independennews.id — Dalam pusaran globalisasi yang ditandai oleh Arus Informasi Masif, Persaingan Ketat, serta Dinamika Sosial yang Kian Kompleks, Dunia Pendidikan dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara Akademis, tetapi juga Berkarakter, Beretika, dan mampu menjaga Keseimbangan antara Identitas Lokal dengan Daya Saing Global.
Inilah hakikat “Pendidikan Humanis” : Pendidikan yang menempatkan Manusia sebagai Subjek, bukan sekadar Objek Pembangunan, serta Berorientasi pada Pembentukan Insan Beriman, Berilmu, Berakhlak Mulia, dan Berdaya Saing.

Tantangan Global yang Dihadapi Pendidikan Humanis

  1. Perubahan dan Akses Informasi
    Globalisasi memberi akses luas terhadap informasi, namun di sisi lain membuka celah bagi konten negatif seperti : Pornografi, Ujaran Kebencian, hingga Hoaks, yang berpotensi mengikis Moral dan Akhlak Generasi Muda.
  2. Erosi Nilai Budaya dan Moral
    Pengaruh Budaya Asing sering kali menggeser Nilai-nilai Luhur Bangsa. Jika tidak diimbangi Pendidikan Karakter yang Kokoh, maka niscaya Generasi mendatang Berisiko tercerabut dari Akar Budaya dan Kearifan Lokal.
  3. Ketimpangan Akses Pendidikan
    Meskipun teknologi membuka peluang, masih ada jurang pemisah antara mereka yang mudah mengakses pendidikan berkualitas dan yang tertinggal, terutama di daerah terpencil.
  4. Persaingan Sumber Daya Manusia
    Era global menuntut SDM yang Kreatif, Inovatif, Adaptif dan Berkompetensi Tinggi. Tanpa Pendidikan Humanis yang relevan, maka Bangsa ini hanya akan menjadi penonton dalam percaturan global.
  5. Dinamika Perubahan Sosial
    Nilai Hedonistik, Materialistik, dan Sekuleristik, ditambah tekanan ekonomi serta tuntutan demokratisasi, menjadi tantangan serius yang harus dijawab oleh Sistem Pendidikan.

Strategi Menghadapi Tantangan Global

  1. Penguatan Pendidikan Karakter
    Seperti pesan Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Pendidikan harus membentuk Fondasi Moral yang kuat agar Generasi Muda tetap teguh memegang Nilai Luhur Bangsa di tengah arus perubahan.
  2. Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis
    Dalam Masyarakat yang banjir informasi, kemampuan memilah, menganalisis, dan menilai informasi menjadi kebutuhan mutlak. Berpikir Kritis melatih Peserta Didik agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda negatif dan mampu mengambil Keputusan yang Arif dan Bijaksana.
  3. Pengembangan Kompetensi Interkultural
    Pendidikan Agama sering mengingatkan pentingnya “Ukhuwah Insaniyah” (Persaudaraan Kemanusiaan). Pendidikan harus melatih Peserta Didik memahami keberagaman Budaya dan Agama sehingga mampu membangun Dialog, Toleransi, dan Kerjasama Lintas Bangsa.
  4. Adaptasi Teknologi dan Inovasi
    Pendidikan perlu memanfaatkan teknologi sebagai alat pembebasan, bukan sekadar konsumsi. Guru dan Sekolah harus menjadi Fasilitator yang Kreatif, Membimbing Peserta Didiknya menggunakan teknologi secara Produktif, Etis atau Beradab, Kreatif dan Inovatif.
  5. Kolaborasi Pemangku Kepentingan
    Sebuah filosofi dan Nilai Budaya Masyarakat Adat Mandar di Sulawesi Barat : “Sipamandaq” yang berarti “Saling Memperkuat dan Saling Menguatkan” antara satu sama lain, yang mengikat individu dan masyarakat dalam suatu kesatuan yang harmonis. Filosofi ini merupakan simbol dari Persatuan dalam Kebhinekaan, Kesepahaman, Musyawarah, dan Rasa saling Menghargai. Falsafah “Sipamandaq” mengajarkan pentingnya Tanggung jawab Kolektif. Pendidikan yang Humanis harus dibangun bersama : Pemerintah, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Pendidik, Orang tua, hingga Masyarakat luas.
  6. Pendidikan Berwawasan Global
    Kurikulum harus mengintegrasikan Perspektif Lokal, Nasional, dan Global. Identitas lokal dipelihara agar Peserta Didik tidak tercerabut dari akarnya, sementara wawasan global dipupuk untuk menghadapi Tantangan Masa Mepan.

Perspektif Filosofis dan Kearifan Lokal

Dalam pandangan Agama, Manusia dimuliakan karena akalnya dan perbuatannya. Islam menekankan al-Insān Kāmil (Manusia Paripurna) yang Berilmu, Beriman, dan Berakhlak Mulia. Sementara itu, Masyarakat Adat Nusantara menekankan Harmoni : Manusia tidak boleh terlepas dari Alam, Budaya, dan Komunitasnya.

Pendidikan Humanis menjadi jembatan antara dua pilar tersebut yaitu : Agama dan Adat, dengan menempatkan Peserta Didik sebagai Manusia Seutuhnya yang harus Tumbuh, Berkembang, dan Berkarya tanpa kehilangan Jati Dirinya.

Akhirnya, di tengah tantangan global yang kian kompleks, Pendidikan Humanis adalah “Jalan Tengah yang Menyatukan antara Kompetensi Tinggi dengan Karakter Luhur”. Pendidikan semacam ini bukan sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan Membentuk Manusia Berbudaya, Bermoral, Berdaya Saing, dan tetap Berpijak pada Nilai-nilai Luhur Bangsa.

Oleh karena itu, sudah saatnya Pemerintah, Pemerintah Daerah, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Pendidik, Mahasiswa, Pemuda, dan seluruh Masyarakat bersatu dalam Memperkuat Pendidikan Humanis. Sebab Masa Depan Bangsa ini, tidak hanya ditentukan oleh apa yang Kita ajarkan, tetapi juga oleh “Bagaimana Kita Menjaga Manusia tetap menjadi Manusia atau Memanusiakan Manusia” di tengah derasnya arus Globalisasi. Kalau bukan Kita, Siapa lagi dan kalau bukan Sekarang, Kapan Lagi.

Salam Budaya Literasi dan Salam Hormat Penuh Takzim.
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin