Oleh : Sarifuddin
independennews.id — Roda kehidupan niscaya senantiasa berputar, dan tidak ada yang abadi di dunia ini. Setiap awal selalu memiliki akhir, setiap permulaan pasti berujung pada penghabisan. Cepat atau lambat, hal ini akan dialami oleh siapa pun, termasuk oleh sosok Pendidik tulus dan ikhlas, Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.
Mengabdikan diri sejak TMT CPNS 1 Maret 1989 dengan pangkat Penata Muda hingga memasuki masa purnabakti pada 31 Agustus 2024 dengan pangkat pengabdian Pembina Utama, ia menorehkan jejak 35 tahun 6 bulan pengabdian tanpa henti bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi dirinya, predikat “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” bukan sekadar julukan, melainkan napas perjuangan. Filosofi Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara : Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani, bukan hanya diucapkan, tetapi benar-benar dihidupi.
Hari penghabisan pengabdiannya sebagai Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas akhirnya tiba pada Sabtu, 31 Agustus 2024. Sehari kemudian, Minggu 1 September 2024, beliau resmi melepas status ASN-PNS. Namun, pengabdian sejatinya tidak berhenti pada administrasi birokrasi. Ia tetap menjadi Teladan bagi siapa pun yang mengenalnya, terutama di ranah Pendidikan dan Kebudayaan di tanah Malaqbi Mandar Provinsi Sulawesi Barat.

Kini, tongkat estafet kepemimpinan di UPTD SMKN 1 Tapalang Barat Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, diserahkan kepada Wakilnya di sekolah ini, Sarifuddin, S.Pd.I., M.Pd., seorang Tokoh Agama sekaligus Tokoh Masyarakat setempat. Beliau dipercaya menjadi Nakhoda baru dengan Amanah sebagai Plt. Kepala Sekolah. Tugas utamanya tidak hanya menjaga, tetapi juga melanjutkan eksistensi sekolah yang selama ini dikenal dengan jargon: “Sekolah Modern Penuh Harapan Untuk Masa Depan Cemerlang” atau “SMK OKE De” adalah akronim dari empat konsentrasi keahlian yang dibina, yakni Otomotif (TSM), Komputer (TKJ), Elektronika (TAV), dan Desain Komunikasi Visual (DKV).
Regenerasi sejati bukanlah sekadar pergantian figur, melainkan kesinambungan visi, semangat, dan pengabdian. Pemimpin yang baru tidak sekadar menggantikan, tetapi meneruskan sekaligus memperkaya warisan dengan ide-ide segar. Kepemimpinan sejati tercermin ketika tongkat estafet berpindah tanpa kehilangan arah, tanpa memutus akar perjuangan, dan justru menumbuhkan ranting-ranting baru yang lebih kokoh.
Jika seorang pemimpin hari ini menanam dengan ikhlas, maka pemimpin esok akan menuai dengan berkah. Pendidikan sejatinya bukan sekadar ruang belajar, tetapi “Taman Pengharapan, Tempat Generasi Muda Dibentuk dengan Hati yang Kuat, Pikiran yang Segar, dan Semangat yang Tak Pernah Padam”.
Pemerintah, Pemerintah Daerah, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pendidik, Tokoh Pemuda, Mahasiswa, hingga Masyarakat luas harus menyadari bahwa keberlanjutan pendidikan tidak mungkin berjalan tanpa dukungan kolektif. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab Guru, melainkan tanggung jawab Kita semua.
Warisan pengabdian yang ditorehkan oleh Sjahrir Tamsi adalah cermin dari nilai luhur yang harus terus dirawat seperti: “Keikhlasan, Pengorbanan, dan Dedikasi Tanpa Batas”.
Kini, saatnya generasi penerus mengambil peran, menjaga bara semangat itu, dan memastikan cahaya pendidikan tetap menyala, bukan hanya di Tapalang Barat, tetapi juga di seluruh Sulawesi Barat dan Tanah Air Indonesia Tercinta ini.
Sebab, Pendidikan bukan hanya Membangun Sekolah, melainkan Membangun Peradaban.
Editor: Sjahrir Tamsi
