Oleh : Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.

independennews.id — Mendidik bukan sekadar mengajar, bukan pula sebatas transfer pengetahuan. Mendidik adalah Proses memanusiakan manusia, membimbing jiwa dengan kesadaran, serta membangun karakter dengan penuh cinta kasih dan ketulusan Hati. Dalam hal inilah, Mendidik dengan “Hati dan Pikiran” menjadi sangat penting agar pendidikan mampu melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas intelektual, melainkan juga matang secara emosional dan berkarakter luhur.

  1. Menghargai Peserta Didik Apa Adanya

Setiap Peserta didik adalah pribadi unik dengan bakat, keterbatasan, dan kelebihan masing-masing. Menghargai sekecil apa pun usahanya misalnya : datang tepat waktu, menjaga kebersihan kelas, mengerjakan tugas meski belum sempurna, adalah bentuk nyata pendidikan dengan Hati. Ki Hajar Dewantara menegaskan: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Dengan demikian, apresiasi sederhana berupa senyum, ucapan terima kasih, atau tepukan hangat di pundak jauh lebih berarti daripada seribu nasihat tanpa ketulusan.

  1. Apresiasi sebagai Energi Positif

Apresiasi tidak perlu mewah. Kata-kata sederhana seperti “Ananda hebat!” atau “Belajar terus ya” adalah energi positif yang menyalakan semangat belajar. Menurut Prof. Dr. Abdullah Pandang, M.Pd., mendidik dengan Hati tidak butuh fasilitas mewah, melainkan kesediaan untuk sabar, mendengar, memahami, dan menemani anak dalam kesulitannya.

  1. Pendampingan dan Empati

Peserta didik yang terlibat konflik atau menghadapi kesulitan butuh Pendidik yang hadir sebagai pendengar yang baik. Fokus mendengarkan keluh kesah, memberi solusi, dan merangkul dengan empati adalah praktik pendidikan yang menyejukkan Hati. Hana Marita Sofianti (Praktisi PAUD) menyebut, “Mendidik anak dengan Hati adalah mendekatkan rasa dengan jiwa anak.” Inilah seni pendampingan yang membangun kepercayaan diri dan ikatan emosional Peserta didik.

  1. Sekolah sebagai Ruang Bahagia

Sekolah sejatinya bukan hanya tempat belajar, tetapi juga “Ruang Pelayanan yang Menenangkan” bagi semua. Kepala Sekolah, Guru, dan Tenaga Kependidikan dituntut melayani dengan Hati, membangun komunikasi hangat, ramah, rendah Hati, dan menyenangkan.

Prof. Dr. Zudan Arif Fakrullah, S.H., M.H. (2024) menegaskan: “Tugas Kepala Sekolah, Guru, Pendidik, dan Pengawas adalah menciptakan sistem pembelajaran agar Peserta didik selalu bahagia dan gembira dalam proses belajar.” Dengan demikian, “Gerakan Nasional Sekolah Bahagia” (Happy Schools) bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi gerakan simultan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

  1. Kebahagiaan sebagai Fondasi Pembelajaran

Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membahagiakan. Doni Koesoema (2006) menegaskan bahwa Peserta didik jangan diasingkan dari kebahagiaan “kekinian” yang penuh dinamika. Kebahagiaan dalam belajar mampu mengatasi krisis pembelajaran seperti: anak lebih termotivasi, aktif, partisipatif, dan memiliki kesejahteraan mental yang baik.

Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Pd., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, melalui Visinya “Pendidikan Bermutu untuk Semua” menekankan pentingnya memastikan hak belajar setiap anak dengan cara menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman, dan penuh integritas. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka dan P5, Peserta didik perlu ditumbuhkan “Sense of Belonging” terhadap sekolah agar senang hadir, bahagia belajar, dan tumbuh menjadi pribadi berintegritas.

  1. Filosofi Pendidikan dengan Cinta

Pada akhirnya, mendidik dengan Hati adalah mendidik dengan “Cinta dan Kasih Sayang”. Guru hadir bukan hanya sebagai Pengajar, tetapi sebagai Pembimbing, Sahabat, sekaligus Teladan. Bahasa Hati, misalanya : penuh ketulusan, empati, dan keikhlasan, lebih mudah masuk ke Hati anak daripada seribu teori kognitif tanpa sentuhan kemanusiaan.

Dalam Islam, amal yang paling disukai Allah adalah ketika seseorang mampu menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian kepada orang lain. Maka, tugas Pendidik Sejati adalah menebarkan kedamaian di sekolah, sekecil apa pun bentuknya, bahkan melalui senyum tulus sekalipun.

Mendidik dengan Hati dan Pikiran bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Di tengah tantangan krisis pembelajaran dan derasnya arus digitalisasi, Peserta didik membutuhkan “Sekolah yang membahagiakan, Guru yang penuh empati, dan lingkungan belajar yang menenangkan”.

Mari bersama menjadikan pendidikan sebagai ruang yang “Membahagiakan, Membebaskan, sekaligus Mencerdaskan”. Karena sesungguhnya, seperti diingatkan Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.” Di depan memberi Teladan, di tengah membangun Semangat, di belakang memberi Dorongan, semuanya dengan Hati yang Tulus dan Pikiran yang Jernih.

“May Peace Abide in Our Heart. Semoga Kedamaian Senantiasa Bersemayam di Hati Kita Semua”.

Editor : Usman Laica

By admin