independennews.id — Kemuliaan Manusia dalam pandangan Islam tidak ditentukan oleh status Sosial, Jabatan, Harta, atau Garis Keturunan, melainkan oleh Ketakwaan dan Amal Salehnya. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat : 13, bahwa Manusia yang paling Mulia di sisi Allah adalah yang paling “Bertakwa”. Pesan ini menegaskan bahwa ukuran nilai seseorang bukanlah pada duniawi yang bersifat fana, melainkan pada kedekatannya dengan Allah dan Kebaikan Nyata yang ia perbuat di dunia.

Ketakwaan sebagai Ukuran Nilai Hakiki

Ketakwaan bermakna kesadaran penuh akan kehadiran Allah yang diwujudkan dalam “Rasa Takut, Taat, dan Cinta” kepada-Nya. Orang Bertakwa senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan dosa, menegakkan Ibadah dengan Ikhlas, serta berorientasi pada Amal Kebaikan yang Bermanfaat bagi Diri dan Sesama Manusia di tengah-tengah kehidupan Masyarakat.

Dalam Khazanah Islam, ketakwaan bukan sekadar urusan pribadi, tetapi juga Fondasi bagi Lahirnya Masyarakat yang Adil, Damai, dan Beradab. Ulama klasik menekankan bahwa Ketakwaan adalah Benteng Utama Manusia dari kesombongan kekuasaan, keserakahan harta, dan kedangkalan moral.

Masyarakat Adat Mandar, misalnya, menekankan konsep “Sibaliparriq” (Hidup saling Membantu dan saling Melengkapi) sebagai Pengejawantahan Nyata Ketakwaan dalam Kehidupan Sosial.

Amal Saleh sebagai Wujud Ketakwaan

Iman dan Amal Saleh adalah dua hal yang tak terpisahkan. “Iman tanpa Amal Saleh ibarat Pohon tanpa Buah, sementara Amal tanpa Iman hanyalah Tindakan Kosong yang Kehilangan Nilai Spiritual”. Karena itu, Amal Saleh adalah Bukti Ketakwaan Seseorang.

Amal Saleh mencakup seluruh perbuatan baik yang dilandasi Iman dan dilakukan untuk mencari Ridha Allah seperti : “Menunaikan Ibadah, Menolong Sesama, Menegakkan Keadilan, hingga Menjaga Kelestarian Lingkungan”.

Manfaat Amal Saleh bukan hanya untuk akhirat, tetapi juga untuk kehidupan dunia. Al-Qur’an (An-Nahl : 97) menegaskan bahwa Siapa saja yang beriman dan beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, akan diberi Allah kehidupan yang baik dan pahala yang lebih baik dari amalnya.

Implikasi Ketakwaan dan Amal Saleh

Ketakwaan dan Amal Saleh memiliki implikasi luas, baik bagi individu maupun masyarakat :

  • Sebagai Khalifah di Bumi, manusia dituntut menjaga keseimbangan, menegakkan keadilan, dan berkontribusi bagi kemaslahatan bersama.
  • Membangun Masyarakat yang Mulia, dengan menempatkan Iman dan Amal Saleh sebagai Pedoman Hidup, sehingga tercipta tatanan sosial yang Harmonis, Berkeadilan, serta Membawa Rahmat bagi Seluruh Alam.
  • Menguatkan Karakter Bangsa, karena masyarakat yang Bertakwa dan Beramal Saleh Niscaya akan menjunjung tinggi Kejujuran, Integritas, Solidaritas, serta Kepedulian terhadap sesama.

Filosofi Adat Kerajaan Binuang Mandar tentang “Sistem Tallu Bate”, yang menekankan Keseimbangan Peran dalam Kepemimpinan dengan Prinsip bahwa Kemuliaan terletak pada Harmoni, Tanggung jawab, dan Keteladanan. Begitu pula pandangan Tokoh Agama menegaskan bahwa Ketakwaan adalah Kompas Moral yang Menyatukan Perbedaan, Mengikis Kesenjangan, dan Melahirkan Masyarakat yang Sejahtera Lahir Batin.

Peran Strategis Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas

Dalam hal Pendidikan, Ketakwaan dan Amal Saleh juga harus menjadi ruh Pembentukan Karakter Generasi Muda. Di sinilah peran Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas di Sekolah sangat Vital. Oleh karena, Mereka di sekolah bukan sekadar melakukan fungsi administratif, tetapi juga sebagai :

  • Penjamin Mutu Pendidikan, memastikan bahwa proses pembelajaran tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga nilai moral, spiritual, dan karakter kebangsaan.
  • Teladan Nilai, dengan menunjukkan integritas, keadilan, dan ketulusan dalam bekerja secara Profesional di sekolah.
  • Pendorong Inovasi, agar sekolah menjadi ruang yang menyenangkan, menyejukkan Hati untuk semua dan menumbuhkan Amal Saleh melalui kegiatan nyata yang membentuk Kepedulian Sosial Peserta Didiknya.
  • Penghubung Nilai Agama dan Budaya, sehingga pendidikan di sekolah selaras dengan falsafah Adat, Kearifan Lokal, dan Ajaran Agama yang menekankan Harmoni dan Tanggung jawab Sosial.

Dengan peran efektif Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas di sekolah, Ketakwaan dan Amal Saleh tidak hanya menjadi retorika, melainkan Terimplementasi dalam Kebijakan, Kurikulum, dan Budaya Sekolah sehari-hari.

Ketakwaan dan Amal Saleh adalah Fondasi Utama Kemuliaan Manusia serta Kunci lahirnya Masyarakat Berperadaban Tinggi. Nilai ini seharusnya menjadi pedoman semua pihak : baik Pemerintah, Pemerintah Daerah, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Pendidik, Pemuda, Mahasiswa, maupun Masyarakat luas.

Seperti pesan bijak Ulama Besar, “Ketakwaan adalah Mahkota yang tidak terlihat, tetapi Sinarnya Terpancar dalam Akhlak dan Amal Perbuatan.” Maka, membumikan Ketakwaan dan Amal Saleh dalam kehidupan pribadi, sosial, dan pendidikan adalah Jalan Terbaik untuk Membangun Indonesia yang Adil, Berkarakter, dan penuh Keberkahan menyongsong Indonesia Emas 2045.

Salam Budaya Literasi dan Salam Hormat Penuh Takzim.
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin