independennews.idSebagai Bangsa yang Besar, Indonesia membutuhkan simbol-simbol pendidikan yang tidak hanya “inspiratif, tetapi juga hati-hati dalam pemilihan bahasa”. Lagu Mars Guru Penggerak sejatinya merupakan media internalisasi semangat, motivasi, dan nilai perjuangan. Karena itu, kalimat yang digunakan perlu meneguhkan Martabat Guru sekaligus menegaskan keberpihakan pada Murid.

Kalimat “Guru Penggerak Menghamba pada Murid” dalam lagu Mars Guru Penggerak dapat dimoderasi menjadi diksi yang lebih elegan, misalnya:

  • “Guru Penggerak Membimbing Murid”
  • “Guru Penggerak Menuntun Murid”
  • “Guru Penggerak Setia pada Tugas Profesional ”
  • “Guru Penggerak Memerdekakan Murid”

Dengan begitu, filosofi Ki Hadjar Dewantara tetap terjaga, yakni berpihak pada Murid tanpa harus mengorbankan Martabat Guru di hadapan Murid dan Masyarakat.

Jalan Tengah: Menyelaraskan Filosofi dan Praktik

Kita tentu memahami bahwa maksud utama pendidikan berorientasi Murid adalah menghadirkan “pembelajaran yang memerdekakan”. Guru dituntut tidak lagi hanya mengajar dengan metode satu arah, melainkan membuka ruang dialog, partisipasi, dan eksplorasi. Inilah yang sejalan dengan prinsip Merdeka Belajar dan visi Kurikulum Merdeka.

Namun, pemilihan diksi “menghamba” sebaiknya diganti dengan istilah yang lebih bersifat empatik ketimbang subordinatif. Guru bukan pengikut buta, melainkan “Mitra Belajar Murid” yang berperan sebagai fasilitator, motivator, sekaligus inspirator.

Resonansi dengan Era Digital dan AI

Di era digital dengan kehadiran Artificial Intelligence dan Deep Learning, peran Guru justru semakin strategis. Mesin bisa belajar dari data, tetapi “Manusia belajar dari nilai, pengalaman, dan nurani”. Guru di era digital tidak boleh kehilangan kendali hanya karena istilah yang bias. Sebaliknya, Guru harus tampil sebagai “Navigator Peradaban” yang mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi bagi kemajuan Murid.

Dengan paradigma ini, hubungan Guru dan Murid dapat dipahami sebagai relasi kolaboratif, bukan relasi hierarkis yang timpang, apalagi bernuansa “Perbudakan.” Murid tetap menjadi pusat pembelajaran, tetapi Guru menjadi pemandu utama yang menjaga arah agar murid tidak tersesat dalam derasnya arus informasi digital.

Pendidikan untuk Semua: Menjawab Amanat Konstitusi

Pendidikan Indonesia tidak boleh terjebak pada jargon. Amanat Pembukaan UUD 1945 jelas : “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Itu artinya, pendidikan harus:

  1. Adil: memberi akses yang sama bagi semua anak, dari kota hingga pelosok.
  2. Bermartabat: menjaga kehormatan guru sebagai profesi profesional.
  3. Berorientasi masa depan: melahirkan generasi yang adaptif di era digital.
  4. Berakar budaya: tidak melupakan nilai adab, sibaliparriq atau gotong royong, dan kearifan lokal.

Jika keempat hal ini dilaksanakan, maka pendidikan Indonesia akan menjadi model global yang disegani dunia internasional sekaligus membanggakan rakyatnya sendiri.

Menggenggam Makna dengan Bijak

Polemik kalimat “Guru Menghamba pada Murid” seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa “bahasa adalah kekuatan”. Kata bisa membangun semangat, tetapi juga bisa meruntuhkan Martabat. Karena itu, dalam dunia pendidikan, setiap diksi harus dipilih dengan teliti, agar tidak menimbulkan tafsir yang merugikan.

“Guru adalah Penggerak, Murid adalah Generasi Penerus, dan Pendidikan adalah Jalan Menuju Peradaban”. Mari kita rawat makna pendidikan dengan “bahasa yang menyejukkan, nilai yang memerdekakan, dan praktik yang memberdayakan”. Dengan begitu, cita-cita besar Indonesia untuk melahirkan Generasi Emas di era digital akan semakin Nyata, Bermartabat, dan Membanggakan.

Berikut Liriknya :

“Mars Guru Penggerak”

Bulatkan tekad kuatkan hati
Negeri ini memanggilmu kawan
Belajar bergerak berbagi untuk negeri
Guru penggerak majukan pendidikan

“Guru penggerak menghamba pada murid”

Kreatif rancang pembelajaran
Hargai potensi tingkatkan prestasi
Lahirkan profil pelajar Pancasila
Belajar bergerak berbagi untuk negeri
Kita menjalin kolaborasi
Belajar bergerak berbagi untuk negeri
Demi bhakti pada ibu pertiwi.

Salam Literasi..!
Merdeka..!
Penulis : Sjahrir Tamsi (Pemerhati Pendidikan Kontemporer)
Editor : Usman Laica

By admin