Kilau Semu yang Menipu
independennews.id — Di era digital, Budaya Flexing sering tampil bagai permata yang berkilau. Orang berbondong-bondong memamerkan mobil mewah, liburan ke luar negeri, rumah megah, atau barang bermerek seolah-olah itu simbol kebahagiaan. Padahal, di balik layar, sering tersimpan hutang menumpuk, Hati yang kosong, bahkan keluarga yang terabaikan.
Flexing sejatinya adalah “Fatamorgana”, seolah terlihat indah dari jauh, tetapi saat didekati, tak ada apa-apa selain debu kehampaan.
Jejak yang Ditinggalkan: Teladan Para Tokoh
Sejarah Nusantara penuh dengan teladan tokoh yang justru meninggalkan nama harum bukan karena kekayaan, melainkan karena kesederhanaan dan karyanya.
KH. Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah dengan hidup penuh kesahajaan. Ia tidak pernah terpikir untuk memamerkan harta, karena bagi Beliau kekayaan terbesar adalah saat ilmu dan amalnya memberi manfaat bagi umat.
Buya Hamka, Ulama dan Sastrawan Besar, pernah berkata:
“Kemewahan itu bukan pada banyaknya harta, tetapi pada Hati yang lapang dan Jiwa yang merdeka”
Sjahrir Tamsi, Tokoh Pendidikan dan Kebudayaan Kontemporer menambahkan bahwa Orang Mandar diajarkan menjaga kehormatan diri dengan berbudi luhur, bukan dengan mengumbar kemewahan.
Mereka membuktikan bahwa hidup sederhana tidak mengurangi wibawa, justru menambah kemuliaan dan menjadikan nama mereka abadi.
Malaqbi adalah konsep Budaya Orang Mandar, Sulawesi Barat, yang mencerminkan harkat dan kedudukan tinggi melalui nilai-nilai luhur, akhlak mulia, kerendahan hati, dan martabat. Konsep ini terwujud dalam sikap, perilaku, dan tindakan sehari-hari, seperti tutur kata yang sopan, perbuatan baik, dan perilaku terpuji, serta dapat diartikan sebagai sifat unggul dan panutan.
Adapun Ciri-ciri dan Makna Malaqbi :
- Sikap dan Tindakan
Tercermin dalam perilaku yang menunjukkan akhlak baik, seperti rajin beribadah, jujur, rajin bekerja, “Sibaliparriq” atau gotong royong dan suka membantu, bertanggung jawab, dan memiliki empati. - Nilai-nilai Luhur
Meliputi kemuliaan, martabat, dan keutamaan dalam setiap aspek kehidupan. - Ungkapan Sifat.
Memiliki pengertian sebagai sifat “unggul” dan “panutan”, yang menjadi identitas dan kekhasan Budaya bagi Orang Mandar. - Penerapan
Dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan, termasuk pendidikan dan organisasi, untuk membentuk karakter dan meningkatkan moralitas.
Dimensi Spiritual: Kekayaan yang Hakiki
Agama telah menegaskan bahwa harta dan kemewahan hanyalah titipan. Dalam QS. At-Takatsur : 1-2, Allah memperingatkan:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Pesan ini tegas: pamer kemewahan hanya akan membuat manusia lupa tujuan hidup yang sebenarnya.
Rasulullah SAW sendiri hidup sederhana, tidur di atas tikar kasar, makan seadanya, namun menjadi “Manusia Paling Mulia di Dunia dan Akhirat”.
Hidup sederhana bukan berarti miskin. Justru di dalam kesederhanaan, seseorang menemukan ketenteraman, kebersihan Hati, dan kekayaan batin yang tidak bisa ditukar dengan apa pun.
Refleksi: Bertanya pada Hati
Sebelum Kita mengunggah sesuatu di media sosial, mari bertanya:
- Apakah ini akan menambah manfaat bagi orang lain, atau hanya sekadar pamer?
- Apakah ini mendekatkan saya pada syukur, atau justru menjerumuskan pada riya?
- Apakah yang saya tinggalkan nanti adalah jejak kebaikan, atau hanya kenangan semu tentang kemewahan yang fana?
Jalan Menuju Martabat
Untuk keluar dari Budaya Flexing, ada langkah-langkah nyata yang bisa ditempuh:
- Membangun Literasi Digital.
Pemerintah, Tokoh Masyarakat Adat dan Pendidik perlu memberi edukasi agar Generasi Muda bijak bermedia sosial. - Meneguhkan Nilai Kearifan Lokal.
Menghidupkan kembali falsafah Nusantara yang menjunjung harga diri, empati, dan kesederhanaan. - Menguatkan Spiritualitas.
Membiasakan diri dengan zikir, doa, dan syukur agar Hati tidak mudah tergoda dunia. - Mengapresiasi Karya dan Jasa.
Masyarakat perlu lebih menghargai prestasi yang bermanfaat, bukan sekadar pamer kekayaan. - Membangun Keteladanan.
Pejabat, Tokoh Masyarakat Adat, dan Pendidik wajib menjadi contoh nyata dalam hidup sederhana.
Warisan Abadi
Kelak, ketika Kita menutup mata, tak ada yang Kita bawa selain amal kebaikan. Mobil mewah, rumah megah, atau tas bermerek tidak akan menyertai kita di liang lahat. Yang tinggal hanyalah :
Doa orang-orang yang Kita bantu,
Manfaat dari karya yang Kita wariskan, dan
Teladan baik yang Kita tinggalkan.
Seperti doa yang sering diucapkan para Leluhur Orang Mandar:
“Ya Allah, jauhkan Kami dari hidup yang penuh pamer, jadikan Kami hamba-Mu yang sederhana namun mulia, kaya dengan syukur, dan abadi dengan amal kebaikan.”
Budaya Flexing boleh jadi menggiurkan, tetapi pada akhirnya ia hanya meninggalkan kehampaan. Sebaliknya, kesederhanaan, syukur, dan karya nyata akan membuat nama Kita dikenang sepanjang masa, bukan karena apa yang Kita pamerkan, tetapi karena “Apa yang Kita berikan”.
Dengan demikian, tulisan ini bukan sekadar kritik terhadap Budaya Flexing, melainkan ajakan untuk kembali pada “Kesederhanaan, Spiritualitas, dan Martabat Sejati”. Itulah jalan yang lebih membahagiakan, menenteramkan, dan bermakna bagi kehidupan dunia maupun akhirat.
Kesederhanaan adalah sikap atau kualitas tidak berlebihan, bersahaja, lugas, dan hemat sesuai kebutuhan, yang dapat diterapkan dalam gaya hidup, perilaku, dan pikiran. Ini mencakup menahan diri dari kemewahan, arogansi, dan hal-hal yang tidak perlu, serta fokus pada hal-hal yang benar-benar penting untuk mencapai keseimbangan dan ketenangan batin.
Salam Budaya dan Literasi..!
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica
