sekadar mencari tepuk tangan.
Etika dan Integritas: Pilar Kecerdasan Budaya
Etika dan Integritas menjadi ciri utama seorang Budayawan.
Mereka menyampaikan kritik dengan santun, mengutamakan dialog, dan menjadi penyejuk Hati untuk semua di tengah badai konflik sosial. Budaya seharusnya menjadi ruang persaudaraan dan pencerahan, namun bukan alat untuk membenturkan kepentingan atau menimbulkan perpecahan.
Sebagaimana ditegaskan Prof. Dr. Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI, “Budaya adalah Jembatan Peradaban. Siapa pun yang berjalan di atasnya dengan Hati bersih, sesungguhnya sedang membangun Perdamaian Dunia.”
Budayawan Sejati selalu memilih jalan pemikiran dan gagasan, bukan jalan kekerasan. Itulah bentuk “Kecerdasan Budaya” yang hakiki, yakni kemampuan menyalurkan kritik sosial tanpa memecah belah, melainkan memulihkan dan menyembuhkan.
Pengakuan Sosial dan Tanggung Jawab Moral
Gelar “Budayawan” tidak bisa disematkan oleh diri sendiri. Ia lahir dari “Pengakuan Masyarakat dan Komunitas Budaya atas Keteladanan Seseorang”. Maka, penting untuk tidak mudah mengklaim diri sebagai Budayawan hanya karena aktif dalam kegiatan seni. Budayawan Sejati adalah Mereka yang Diterima karena Integritas dan Karyanya yang Menginspirasi Lintas Generasi.
Dalam pandangan seorang Tokoh Masyarakat Adat dari Tanah Malaqbi Mandar Provinsi Sulawesi Barat : “Budaya adalah Napas dari Leluhur yang Terus Berdenyut dalam Kehidupan Kita hari ini. Seorang Budayawan Sejati bukan hanya Pewaris, tetapi Penjaga dan Penyambung Napas itu Agar Tidak Putus di Tengah Arus Zaman.”
Pandangan ini menegaskan bahwa Budayawan memikul tanggung jawab moral: “Menjaga Kesinambungan Nilai luhur dalam Kehidupan Modern yang Serba Cepat dan Pragmatis”.
Budayawan Sebagai Penjaga Nurani Peradaban
Pada akhirnya, Budayawan adalah “Penjaga Nurani Kebudayaan”. Ia Berpikir, Berkarya, dan Berbuat dengan Kesadaran bahwa Budaya adalah Ruh Peradaban.
Mereka Menyalakan Cahaya di Tengah Kegelapan Zaman, seperti “Mengajarkan Manusia untuk Mencintai Kemanusiaan melalui Jalan Kebudayaan”.
Dalam bahasa sederhana, Budayawan Sejati adalah Pelita Moral yang Menuntun Bangsa untuk tidak kehilangan arah di tengah gelombang perubahan.
Mereka menjadi saksi dan penjaga: agar bangsa ini tidak lupa akan jati dirinya sendiri.
Seperti dikatakan oleh Romo Mangunwijaya, “Kebudayaan adalah Cinta yang Diwujudkan dalam Tindakan.” Maka Budayawan Sejati adalah Mereka yang Mencintai Bangsanya melalui Tindakan Nyata seperti : “Menulis, Berkarya, Berbicara, dan h
Hidup dengan Nilai-nilai yang Menumbuhkan Kedamaian”.
Indonesia membutuhkan lebih banyak Budayawan Sejati, yang bukan sekadar memproduksi karya, tetapi juga menyalakan kesadaran. Di tengah dunia yang makin terfragmentasi oleh ego, politik, dan teknologi, Budayawanlah yang menjaga agar kemanusiaan tidak padam.
Karena pada akhirnya, seperti petuah bijak para leluhur dari Tanah Malaqbi Mandar:
“Budaya yang Hidup adalah Budaya yang Menyejukkan Hati untuk Semua, bukan Membakar.”
Budayawan Sejati hadir bukan untuk menguasai zaman, melainkan untuk Menuntun Zaman Menuju Kebijaksanaan.
Salam Budaya, Salam Harmoni, dan Penghormatan Setinggi-tingginya.
Editor: Usman Laica
