independenmews.id — Euforia Kemerdekaan Palestina menggema di berbagai belahan dunia. Harapan yang sekian lama tertahan kini kembali berkobar, terutama setelah semakin banyak negara yang mengakui Palestina sebagai Entitas Merdeka. Momentum ini kian menguat pasca pengakuan de facto oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2025. Di Tepi Barat, Perayaan Rakyat berlangsung penuh haru, menyatukan doa dan semangat perjuangan, meski bayang-bayang luka kemanusiaan di Gaza masih membekas.

Deklarasi dan Pengakuan Awal: Fondasi Sejarah

Jejak Kemerdekaan Palestina bermula pada 15 November 1988, ketika Yasser Arafat membacakan Deklarasi Kemerdekaan Palestina yang ditulis oleh Penyair Legendaris Mahmoud Darwish. Deklarasi itu menjadi tonggak sejarah yang langsung mendapatkan respon luas: dalam hitungan hari, 79 Negara menyatakan Mengakuan Resmi, dan jumlah itu terus bertambah hingga lebih dari 145 Negara pada tahun 2025.

Momentum sejarah ini membuktikan bahwa Cita-cita Palestina untuk berdiri sejajar dengan Bangsa-bangsa lain bukanlah ilusi, melainkan tekad yang terus diperjuangkan dengan Darah, Air mata, dan Diplomasi.

Dukungan Global: PBB dan Negara Sahabat

Langkah Besar terjadi pada September 2025, ketika Palestina diakui secara de facto oleh PBB melalui dukungan 142 dari 193 Negara anggota. Negara-negara Eropa dan Karibia seperti Irlandia, Spanyol, Jamaika, Norwegia, dan Barbados menjadi bagian dari Gelombang Baru Pengakuan. Bahkan Australia, Kanada, dan Malta dijadwalkan mengumumkan pengakuan resmi, sementara Inggris menyatakan kesiapan dengan syarat tertentu.

Perubahan Geopolitik ini Memberi Harapan Baru. Palestina bukan lagi sekadar isu kawasan, tetapi Simbol Perjuangan Kemanusiaan Global.

Solidaritas Dunia: Suara Tokoh Internasional

Dukungan terhadap Palestina tak hanya datang dari Negara-negara Sahabat, tetapi juga Tokoh-tokoh Dunia yang menegaskan bahwa Perjuangan Palestina adalah Bagian dari Perjuangan Kemanusiaan Universal.

Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, pernah berkata:

“We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians.”
(Kami tahu terlalu baik bahwa kebebasan kami tidak lengkap tanpa kebebasan rakyat Palestina.)

Pernyataan ini menjadi simbol solidaritas abadi antara perjuangan anti-apartheid dan pembebasan Palestina.

Tokoh Spiritual Dunia, Paus Fransiskus, dalam seruannya di Vatikan menegaskan:

“Let us pray for peace in the Holy Land and for the peoples who live there, so that dialogue, justice, and coexistence can prevail over hatred and violence.”
(Mari Kita berdoa untuk perdamaian di Tanah Suci dan bagi semua orang yang tinggal di sana, agar dialog, keadilan, dan hidup berdampingan dapat mengalahkan kebencian dan kekerasan.)

Dari Dunia Akademisi dan Intelektual, Noam Chomsky, Filsuf dan Aktivis Politik, menyatakan:

“Palestinians have a right to live with dignity and freedom in their own land, without occupation and dispossession.”
(Rakyat Palestina memiliki hak untuk hidup dengan martabat dan kebebasan di tanah mereka sendiri, tanpa penjajahan dan perampasan.)

Sementara itu, Desmond Tutu, Uskup Agung dan peraih Nobel Perdamaian asal Afrika Selatan, juga mengingatkan:

“If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor. We must stand with the Palestinians.”
(Jika Anda netral dalam situasi ketidakadilan, maka Anda memilih berpihak pada penindas. Kita harus berdiri bersama Rakyat Palestina.)

