independennews.id — Tanggal 1 Oktober bukan sekadar tanggal di kalender nasional, melainkan simbol Kesaktian Ideologi Bangsa Indonesia, “Pancasila”. Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober mengingatkan Kita akan keberanian dan keteguhan bangsa ini dalam menghadapi ancaman ideologi yang ingin meruntuhkan persatuan dan jati diri bangsa. Momen ini adalah panggilan bagi seluruh lapisan masyarakat, dari Pejabat hingga Pekerja, dari Pendidik hingga Pelajar, untuk bersama-sama menghayati Nilai-nilai Luhur Pancasila sebagai Pedoman Hidup Berbangsa dan Bernegara.

Meski Hari Kesaktian Pancasila tidak masuk dalam daftar tanggal merah atau hari libur nasional, esensinya jauh lebih penting dari sekadar hari libur. Upacara bendera yang dilaksanakan serentak, termasuk puncaknya di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta Timur, pada pukul 08.00 WIB, menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna Pancasila. Ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan tentang meneguhkan komitmen agar ideologi yang menjadi dasar negara ini tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi dan dinamika sosial.

Dari perspektif filosofi hidup dan ajaran agama, Pancasila mengandung nilai-nilai universal yang meresap ke dalam setiap langkah kehidupan. Ketuhanan Yang Maha Esa, sila pertama, mengingatkan setiap insan bahwa segala tindakan dan keputusan diambil dengan rasa tanggung jawab kepada Sang Pencipta. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengajarkan Kita untuk saling menghormati dan berempati, fondasi utama dalam membangun harmoni sosial. Hal ini sangat relevan bagi para Pekerja, Guru, dan Mahasiswa yang berperan dalam membentuk Karakter Bangsa.
Mereka bukan hanya menjalankan tugas Profesional, tetapi juga menanamkan Nilai-nilai Kemanusiaan dan Keadilan dalam setiap aktivitasnya.

Tokoh Agama dan Masyarakat Adat dapat mengambil peran krusial sebagai :
Penanggung jawab Moral dan Pelestari Nilai-nilai Luhur Pancasila,

Menanamkan Kesadaran Spiritual dan Budaya yang membumi, sekaligus Menjaga Keberagaman Agama dan Budaya sebagai Kekayaan Bangsa.

Pemuda dan Mahasiswa menjadi barisan terdepan dalam menguatkan semangat nasionalisme dan inovasi, yang harus terus dipupuk agar Pancasila tak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan hari ini juga mengandung pesan penting bagi Pemerintah Pusat dan Daerah untuk terus menegakkan keadilan sosial dan penghormatan hak asasi manusia, sehingga makna Pancasila tidak berhenti di atas kertas tapi dirasakan dalam kesejahteraan dan persatuan seluruh rakyat Indonesia. Sepanjang 1 Oktober 2025, meski aktivitas kantoran dan sekolah berjalan normal, jangan biarkan semangat Pancasila ikut berlalu tanpa makna.
Jadikan hari ini sebagai hari refleksi dan komitmen bersama untuk menjaga kesaktian Pancasila dalam setiap Profesi dan Peran Kita.

Dengan memahami dan mengamalkan nilai Pancasila secara utuh, bangsa ini akan mampu menepis segala bentuk ideologi yang ingin memecah belah. Kesaktian Pancasila bukan hanya kembalinya ideologi dalam sejarah, tapi wujud nyata keutuhan dan kebersamaan Kita sebagai Bangsa yang Beradab dan Bermartabat.
Salam Persatuan Nusantara dan Salam Hormat Penuh Takzim.
Salam WCDS.

Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin