Tulisan ini adalah kumpulan refleksi, opini, dan renungan sebagai Penulis dan Pemerhati Pendidikan.
Sjahrir Tamsi, Purnabakti ASN-PNS, Guru-Kepala Sekolah-Pengawas.
independennews.id — Berangkat dari kesadaran sebagai Penulis dan Pemerhati Pendidikan bahwa Profesi Guru bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan “Panggilan Jiwa”. Dalam dunia yang terus berubah akibat digitalisasi dan globalisasi, “Guru tetaplah Lentera Zaman, Pembimbing Generasi, dan Penentu Arah Masa Depan Bangsa”.
Menjadi Guru: Panggilan Jiwa

Menjadi Guru adalah Amanah dan sekaligus jalan Keberkahan. Guru tidak hanya berperan mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai moral, dan membimbing Anak Didik untuk menjadi pribadi yang utuh. Panggilan jiwa ini membuat seorang Guru tetap bertahan meski menghadapi tantangan kesejahteraan, beban administrasi, dan pergeseran motivasi di masyarakat.
Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan: “Guru adalah Teladan dan Pamong yang menuntun kodrat anak-anak agar mereka bisa tumbuh sesuai zamannya.” Kalimat ini menjadi penegas bahwa Profesi Guru tidak dapat digantikan mesin atau teknologi secanggih apa pun, karena perannya menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendalam.
Tantangan dan Realita

Profesi Guru sering dianggap kurang menjanjikan secara materi. Namun, Guru yang berangkat dari Panggilan Jiwa akan menemukan kekuatan untuk bertahan. Tantangan yang dihadapi di antaranya :
- Kesejahteraan yang masih belum merata.
- Beban Kerja Administratif yang kerap mengurangi fokus mengajar.
- Perbedaan Motivasi antar Pendidik; ada yang semata mengejar gaji, ada pula yang benar-benar mengabdi.
Namun, Guru yang menjadikan Profesinya sebagai Pengabdian akan tetap Enjoy dan menemukan makna dalam setiap langkahnya.
Guru di Era Digital dan Globalisasi

Di era digital, informasi memang mudah diakses Anak Didik melalui Gawai.
Gawai, istilah baku bahasa Indonesia untuk Gadget dalam bahasa Inggris, kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak dan remaja. Dari Smartphone, Laptop, hingga Jam Tangan Pintar. Gawai dirancang untuk mempermudah aktivitas manusia. Tetapi, Guru tetaplah sumber Teladan Moral dan Spiritual. Anak Didik bisa belajar sains dari Gawai ataupun Internet, tetapi hanya dari Guru mereka belajar bagaimana menjadi manusia “Beradab, Berempati, dan Berakhlak”.
Buya Hamka, mengingatkan : “Ilmu itu bukan untuk menjadikan Kita sombong, tetapi untuk menjadikan Kita semakin Tunduk kepada Allah.” Inilah nilai yang harus terus dijaga Guru agar ilmu tidak hanya melahirkan Kecerdasan Intelektual, tetapi juga Kecerdasan Hati dan Iman.
Menjadi Guru adalah Jalan Keberkahan

Islam mengajarkan bahwa ada tiga amal yang tidak terputus meski manusia wafat : 1) Sedekah jariyah, 2) Doa anak saleh, dan 3) Ilmu yang bermanfaat. Dengan Profesi Guru, ketiganya dapat diraih sekaligus.
Guru memang tidak selalu “Kaya Harta, tetapi ia “Kaya Pahala, Kaya Doa, dan Kaya Keberkahan”.
Dari tangan seorang Guru lahir para Dokter, Insinyur, Pemimpin Bangsa, hingga Ulama. Karena itu, Profesi Guru tidak boleh dipandang sebelah mata, melainkan harus “Dihormati sebagai Fondasi Peradaban”.
Menjadi Guru adalah “Keniscayaan Sejarah dan Peradaban”.

Tanpa Guru :
Tidak akan ada Generasi Cerdas, dan
Tidak akan ada Bangsa yang Beradab.
Profesi Guru adalah “Jalan Mulia yang Dituntun oleh Panggilan Jiwa dan Dipenuhi Berkah dari Allah SWT”.
Selama Guru menjalankan Profesinya dengan ketulusan, ia sejatinya sedang menulis sejarah. Bukan dengan tinta, melainkan dengan kehidupan Anak Didiknya. Dan dari setiap ilmu yang diajarkan : ” Niscaya, Lahirlah Keberkahan yang akan Terus Mengalir hingga Akhir Hayat. In Sha Allah”.
Penulis: Sjahrir Tamsi
(Pemerhati Pendidikan)
Editor: Usman Laica