Indonesia Konsisten: Dari Konstitusi Hingga Nurani Bangsa

Indonesia menegaskan kembali posisinya: “Mendukung Penuh Palestina”. Sejak awal, Indonesia termasuk Negara yang konsisten berdiri di Barisan Depan, dengan Pijakan Kuat pada Konstitusi: “Penjajahan di atas Dunia harus Dihapuskan, karena tidak sesuai dengan Perikemanusiaan dan Perikeadilan.”

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyuarakan dukungan tegas dengan menyinggung kerusakan masif Warisan Budaya Palestina akibat agresi Israel.
UNESCO mencatat 83 Situs, termasuk 11 Situs Keagamaan, mengalami kerusakan serius. Kerugian Budaya ini bukan hanya kehilangan fisik, melainkan juga penghapusan Identitas Peradaban.

Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, mengingatkan konsistensi para Presiden Indonesia sejak Era Awal Kemerdekaan yang selalu Berpihak pada Palestina. Senada, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menegaskan bahwa dukungan kini memasuki fase strategis seperti: Pemulihan Gaza, membangun kembali Kehidupan, dan Memastikan Palestina Berdiri Tegak sebagai Begara Berdaulat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menyuarakan rasa syukur atas Konsistensi Bangsa Indonesia. Dari Pemerintah Pusat hingga Masyarakat Akar Rumput, dari Tokoh Agama, Tokoh Adat, Pendidik, Pemuda, hingga Mahasiswa, semua Menyatu dalam Solidaritas.

Tantangan dan Jalan Panjang: Gaza sebagai Luka Kemanusiaan

Meski Pengakuan Internasional kian meluas, jalan menuju kemerdekaan penuh masih panjang. Gaza tetap menjadi Luka Kemanusiaan Terbesar. Perang yang belum usai, blokade berkepanjangan, dan kehancuran infrastruktur menjadi beban berat bagi Rakyat Palestina.

Diplomasi di Dewan Keamanan PBB pun masih terhambat oleh lobi Israel dan penggunaan hak veto oleh beberapa Negara Besar. Standar Ganda dalam Forum Internasional kerap Mencederai Rasa Keadilan Global, meninggalkan Luka Moral bagi Dunia yang mengaku Menjunjung Memanusiaan.

Namun, di balik semua itu, tekad Palestina untuk Bangkit tetap Kuat. Semangat membangun kembali Gaza bukan sekadar Rekonstruksi Fisik, melainkan Pemulihan Martabat.

Solidaritas Indonesia dan Dunia: Sebuah Panggilan Nurani

Kemerdekaan Palestina adalah Ujian bagi Peradaban Dunia, yakni: Apakah Kita Konsisten pada Nilai Kemanusiaan, atau Tunduk pada Kepentingan Geopolitik? Indonesia telah memberikan Teladan bahwa Solidaritas harus Dijaga, tidak hanya dalam Diplomasi, tetapi juga dalam Aksi Nyata.

Inilah saatnya Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat Adat, Pendidik, Pemuda, Mahasiswa, dan seluruh Rakyat Indonesia terus menggemakan dukungan. Sebab, Perjuangan Palestina adalah Perjuangan Seluruh Umat Manusia untuk Menegakkan Keadilan, Kebebasan, dan Martabat.

Jejak Peradaban yang Tak Pernah Padam

Jejak Peradaban Palestina Merdeka adalah Narasi Panjang tentang Keteguhan sebuah Bangsa. Dari Deklarasi 1988 hingga Pengakuan De Facto PBB pada 2025, Perjuangan ini membuktikan bahwa Kebenaran tidak bisa Dipadamkan.

Euforia Kemerdekaan Palestina bukan akhir, melainkan awal perjalanan panjang menuju Keadilan Sejati. Indonesia, dengan Konsistensinya, berdiri sebagai “Sahabat Sejati Palestina”. Dukungan ini harus terus dijaga, bukan hanya sebagai Amanat Konstitusi, tetapi sebagai Panggilan Nurani dan Bukti bahwa Kemanusiaan masih Hidup dalam Peradaban Dunia.
May Peace Abide in Our Heart.

Salam Perdamaian Abadi dan Salam Hormat Penuh Takzim .
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin