independennews.id — Selama puluhan tahun, sistem pendidikan Kita seolah terjebak dalam paradigma angka. Anak-anak Kita dihargai karena rapor yang rapi, nilai ulangan yang tinggi, atau ranking kelas yang membanggakan. Orang tua merasa puas, Guru pun lega, seakan-akan misi pendidikan telah paripurna. Padahal, di luar pagar sekolah seperti : di Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja bahkan di Perguruan Tinggi papan atas, angka-angka itu kerap tidak lagi relevan.
Sebuah riset internasional menunjukkan, nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) atau angka rapor hanya menempati peringkat ke-17 dari sekian banyak faktor yang dipertimbangkan oleh industri global. Enam belas faktor di atasnya justru menyangkut hal-hal yang sering dipandang remeh di ruang kelas:
“Portofolio kompetensi, komunikasi, integritas, kerja sama, kejujuran, daya tahan, serta kemampuan beradaptasi”.
Dunia nyata menuntut manusia yang utuh, bukan sekadar mesin penghafal yang mahir menjawab soal ujian.
Filosof pendidikan John Dewey pernah menegaskan bahwa “education is not preparation for life; education is life itself.” Pendidikan bukanlah latihan untuk hidup, melainkan kehidupan itu sendiri. Maka, menilai anak hanya dari angka berarti mengkerdilkan potensi kemanusiaannya.
Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd., Tokoh Pendidikan dan Kebudayaan Kontemporer, menambahkan bahwa : “Sistem Penilaian yang adil dan bermartabat adalah Sistem yang memberi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan jati diri, kreativitas, inovasi dan kemanusiaannya.” Pendidikan, dengan demikian, harus menjadi ruang tumbuh, bukan sekadar arena seleksi angka.
Realitas yang Kontras

Ironisnya, di sekolah-sekolah dasar hingga menengah (TK, SD, SMP, SMA/SMK) di seluruh Nusantara, angka dan peringkat masih menjadi primadona. Angka atau Nilai dan Rangking pada Laporan Pencapaian Hasil Belajar (Rapor) yang tinggi dianggap identik dengan keberhasilan, sementara anak-anak yang unggul dalam kejujuran, kepemimpinan, empati, atau kreativitas kerap terpinggirkan. Padahal, nilai sejati pendidikan terletak pada kemampuan Peserta Didik untuk hidup bermakna, menghadapi tantangan, dan memberi kontribusi bagi lingkungannya.
Saatnya Mereformasi Sistem Penilaian
Kita tidak bisa lagi berlama-lama bernostalgia dengan paradigma lama. Reformasi Sistem Penilaian harus dilakukan dengan menggeser fokus dari sekadar angka menuju “Portofolio Kemanusiaan”.
Beberapa langkah konkret yang dapat diambil antara lain:
- Mengintegrasikan Penilaian Portofolio Kompetensi. Setiap peserta didik diberi ruang membangun rekam jejak karya, inovasi, dan kontribusinya baik di bidang akademik maupun non-akademik.
- Meningkatkan Asesmen Karakter dan Soft Skills. Penilaian berbasis observasi terhadap integritas, kerja sama, komunikasi, kepemimpinan, dan empati harus dilembagakan.
- Mengembangkan Sistem Penilaian Otentik. Bukan hanya tes pilihan ganda, tetapi studi kasus, proyek nyata, presentasi, hingga keterlibatan sosial.
- Melatih Guru Menjadi Asesor Holistik. Guru perlu dibekali kompetensi untuk menilai lebih dari sekadar angka, yakni menilai proses, sikap, dan ketekunan.
- Membangun Sinergi dengan Dunia Kerja. Dunia pendidikan harus terkoneksi dengan dunia usaha dan industri untuk memastikan bahwa kompetensi yang dinilai sejalan dengan kebutuhan nyata.

Filosofi Perubahan
Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Jika demikian, tugas Kita bukan menumpuk angka di rapor, melainkan menuntun anak-anak agar siap menghadapi masa depan dengan jati diri yang kuat.
Reformasi Sistem Penilaian bukan sekadar urusan teknis, melainkan sebuah revolusi paradigma yaitu:
Dari mengukur angka menuju menumbuhkan manusia.
Dari obsesi pada ranking menuju apresiasi pada kemanusiaan.
Pertanyaan mendasar kini mengemuka:
Apakah Kita siap mengantarkan anak-anak Kita menuju masa depan mereka, ataukah masih ingin terjebak bernostalgia dengan masa lalu?
Jawaban atas pertanyaan ini menentukan nasib pendidikan Kita. Jika berani berubah, kita akan melahirkan Generasi yang tidak hanya “Cerdas secara Kognitif, tetapi juga Tangguh, Beradab, dan Bermartabat”.
Generasi yang bukan sekadar mengejar Angka, tetapi “Membangun Makna Kemanusiaan yang Paripurna”.
Salam Budaya Literasi..!
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica
