independennews.id Dalam sejarah pemikiran Islam, sering muncul perdebatan klasik mengenai mana yang lebih utama : seorang kaya yang bersyukur dan menggunakan hartanya untuk kepentingan orang banyak, atau seorang miskin yang sabar dalam menghadapi kekurangannya. Perdebatan ini sejatinya bukan sekadar soal status sosial, tetapi menyentuh esensi iman, amal saleh, dan kontribusi nyata seorang Muslim dalam membangun kehidupan bersama.

Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sejati adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini memberi makna bahwa kaya sejati bukanlah soal berapa banyak harta yang dimiliki, melainkan bagaimana hati itu tetap lapang, bersyukur, dan menyalurkan karunia Allah untuk kemaslahatan umat.

Islam Tidak Memuji Kemiskinan, Tetapi Memuliakan Kesabaran

Islam memuliakan orang miskin yang tetap sabar, tidak berputus asa, dan menjaga kehormatan dirinya. Al-Qur’an menegaskan:

“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46).

Namun, menjadikan kemiskinan sebagai sesuatu yang dipuja justru tidak sejalan dengan ajaran Islam. Rasulullah SAW sendiri pernah berdoa agar dilindungi dari kefakiran:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Doa ini menunjukkan bahwa kefakiran bisa mendekatkan seseorang pada kekufuran, jika tidak diimbangi dengan keimanan yang kuat. Karena itu, Islam mengajarkan agar umatnya berusaha keluar dari jerat kemiskinan, bukan menjadikannya identitas yang dipelihara.

Kekayaan yang Disyukuri, Kunci Kemajuan Umat

Islam menekankan pentingnya bekerja keras dan mencari rezeki. Allah berfirman:

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Kekayaan yang diperoleh secara halal, kemudian disyukuri dan digunakan untuk kepentingan umat, adalah amal saleh yang sangat besar nilainya. Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni).

Dengan zakat, infak, sedekah, dan wakaf, umat Islam yang kaya mampu membebaskan sesama Muslim dari jeratan kemiskinan. Bahkan, zakat produktif—misalnya berupa modal usaha bagi kaum dhuafa—dapat mengubah penerima menjadi pemberi, sehingga roda kebaikan terus berputar.

RelevansiKekinian: Filantropi Islam dan Kesejahteraan Umat

Di era modern, konsep kaya yang bersyukur dapat diwujudkan melalui berbagai gerakan filantropi Islam. Misalnya:

  1. Zakat Produktif
    Banyak lembaga zakat kini mengelola dana umat bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga pemberdayaan. Contohnya, petani diberi modal bibit dan alat, nelayan diberi kapal atau jaring, dan pelaku UMKM diberi pendampingan usaha.
  2. Wakaf Pendidikan
    Wakaf tidak hanya berbentuk tanah untuk masjid, tetapi juga bisa berupa wakaf tunai yang digunakan membiayai sekolah, universitas, rumah sakit, dan penelitian. Universitas Al-Azhar di Mesir, misalnya, berdiri megah karena sistem wakaf yang kuat.
  3. Gerakan Ekonomi Syariah
    Lahirnya bank syariah, koperasi syariah, hingga fintech syariah dan organisasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) adalah contoh bagaimana umat Islam membangun instrumen ekonomi yang sesuai syariat sekaligus mensejahterakan.
  4. Sedekah Digital
    Dengan teknologi, sedekah kini bisa dilakukan secara cepat dan global. Aplikasi donasi memudahkan umat Islam menyalurkan hartanya kepada mereka yang membutuhkan, dari bencana alam hingga beasiswa pendidikan.

Semua ini membuktikan bahwa kekayaan yang dikelola dengan syukur dapat menjadi pilar kemajuan umat Islam, sekaligus menjawab tantangan zaman.

Menyatukan Syukur dan Sabar

Sesungguhnya, syukur dan sabar bukanlah dua hal yang dipertentangkan. Keduanya adalah sikap hidup seorang Muslim dalam kondisi yang berbeda. Yang miskin dituntut sabar, menjaga kehormatan diri, dan terus berusaha. Yang kaya dituntut untuk bersyukur, tidak sombong, dan menggunakan hartanya di jalan Allah.

Seorang miskin yang sabar mendapat pahala, tetapi seorang kaya yang bersyukur dapat memberi manfaat luas bagi masyarakat. Dalam konteks kekinian, umat Islam lebih tepat diarahkan untuk tidak hanya bertahan dengan kesabaran, tetapi juga bangkit mengejar ilmu, teknologi, dan kesejahteraan.

Dengan demikian, maka perdebatan klasik mengenai “Kaya yang Bersyukur” atau “Miskin yang Sabar” sebenarnya bukan untuk dipilih salah satunya, tetapi untuk dihayati secara utuh. Islam tidak menganjurkan kemiskinan, melainkan mendorong umatnya untuk Bekerja, Berkarya, dan Mengelola Rezeki Allah dengan Penuh Syukur.

Umat Islam saat ini harus bangkit dari keterbelakangan dengan cara: Memperkuat pendidikan, Mengembangkan ekonomi berbasis syariah, Memperluas zakat, infak, sedekah, dan wakaf, serta Menumbuhkan budaya kerja keras dan keikhlasan.

Dengan begitu, amal saleh bukan hanya dalam bentuk ibadah individual, tetapi juga kontribusi nyata dalam menciptakan kemakmuran bersama. Inilah jalan menuju umat yang Kuat, Berdaya, dan Firidhai Allah SWT.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia…” (QS. Al-Qashash: 77).

Sesungguhnya semua ketulusan berawal dan bermula dari “Hati” yang ikhlas untuk bisa menerima segala sesuatu apa adanya dan mensyukuri apa yang ada. Tugas Kita sebagai Manusia adalah mengangkat kedua tangan dengan senantiasa berdo’a, biarkan Allah SWT yang turun tangan untuk mengabulkannya.

Oleh karena, Amal yang paling disukai oleh Allah SWT yaitu : ketika seseorang (Kita) ini senantiasa memberikan harmoni atau keselarasan, keseimbangan dan keserasian, serta kebahagiaan dan kedamaian kepada orang lain atau kepada berbagai elemen, sehingga mereka pun bisa terlepas dari semua keruwetan dan masalahnya.
Mari berbagi dan menebar Adab yang baik berupa kedamaian dengan penuh keikhlasan, minimal senyum manis kepada semua orang agar adab dan kedamaian diantara Kita tetap terjaga.
Semoga Kedamaian Senantiasa Bersemayam Di Hati Kita Semua.
“May Peace Abide in Our Heart.”

Penulis: Sjahrir Tamsi
Editor: Usman Laica

By admin