independennews.id Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, Kita sering kali tergoda untuk mengejar yang serba instan dan modern. Padahal, pendidikan sejati bukanlah sekadar tentang teknologi terbaru, angka-angka capaian akademik, atau sertifikat kompetensi. Pendidikan adalah perjalanan membentuk manusia seutuhnya : yang berpikir cerdas, berhati nurani, dan berakar kuat pada budaya bangsanya.

“Pendidikan tanpa budaya hanyalah pengajaran kering; budaya tanpa pendidikan hanyalah tradisi beku”.
Keduanya harus berjalan beriringan, saling menghidupkan, agar lahir generasi yang bukan hanya pandai, tetapi juga beradab.

Menghidupkan Kembali Ruh Pendidikan

Hari ini kita dihadapkan pada fenomena anak-anak yang semakin akrab dengan Gawai.

Gawai adalah bahasa Indonesia baku untuk istilah Inggris Gadget, yang merujuk pada alat atau perangkat elektronik berukuran relatif kecil, memiliki fungsi praktis, dan dirancang dengan teknologi canggih untuk mempermudah kehidupan sehari-hari, seperti smartphone, laptop, dan jam tangan pintar. 

Terdapat fenomena anak yang tumbuh tanpa perhatian penuh dari Orang tua maupun Guru kini semakin terlihat nyata. Gawai yang awalnya dimaksudkan sebagai alat bantu justru berpotensi menjadi “Orang tua kedua” yang mengambil alih fungsi kasih sayang.

“Jika kita tidak waspada, anak-anak akan menjadi Yatim Piatu digital”.
Mereka bukan kehilangan Ayah dan Ibu secara fisik, tetapi kehilangan kasih sayang karena perhatian Orang tua maupun Guru tergantikan oleh “Gawai,” dan semakin jauh dari pelukan orang tua. Mereka bisa bercakap dengan dunia maya berjam-jam, tetapi kesulitan menyapa tetangga dengan ramah. Inilah tanda bahwa pendidikan kita tengah kehilangan ruhnya.

Kita lupa bahwa anak bukan sekadar objek pembelajaran, melainkan manusia yang punya hati dan rasa. Guru dan Orang tua seharusnya hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Pendidikan sejati tumbuh dari kasih sayang, keteladanan, dan sentuhan hati nurani.

Budaya Sebagai Akar yang Meneguhkan

Bangsa Indonesia kaya dengan kearifan lokal. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, budaya Nusantara mengajarkan sopan santun, gotong royong, dan penghormatan terhadap Orang tua maupun Alam. Sayangnya, nilai-nilai luhur ini perlahan memudar, tergeser oleh budaya digital yang serba cepat dan sering kali dangkal.

Padahal, Ki Hajar Dewantara sudah lama mengingatkan: “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”

Artinya, pendidikan dan budaya harus menyatu. Anak didik tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga lembut hatinya, santun perilakunya, dan bijak sikapnya.

Jalan Menuju Indonesia Emas 2045

Refleksi ini mengingatkan kita semua : bila ingin menyongsong Indonesia Emas 2045, kita tidak boleh hanya membesarkan generasi dengan teknologi, tetapi juga dengan kasih sayang dan nilai budaya :

  1. Guru harus kembali mengajar dengan hati, tidak sekadar mengandalkan perangkat digital.
  2. Orang tua harus kembali hadir sepenuhnya, membesarkan anak dengan pelukan, bukan hanya dengan gawai.
  3. Masyarakat Adat dan Tokoh Agama harus terus menyalakan api moral dan spiritual di tengah perubahan zaman.
  4. Pemerintah harus memastikan kebijakan pendidikan selalu berpijak pada akar budaya bangsa, bukan sekadar mengikuti tren global.

Renungan untuk Kita Semua

Pendidikan adalah perjalanan panjang membangun peradaban. Bila kita ingin generasi mendatang tumbuh menjadi manusia seutuhnya, maka kita harus mengembalikan pendidikan pada hakikatnya yakni : “Kasih Sayang, Moral, dan Kearifan Lokal”.

Seperti pepatah Jawa mengatakan : “Witing tresna jalaran saka kulina” : Cinta tumbuh karena terbiasa. Bila anak-anak kita terbiasa dipeluk dengan kasih sayang, dibimbing sesuai dengan budayanya, dan dituntun dengan moral, maka niscaya mereka pun akan tumbuh menjadi “Generasi Emas yang Berkarakter Kuat, Beradab, dan Berdaulat.

Refleksi ini adalah ajakan bagi kita semua: Guru, Orang tua, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Pemerintah, dan Masyarakat sipil untuk bersama-sama menjaga Ruh Pendidikan dan menghidupkan kembali Budaya Bangsa demi Masa Depan Indonesia yang Beradab menuju Indonesia Emas 2045.

Salam Budaya Literasi..!
Penulis : Sjahrir Tamsi
Editor : Usman Laica

By admin